Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Menyukai Gadis Yang Sama.


__ADS_3

Four Star memutuskan untuk pulang ke apartemen Rizky. Mereka merasa malas pulang ke istana besar mereka. Davit sendiri lebih sering tidur di apartemen Rizky dari pada di rumah. Ibunya adalah orang sibuk, di rumah besarnya hanya ada pelayan. Davit merasa bosan dan kesepian, jadi lebih memilih tidur bersama Rizky di apartemen.


Rizky sendiri memilih tinggal di apartemen karena ingin mandiri. Lagipula di rumah sudah ada kakaknya yang akan menemani orang tuanya. Sedangkan Farel dan Galih memang suka keluyuran. Mereka sesuka hati pulang atau tidak, kadang saja mereka lebih memilih menginap di hotel.


Ceklek!


Mereka berempat sangat terkejut begitu membuka pintu apartemen. Di depan pintu sudah berdiri tiga perempuan paruh baya yang menatap mereka nyalang.


"Sini Kamu! " salah seorang wanita itu langsung menjewer telinga Galih.


Galih mengaduh kesakitan. "Aduh, Mi! Sakit Akh...! "


Wanita paruh baya itu menyeret Galih masuk ke dalan apartemen. Sedangkan dua wanita lagi masih berdiri berkacak pinggang menatap Rizky, Farel, dan Davit. Davit tersenyum tipis.


"Bunda! Aaa, Davit kangen banget sama Bunda, " Davit memeluk satu di antara dua wanita itu.


Wanita membalas pelukan Davit. "Bunda juga kangan banget sama Kamu. Kamu, ke mana aja? Kenapa nggak pernah main ke rumah Bunda lagi? "


"Maafin Davit, Bun. Belakangan Davit sibuk sama tim basket Davit, " ucap Davit berasalan.


Risky menatap ibunya yang memeluk Davit dengan sorot tajam. Setiap kali Bunda-nya itu bertemu Davit, maka dia pasti akan diabaikan. Rasanya seperti dia adalah anak pungut sedangkan Davit anak kandung. Lihatlah Bunda -nya itu, padahal tadi jelas sekali bahwa dia akan marah-marah. Tapi begitu Davit memeluknya, dia langsung berubah manis.


"Ck, menyebalkan! " gumam Rizky.


"Masuk, Riz! Kamu ngapain bengong di situ?! "


Rizky langsung sadar dari lamunannya begitu mendengar sentakan dari Bunda-nya itu. Ternyata Mereka semua sudah masuk ke dalam, hanya tinggal dia sendiri dj depan pintu. "Sebenarnya siapa anaknya di sini? " tanya Rizky tak habis pikir.


Sesampainya di dalam, terlihat Galih yang sedang bertengkar dengan Sofia, mami-nya. Berbeda dengan Farel dan Nori, ibu dan anak itu justru saling diam memalingkan wajah dan sama-sama bersedekap dada. Sedangkan Davit, pemuda itu justru nampak bermanja-manja pada Claudia, bunda dari Rizky. Ck, Rizky berdecak melihatnya.


"Kalian ini, rumor itu sudah menyebar dan kalian justru bersikap santai seperti?! " Sofia menatap Galih dan teman-temannya dengan tajam.


"Bukannya rumornya udah lenyap? Papi nggak mungkin tinggal diam, Mami berlebihan, " balas Galih dengan santai.


Sofia langsung berkacak pinggang. "Berlebihan apanya?! Jika bukan karena kalian yang tidak punya pacar, memangnya rumor ini akan terjadi? " murka Sofia menatap Galih dengan sangat tajam.


"Nggak ada hubungannya, Mi! " sahut Rizky.

__ADS_1


Mereka semua memang sudah seperti keluarga. Four Star menganggap ibu dari yang lainnya adalah ibunya sendiri. Wajar jika Rizky memanggil Sofia dengan sebutan Mami. Dan Davit yang begitu dekat dengan Caludia.


Ranny adalah wanita karir yang begitu sibuk akan jadwal-jadal syutingnya hingga kerap kali mengabaikan perhatiannya pada Davit. Hal inilah yang membuat Davit lebih dekat dengan Claudia karena ibu kandung Rizky itu adalah wanita yang lembut dan perhatian. Sama seperti Rizky yang juga memiliki sifat lembut.


Claudia begitu menyayangi Davit seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Davit sendiri juga tak jarang menginap di rumahnya sehingga hubungan mereka semakin baik layaknya ibu dan anak.


"Jelas-jelas ada! Coba saja kalian ini tidak menjomblo terus, maka rumor-rumor itu tidak akan beredar. Mereka berani menyimpulkan bahwa kalian g*y itu karena kalian tidak pernah dekat dengan perempuan manapun! " ujar Sofia dengan keras.


"Mam, Bukankah papi sudah membereskannya. Mami tidak perlu khawatir sekarang, " ucap Rizky dengan tersenyum. Ia tahu bahwa Tommy lah yang sudah membereskan rumor-rumor itu. Papi dari Galih itu memang tak pernah tanggung-tanggung saat bertindak.


Mereka semua kini tengah duduk di sofa. Davit tersenyum tipis melihat perdebatan para ibu dan anak di depannya. Pikirannya langsung tertuju pada Ranny, Mommy-nya itu tidak ada di sini. Pasti ia sibuk dengan pekerjaannya. Huh, ada rasa iri melihat teman-temannya begitu diperhatikan oleh ibu mereka. Sedangkan Davit, Ranny bahkan tidak meneleponnya hanya untuk menanyakan kabar. Ranny benar-benar melupakannya.


Claudia menatap Davit yang tersenyum kecut. Tangannya tergerak untuk menggenggam tangan Davit hingga sang empu tersentak kaget. Claudia memberikan senyum manis pada Davit.


"Momymu tadi menelepon Bunda. Dia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi dia meminta Bunda untuk memastikanmu baik-baik saja, " ucap Claudia.


"Davit baik-baik saja, Bunda. " Davit tersenyum. Ia tahu Claudia mengatakan itu hanya untuk menghiburnya.


"Pokoknya Mami nggak mau tahu! Kalian harus punya pacar! "


Semua orang menatap Sofia terkejut. Namun tidak untuk Claudia dan Nori. Mereka bertiga memang sudah merencanakan ini. Mereka ingin anak-anak mereka segera punya pacar agar rumor-rumor itu benar-benar hilang.


"Pokoknya kalian harus punya pacar! Kalian harus cari pacar yang cantik, feminim, dan tentunya yang sepadan dengan kita. Nggak boleh cari gembel di pinggir jalan, " seru Sofia.


"Siapa juga yang akan memacari gembel! " gumam Galih.


"Yang dikatakan Mami kalian itu benar! Jika kalian tidak bisa cari pacar secepatnya, biar Bunda yang carikan, " sahut Claudia. Ia menatap para anak-anaknya itu dengan senyuman lembut.


"Ayolah, Bun. Kita sedang tidak ingin pacaran, " ucap Rizky mengeluh.


"Dari dulu kamu selalu mengatakan seperti itu. Jangan-jangan kamu memang g*y? "


"Bun! Masa Bunda, nggak percaya sama aku?! " kesal Rizky karena Bundanya itu justru percaya pada rumor.


"Ya, makanya buktikan dong kalau kalian itu normal! " balas Claudia tak mau kalah.


Pada akhirnya mereka berempat tidak bisa membantah ucapan wanita-wanita terkasih mereka itu. Membantah sama saja cari masalah. Ibu-ibu mereka itu maha benar dan Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


Farel yang sejak tadi diam kini melirik ibunya yang juga diam sejak tadi. "Mama nggak mau mengatakan sesuatu? "


Nori memalingkan wajah acuh. "Memangnya anak nakal sepertimu akan mendengarkan wanita tak berdaya sepertiku? "


Farel menghelas nafas mendengar ucapan Nori.


Beginilah Nori, saat marah ia justru lebih memilih diam dan bertindak layaknya orang terzolimi. Farel dan papanya sampai dibuat prustasi setiap kali Nori merajuk. Jika Nori marah, maka ia tidak mau bicara, tidak mau makan, dan bersikap acuh. Itu sebabnya Farel dan papanya enggan berurusan dengan Nori. Takutnya jika marah dan tidak mau makan justru akan sakit.


"Terserah, Mama. Asalkan Mama jangan lupa makan, " ucap Farel.


"Mama akan makan kalau kamu cari pacar secepatnya. "


"Iya, " balas Farel agar masalah cepat selesai.


*


*


*


Malam kian larut. Sofia, Nori, dan Claudia telah pulang. Empat remaja itu kini sedang duduk berjejer di sofa panjang. Mata mereka fokus menatap televisi namun pikiran mereka melayang pada kejadian siang tadi.


"GUE BAKAL JADIIN EGY PACAR GUE! "


Mereka saling tatap sesaat setelah mengucap kata yang sama secara bersamaan. Mereka sama-sama terkejut karena telah mengatakan hal yang sama. Kenapa bisa bersamaan dan ucapan mereka sama?


"Kalian juga suka sama Egy? " tanya Farel menatap tiga temannya. Terkejut bahwa teman-temannya ternyata menyukai Egy.


Galih memalingkan wajah. "Ya, Gue tertarik sama tuh cewek, " jawabnya. Ia merasa pipinya sedikit memanas.


"Gue juga. Pertama kali lihat Egy, Gue udah tertarik. Pipinya yang menggemaskan itu buat Gue suka, " terang Rizky. Dari awal ia bertemu dengan Egy, dia memang sudah sangat tertarik pada gadis itu. Wajah imut Egy selalu membayanginya setelah kejadian di depan papan mading waktu itu.


"Gue juga, " seru Davit singkat.


Keadaan hening beberapa saat. Mereka sama-sama tak percaya bahwa mereka akan menyukai satu gadis yang sama. Mereka tak pernah membayangkan hal ini. Tak pernah ada dalam benak mereka bahwa mereka akan menyukai satu gadis yang sama.


Egy memang memiliki pesona tersendiri. Sifat bar-bar gadis itu entah mengapa justru menarik perhatian para pemuda tampan ini.

__ADS_1


"Gue suka sama Egy. Gue suka sama tingkahnya dan keberaniannya itu. Gue nggak nyangka bahwa kalian juga suka sama Egy. Ternyata Kita menyukai gadis yang sama, " ucap Farel setelah terdiam beberapa saat.


__ADS_2