
"Gantengan ... si Doni, lah.... "
"APA?! "
Galih melotot dengan tajam. Bisa-bisanya Egy memuji cowok lain di depannya. Apa ia sengaja membuatnya cemburu. Hemm, Galih melupakan bahwa dia yang bertanya tadi dan Egy hanya menjawab. Ya, meskipun jawabannya bohong karena dalam hati ia menjawab bahwa Galih lah yang lebih tampan.
"Apaan sih, Kak? " sewot Egy.
"Jelas-jelas gantengan Gue dari pada dia! " sungut Galih.
Egy memutar bola mata mala. "Huh, Kak Galih nanya, 'kan? Nah, Gue cuman jawab, " ucapnya.
"Yang jujur dong jawabnya! "
"Lah, udah yang paling jujur itu, " sahut Egy. Ia menahan tawa melihat wajah kesal Galih.
Wajah kesal Galih benar-benar layaknya seorang kekasih yang sedang cemburu, terlihat manis. Egy hanya bisa tersenyum kecut, seberapapun manisnya Galih juga tidak akan merubah apapun. Dia tidak akan jatuh cinta padanya.
Lagi-lagi saat bersama salah satu di antara mereka, Egy harus menguatkan hati. Dia harus mengingatkan kepada dirinya untuk tidak jatuh cinta kepada salah satupun.
Egy yang sibuk dalam lamunannya tidak menyadari bahwa Galih semakin mengikis jarak. Pemuda itu mendekat ke arahnya dengan sebelah alis terangkat saat menatap Egy yang nampaknya melamun.
"Lo, lagi mikirin cowok culun itu? "
Egy tersentak, begitu mendongak wajah Galih sudah ada di depan matanya. Hidung mereka hampir bersentuhan. Galih menatapnya dengan tajam membuat hatinya bergetar. Ia sangat gugup sekarang.
"Apaan? Gue nggak mikir apa-apa kok, " jawab Egy yang mengerti bahwa cowok culun yang Galih Galih maksud adalah Doni.
Egy bergerak mundur, ia tidak bisa terus berada dalam posisi ini. Sangat tidak aman untuk keadaan jantungnya. Bagi yang belum pernah berada dalam posisi sedekat ini dengan cowok ganteng pasti nggak tahu rasanya. Egy sering, sampai-sampai jantungnya mungkin akan rusak. Rasanya selalu gugup kalau dekat-dekat dengan orang ganteng.
Dasar, pencinta cogan! Hihihi....
Grep!
Galih menyeringai, ia tak membiarkan Egy menjauh. Satu tangannya ia gunakan untuk menarik pinggang Egy hingga tubuh mereka bertabrakan. Egy melotot, tapi Galih tersenyum. Ia tertawa senang dalam hati, ia tahu Egy sedang gugup saat ini.
"K--kak, jangan kayak g--gini! Di sini banyak orang, " gugup Egy. Ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Galih.
"Ya, tapi tidak ada yang melihat, " balas Galih tanpa mengalihkan pandangannya.
Galih berdusta, bagaimana mungkin tidak ada yang melihat? Jelas-jelas di aula bukan hanya ada dia dan Egy saja. Bahkan sekarang semua anggota osis menatap mereka. Ada yang tersenyum melihatnya, ada juga yang mencibir tak suka.
Dan tentunya Farel juga melihatnya. Tangannya yang sedang memegang pulpen mengepal kuat. Pulpen itu hampir patah. Dengan memburu, ia lemparkan buku dan pulpen yang ia bawa ke sembarangan arah. Dengan langkah lebar dan tergesa ia menghampiri Galih dan Egy.
__ADS_1
Melihat adegan romantis di depannya membuat hatinya sangat panas. Galih mengambil kesempatan. Ck! Dia tidak akan membiarkannya.
Sret!
Farel menarik Egy, memisahkan gadis itu dari dekapan Galih. Tentunya Galih dan Egy tersentak kaget. Galih mendengus kesal melihat Farel.
"Apa-apaan sih, Lo?! "
"Lo, yang apa-apaan?! Ngapain, Lo, peluk-peluk Egy?! " sentak Farel.
"Emangnya kenapa?! " balas Galih menyeringai sinis.
Euh, Egy menepuk jidat lelah. Kedatangan Farel tidaklah membuatnya terselamatkan dari Galih. Justru kini dia harus terjebak dengan perdebatan dua cowok itu. Yang satu narsis banget dan yang satunya cemburuan. Dahlah, Egy capek.
Kegiatan perhitungan suara bahkan sampai berhenti. Semua orang yang berada di dalam aula menatap mereka bertiga. Egy tersenyum canggung saat ada beberapa guru yang ikut menyaksikan.
"Anj*ng! Kayak nggak punya malu ya, Gue!" gumam Egy. Ia juga merutuki guru-guru yang melihat, kenapa mereka seperti tak ada niat untuk menegur sama sekali?
"Nggak boleh!" tegas Farel pada Galih.
Galih berdecih. " Cih! Terus, Lo, boleh gitu? " ucapnya menyentak tangan Egy yang di genggam Farel.
"Gue nggak boleh pegang maka, Lo, juga nggak!"
Farel dan Galih saling melempar tatapan tajam. Kejadian seperti ini saja mampu membuat mereka berdua bersitegang, lalu apakah yang akan terjadi dengan persahabatan mereka lima bulan kemudian? Apakah masih akan baik-baik saja?
"Aduh, jangan berantem dong! Malu tahu, banyak yang nonton! " seru Egy berusaha melerai.
Galih dan Farel menatap Egy dengan tajam. Mereka menghela nafas kasar dan juga masih saling melirik sinis. Untungnya mereka tak sampai baku hantam. Mereka masih waras, di aula banyak orang. Mungkin bisa di tempat lain, hehehe....
*
*
*
Kini semua murid telah kembali duduk di dalam aula. Mereka kini sedang menantikkan detik-detik pengumuman siapa yang akan terpilih untuk menjadi ketua osis.
"Gy, Lo tadi ke mana, sih? " bisik Fika pada Egy.
"Nggak ke mana-mana! " jawab Egy, ia malas menceritkan kejadian tadi.
Fika bergumam, Egy bahkan tidak menanyainya yang pergi makan berdua dengan Agil. Apa Egy tidak curiga gitu? Harusnya, 'kan Egy tanya-tanya sama dia gitu, tadi Lo pergi sama pacar Gue, ya? Kok kalian pergi berdua?
__ADS_1
Harusnya Egy curiga saat melihat dia dan Agil berjalan berisisihan memasuki ruang aula. Fika tak habis pikir, mereka pacaran akan tetapi Egy terkesan cuek.
"Baiklah semua, sepertinya kita semua sudah tidak sabar menantikan hasil akhirnya, " seru Farel dari atas panggung. Ia tersenyum ramah.
"Saya ingatkan sekali lagi, ya! Apapun hasilnya, kalian harus terima dengan lapang dada. Meskipun pilihan kalian tidak menang, tapi kalian tidak boleh kecewa ... apalagi marah. Semuanya berkemungkinan menang di sini, tapi juga bisa kalah. Kalian semua harus berlapang dada, " ucap Farel mengingatkan.
Biar bagaimanapun di antara mereka pasti ada yang berselisih karena berbeda dukungan. Hal ini tidak menutup kemungkinan dapat memancing keributan. Pihak yang kalah bisa berbuat onar karena tak terima sedangkan pihak yang menang bisa memancing keonaran karena menyombongkan diri.
"Baiklah.... Menurut kalian siapa yang akan menang? "
"Fatih! "
"Doni! "
"Beni! "
"Donilah pokoknya! "
"Kya.... Kak Farel ganteng banget! "
"Huuuuuuu! "
Semua orang menyoraki seorang gadis yang justru berteriak mengatakan hal yang di luar topik. Gadis itu kelihatan sekali sangat menyukai Farel sampai-sampai tak punya malu.
Ruang aula mendadak heboh. Farel terkekeh sendiri, dia sebenarnya menyukai suana ramai seperti ini. Sedikit membawa suana baik ke hatinya.
"Sudah-sudah! Kalian tenang, ya! Karena saya akan mengumumkan hasilnya! " seru Farel.
"Jadi yang terpilih menjadi ketua osis adalah ... Doni dari kelas sebelas ipa satu! "
Sontak semua orang bertepuk tangan, meskipun sebagian merasa kecewa. Fika dan Egy ikut bertepuk tangan dan bersorak, sedang Agil hanya duduk diam.
"Yang menjadi wakil ketuanya adalah Fatih dari kelas sepuluh ipa satu! "
"Yang terakhir adalah Beni, kamu bisa pilih jabatan apa yang kamu inginkan. Tapi tidak dengan ketua dan wakil ketua, ya? " ucap Farel pada kandidat yang mendapatkan suara paling sedikit.
Semua orang bersorak. Beramai-ramai mereka menuju atas panggung dan mengucapkan selamat. Seluruh murid-murid hanya bisa bersenang-senang dengan apapun hasilnya sekarang.
Di tengah keramaian itu, tanpa sengaja Egy melihat Galih yang juga tengah menatapnya. Langsung saja Egy melemparkan senyum mengejek hingga membuat Galih melotot.
Senyuman Egy itu seolah menunjukkan pada Galih bahwa keputusan Egy memilih Doni adalah benar.
"Si alan!
__ADS_1