
"Hilih! Kalian, tuh, yang perlu dijauhi. Waktu itu aja Gue hampir jadi piala bergilir kalian! " seru Egy. Ia mengingat kembali bagaimana empat pemuda itu pernah hampir memperk*s*nya.
"Nah, ide bagus! Gimana kalau kita perawanin, Lo, sekarang untuk membuktikan, Lo, itu masih segelan apa nggak, " ujar Galih menyeringai.
Egy langsung melotot. Secara perlahan mereka mendekati Egy dan memojokkannya ke pintu ruangan. Seringaian licik mereka tunjukkan.
"Gimana? Setuju? " Galih menaikkan alisnya.
"AKH BANGS*T! " pekik Egy mendorong mereka menjauh.
"Anj*ng, Lo pada! Gue masih segelan tau! " cetus Egy.
Four Star menghela nafas pelan dan tersenyum kecut. Lega rasanya saat tahu apa yang Egy ungkapkan tadi adalah bohong tapi tetap sakit rasanya. Egy begitu rela mempermalukan diri sendiri demi menjauhi mereka. Sepertinya Egy benar-benar tak ingin bersama dengan mereka ataupun satu di antara mereka.
"Lo, rela memperlakukan diri, Lo sendiri untuk jauhin kita? Hanya satu kesempatan saja, apa tidak bisa? " lirih Rizky.
Egy menghela nafas, sampai akhir mereka tetap keras kepala. Jelas-jelas mereka tahu bahwa Egy ingin menjauh dari mereka tapi mereka justru menahannya. Mereka tak membiarkan Egy lepas.
Egy tak habis pikir, kenapa hanya dalam beberapa hari saja, mereka sudah mencintainya sedalam ini? Bagaimana jika Egy pergi meninggalkan mereka nanti, akankah dengan cepat mereka akan melupakannya?
"Segitunya kalian suka sama Gue? " Egy berusaha terlihat santai. Tak ingin menunjukkan rasa gugup yang menyerangnya sejak tadi.
"Ya! " Mereka mengangguk serempak.
Egy memejamkan mata dan lagi-lagi hanya mampu menghela nafas samar. Berurusan dengan Four Star adalah hal paling rumit yang pernah ia alami.
Empat pemuda dengan karakter berbeda-beda itu seolah memberikan tekanan kuat padanya hingga Egy bahkan rasanya tak kuasa menolak. Sejak awal harusnya ia tak memilih langkah untuk mendekati mereka. Egy menyesal karena ikut campur rencana dendam ini. Benar kata Agil, seharusnya ia hanya diam tak perlu ikut campur.
"Baiklah.... Tapi Gue nggak mau jadi babu kalian lagi, " ucap Egy pada akhirnya.
Senyum merekah mengembang di bibir pemuda-pemuda itu. Semangat yang sempat meredup kini kembali membara. Sekarang, mereka tak perlu sungkan pada Agil karena Egy sendiri telah memberikan kesempatan.
Mereka menggeleng lucu menandakan mereka tak akan menjadikan Egy babu. Mereka berniat menjadikan Egu ratu di hati mereka.
"Gue kasih kalian waktu sampai.... " Egy bingung, ia tak tahu harus memberikan batas waktu sampai kapan pada mereka. Karena belum membicarakan hal ini dengan Agil membuat Egy bingung harus bagaimana.
"Sampai pada hari kelulusan kita berempat! " sahut Farel. "Tepat di hari kelulusan kami nanti, kami ingin, Lo, milih salah satu di antara kami atau nolak kami. "
"Ih, kelamaan lah! Kelulusan aja mungkin masih lima bulanan lagi, " cetus Egy.
__ADS_1
"Bukannya, Lo nggak yakin sama cinta kita yang singkat! Maka kasih kami waktu supaya perlahan bisa membuktikan rasa cinta kami, " terang Rizky.
Mereka belum berdiskusi, tapi Galih, Davit, dan Rizky menyetujui ide Farel. Mereka menyadari bahwa Egy sangat mencintai Agil dan membuat Egy berpaling membutuhkan waktu yang tak singkat. Apalagi pilihan Egy bukan hanya antara dua orang namun lima sekaligus.
Egy bisa memilih Davit atau mungkin Farel. Mungkin juga Rizky atau tak ada juga yang tahu bahwa Egy mungkin memilih Galih yang selalu bertengkar dengannya itu. Atau Egy memilih untuk bertahan dengan Agil? Tak ada yang tahu masa depan.
Four Star menganggap Agil lawan karena mereka tak tahu bahwa hubungan antara Agil dan Egy bukanlah pacaran, namun keluarga.
Mereka terlihat seperti melamar satu orang gadis. Mereka terlihat seperti ingin menjadikan Egy milik bersama. Nyatanya mereka tak ingin berbagi, masing-masing di antara mereka ingin mendapatkan Egy secara utuh dan merebut Egy dari Agil.
"Baiklah. Gue kasih kalian waktu sampai hari kelulusan kalian! " pasrah Egy akhirnya.
Pada akhirnya Egy hanya bisa setuju, ia sadar bahwa ia tak mungkin menang debat melawan mereka. Yang terpenting sekarang adalah Egy harus memperkuat benteng pertahannya agar tidak goyah. Ia tidak boleh jatuh ke dalam pelukan satu di antara mereka.
"Anggap aja ini hadiah dari Gue karena setelah ini kalian akan mendapatkan serangan mematikan secara perlahan. Iblis mulai muncul di permukaan. Huh, Gue nggak akan jatuh cinta sama kalian, tidak satupun! "
Ya, rencana yang telah di susun dengan lama dan matang tak boleh gagal hanya karena rasa yang di sebut cinta.
"Gue juga bakal beri kalian kejutan besar nanti!"
*
*
*
Ia berpikir, keputusannya untuk datang ke ruang osis tadi adalah hal yang salah. Niat hati ingin menyampaikan kabar gembira, ia justru malah terjebak dalam situasi rumit. Kini ia akan semakin lama terus-terusan dekat dengan Four Star. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya dan menekan hatinya agar tidak luluh oleh mereka.
Semoga kali ini keputusannya benar. Ia tak akan jatuh cinta, rencanya tak boleh gagal.
"EGY! "
Egy berbalik, ia melihat Galih yang memanggilnya. Ia diam menunggu Galih menghampirinya.
"Ada apa, Kak? " tanyanya saat Galih telah berdiri di hadapannya.
"Emm.... Dua hari lagi pemilihan ketua osis dan tiga hari lagi akan diadakan perkemahan untuk pelantikan para anggota osis baru. Gue mau, Lo ikut perkemah ini, " jawab Galih.
Egy jadi teringat permintaan Farel malam itu. Ia memang akan ikut perkemahan itu karena Farel.
__ADS_1
"Iya, Gue ikut kok! " balas Egy.
Galih mengernyit. Egy bukan anggota osis sedangkan perkemahan ini hanya untuk para osis dan calon anggota osis. Mungkin beberapa murid-murid lain juga bisa ikut hanya saja harus mendapatkan undangan dari osis. Galih baru saja akan mengajak Egy, tapi ternyata Egy sudah ikut.
Lalu siapa yang mengajak Egy? "
"Gue di ajak Kak Farel. Dia bilang Gue bakal jadi asistennya, " terang Egy mengerti akan Galih yang heran.
Galih tersenyum namun dalam hati ia mengumpat. "Si alan! Gue kalah selangkah dari Farel! "
"Kenapa, Lo mau anj*ng?!" geramnya.
Egy melotot. "Heh, bangs*t! Kenapa, Lo jadi marah? " umpat Egy.
"Ya seharusnya, Lo, nolak! Lo, harusnya nerima ajakan Gue! "sungut Galih.
"Mana Gue tahu kalau, Lo juga mau ngajakin! " balas Egy mendengus kesal.
"Ya, pokoknya, Lo harus nolak dong! "
"Gue nggak bisa putar balik waktu, Kak! "
"Ya, salah, Lo sih! Kenapa coba, Lo terima permintaan dia! "
"Akh, anj*ng! Kan Gue bilang, Gue nggak tahu kalau, Lo juga bakal ngajakin. Lagian Gue sama-sama ikut nggak ada bedanya juga, 'kan?! " Egy berusaha memberi penjelasan.
"Bedalah! Lo, sih malah mau jadi asistennya si Farel! " ketus Galih.
"Kan tadi Gue bil---"
" Lo, salah pokoknya! "
"Bac*t anj**g! "
Egy melotot marah. Entah kenapa Galih masih tetap saja menyebalkan, ia paling bisa membuatnya darah tinggi. Padahal Galih bilang mau membuatnya jatuh cinta, kalau ini mah membuatnya kesal. Stroke Egy lama-lama karena emosi mulu.
Galih tidak berubah. Jika tiga temannya akan berusaha membuat Egy senang dengan melakukan apapun, maka ia berbeda. Dia juga akan melakukan apapun, tapi dia ingin Egy menerimanya apa adanya. Ia ingin Egy menerima segala kekurangannya dan mencintainya sepenuh hati seperti Galih mencintai Egy. Dengan begitu ia baru akan merasa benar-benar bahagia.
"Gue nggak mau tahu! Lo juga harus jadi asisten Gue! "
__ADS_1
"Ih, maksa! "
"Biarin! "