
Hari ini hari diselenggarakannya pemilihan ketua osis baru. Hari ini bisa dikatakan hari bebas sebab tidak akan ada jam pelajaran hari ini. Seluruh murid-murid terlihat antusias mendukung jagoan-jagoan mereka yang mencalon menjadi Ketua Osis dan Wakil Ketua Osis.
Setelah beberapa hari melakukan rentetan acara mulai dari pendaftaran, berkampanye, juga debat kisi misi, kini tibalah hari penentuan siapa yang akan menggantikan Farel dan Galih.
"Lo mau pilih siapa? " tanya Fika, saat ini Fika dan Egy tengah berjalan menuju ruang aula tempat pemungutan suara.
"Belum tahu! " jawan Egy.
"Kayaknya Gue bakal pilih nomor urut dua, dia, 'kan dari kelas kita, " seru Fika.
"Si Doni? "
Fika mengangguk mengiyakan.
Ada tiga calon ketua osis yang mencalonkan diri. Dari ketiga calon itu salah satu adalah teman sekelas Egy, Doni namanya. Si murid teladan yang selalu memakai kacamata.
"Lo, harus pilih Donin pokoknya, biar kelas kita, tuh, tambah terkenal! " ucap Fika.
"Dih, apaan! Terserah Gue lah mau pilih siapa! " cetus Fika.
"Ih, dibilangin ngeyel banget sih! " kesal Fika. "Harus Doni pokoknya! Kalau Doni terpilih, 'kan nanti kelas kita juga yang dapat untung. Biar kelas kita jadi semakin terkenal sebagai tempatnya murid-murid pintar, " sambung Fika.
CTak!
Egy menjitak kening Fika hingga pemiliknya mengaduh sakit. " Nggak boleh sombong, bangs*t!"
"Kasar banget, ihh! " kesal Fika mengusap-usap keningnya.
Mereka terus berjalan, hingga di pertigaan koridoor mereka berpapasan dengan Agil. Raut wajah Fika mendadak gugup, sedangkan Egy tersenyum. Fika menatap Agil yang tidak menampilkan ekspresi apapun.
"Barengan yuk, Kak! " ajak Egy.
"Ayo, " balas Agil.
Egy berjalan bersisihan dengan Agil meninggalkan Fika yang masih diam mematung. Ia menatap Agil dengan ekspresi tak percaya. Bagaimana bisa Agil mengacuhkannya sekarang seolah-olah kematin tak terjadi apapun. Fika saja merasa gugup setengah mati saat berhadapan dengan Agil mengingat kejadian yang mereka alami kemarin.
Kemarin, setelah menarik tangan Fika, Agil membawanya menuju kantin. Saat itu Fika hanya bisa diam mengikuti, biar apapun juga ia merasa takut dengan Agil. Pemuda tampan itu terlihat menyeramkan di matanya.
__ADS_1
Setelah duduk dan memesan makanan, Agil belum juga buka suara. Hal itu menyebabkan Fika semakin gelisah. Ia merasa takut jika seandainya Agil berbuat macam-macam.
"Kak, kenapa kita malah ke kantin? " tanya Fika kala itu.
"Makan! " jawab Agil dengan singkat.
Fika meringis. "Maksud Gue, kanapa harus bawa Gue juga? "
"Kenapa memangnya? " Agil dengan santai memakan makanan yang telah ia pesan. "Gue mau, Lo, temani Gue makan, " imbuh Agil.
Ingat, Agil meminta Fika menemani dia makan bukan ikut makan bersamanya, sebab itulah Agil tak memesankan makanan apapun untuk Fika bahkan minum juga tidak. Kurang peka memang!
" Tapi, Kak, Bagaimana kalau Egy tahu? " tanya Fika dengan menggaruk pelipis cemas.
"Ya, biarin! "
"Kok biarin, sih, Kak? Nanti Egy cemburu lagi! " kesal Fika.
Yang ia tahu Agil adalah pacar Egy. Fika takut Egy marah jika tahu dia makan berdua dengan Agil. Ia tidak mau temannya itu salah paham padanya. Tapi kenapa Agil justru terlihat sangat santai, ia terlihat tidak khawatir sama sekali.
"Biarin! " balas Agil lagi-lagi dengan singkat dan santai. Ia tidak mempedulikan ekspresi Fika yang mulai cemas dan memilih melanjutkan makannya.
"Ya udah, jangan sampai Egy tahu! "
"Lah, emangnya Gue simpanan Lo, sampai harus sembunyi-sembunyi dari Egy?! " geram Fika pada Agil yang berlagak seolah-olah tak paham maksudnya.
Agil meletakkannya sendoknya makan dan mengambil minum lalu menenggaknya. Ia terlihat tidak mempedulikan segala ucapan Fika. Di sini hanya Fika yang terlihat merasa bersalah karena pergi makan berdua dengan Agil tanpa izin dari Egy. sedangkan Agil, pemuda beralis tebal itu terlihat sangat-sangat santai.
"Kalau gitu, gimana kalau, Lo, jadi selingkuhan Gue? Biar kita bisa sembunyi-sembunyi dari dia! " ucap Agil dengan santainya.
"Apa?! "
Mengingat kejadian kemarin membuat Fika melepaskan nafas dengan berat. Entah apa yang terjadi dengan Agil hingga berani mengajaknya berselingkuh. Agil mengajaknya untuk mengkhianati Egy. Mungkin saja Agil tadi bersikap seolah tak terjadi apa-apa karena tidak mau Egy tahu. Huh, Fika juga tak ingin Egy tahu. Bisa rusak pertemanan mereka jika Egy sampai tahu dan salah paham.
Arghh!
Fika mengusak kasar rambutnya saking frustrasinya. Ia bisa gila karena Agil. Andai ia tahu bahwa Agil dan Egy tak benar-benar pacaran.
__ADS_1
*
*
*
Suasana aula terlihat sangat ramai. Di depan sana sudah berjejer tiga kandidat calon ketua osis. Beberapa anggota osis nampak sibuk berlalu lalang sedangkan siswa-siswi lainnya mulai duduk di kursi yang di sedikan.
Agil, Egy, dan Fika berjalan ke arah tiga kursi yang masih kosong di bagian depan. Dari sini mereka bisa menyaksikan acara dengan sangat jelas.
"Malas, " gumam Agil.
Egy menoleh ke arah Agil. "Hih! Sebentar lagi dimulailah acaranya. Kak Agil nanti mau pilih siapa? "
"Nggak peduli! Kamu tahu, 'kan kalau aku, tuh, musuh bebuyutan sama si ketua osis!" ketus Agil.
Egy tertawa, " hahaha. Iya juga, ya. Di mana-mana, 'kan si berandal selalu musuhan sama osis! "
Agil sangat membenci osis, terlebih terhadap Farel yang merupakan ketuanya dan juga Galih. Salah satu alasan sederhananya adalah karena Agil yang sering kali tertangkap tangan oleh Farel maupun Galih saat ia sedang membolos hingga ia harus mendapatkan hukuman. Sungguh, Agil sangat tidak memulainya.
Agil tidak peduli siapa yang akan menjadi ketua osis nantinya. Toh, pada akhirnya mereka juga akan sangat merepotkan Agil. Ia jadi tidak bebas membolos.
Berandalan emang!
Jika bukan karena diwajibkan memilih dan jika tidak maka akan mendapatkan hukuman, saat ini Agil mungkin tidak akan ada di tempat seramai ini. Ia mungkin lebih memilih berada di rooftop bersama teman-temannya. Agil sungguh tak menyukai keramaian.
Agil hanya memutar bola mata malas. Ia melirik Fika yang berada di sisi lain tubuh Egy. Gadis itu terlihat memalingkan wajah begitu tertangkap basah tengah meliriknya. Diam-diam Agil menyunggingkan senyum tipis. Fika terlihat menggemaskan di matanya.
____
Hai, teman-teman. Apa kabar? Pasti baik dong! Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, ya! Aku mau mengucapkan terima kasih untuk kalian semua karena sudah setia membaca cerita ini.
Untuk teman-teman semua, jangan lupa tekan tanda LOVE, ya, supaya tidak ketinggalan apdate cerita ini. Jangan lupa kasih like setelah selesai membaca loh.
Oh, iya! Komen tik, yang banyak gitu biar aku senang. Tinggalkan kritik dan saran kalian di kolom komentar. Kalian boleh komentar apapun deh, dengan begitu siapa tahu aku jadi semakin rajin update.
Terima Kasih semuanya, bye-bye.
__ADS_1
Love You All.... 😘😘😘😘😘😘😘