Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Diam tak membalas


__ADS_3

"Lo gila! " Egy berseru dengan tidak senang.


Mereka? Cih! Mereka pikir mereka pantas!


"Ya, Gue gila! Gue suka sama Lo! Gue gila karena Lo! "


"Gue juga suka sama Lo!"


"Gue jatuh cinta sama Lo, Egy. "


"Gue sayang banget sama Lo. Gue nggak rela Lo pacaran sama orang lain! "


Suasana mendadak hening. Beberapa murid menganga lebar mendengar pernyataan dari empat pemuda populer yang jelas mereka tahu adalah sahabat. Bahkan beberapa di antara telah mengabadikan momen ini menggunakan handphone sejak Egy mulai menggebrak meja tadi. Bisa dipastikan ini akan menjadi perbincangan hangat dan viral di sekolah ini.


Egy menunduk menatap Agil, sayangnya Agil hanya memicingkan mata. Agil dan Egy sama-sama terkejut, mereka tak menyangka bahwa Four Star akan menyatakan perasaan mereka sekarang ini. Benar-benar jauh dari prediksi mereka.


"Ka--kalian?? "


"Ya, kita! Mungkin Lo, nggak akan percaya. Gue aja rasanya nggak percaya kalau Gue, sama mereka suka sama Lo! " Galih membalas.


Degup jantungnya menggila menantikan reaksi Egy. Entah akan bagaimana respons gadis itu. Ia bahkan juga tak menyangka akan mengatakan tentang perasaannya sekarang dan ... bersamaan dengan ungkapan yang sama dari teman-temannya.


Suasana benar-benar berubah jauh lebih tegang sekarang. Rizky gugup, Davit cemas, Farel khawatir. Intinya, empat pemuda itu merasa tak siap dengan kemungkinan terbesar bahwa Egy akan menolak mereka.


"Sorry, Lo, pasti nggak nyangka, tapi Gue beneran jatuh cinta sama Lo. " Farel berujar pelan.


Andai kata hati bisa memilih, andai kata cinta bisa dijatuhkan ke tempat yang kita inginkan, Farel akan memilih untuk tidak mencintai Egy. Dia tahu bahwa cinta yang ia rasakan ini akan tetap berakibat buruk pada persahabatannya meskipun mereka telah berjanji akan bersaing secara sehat tanpa merusak hubungan persahabatan mereka. Sayangnya cinta tak bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh, cinta datang tiba-tiba dan tak terduga.


Rizky bangkit dari duduknya, tangannya bergerak menggenggam tangan Egy. "Lo pasti marah karena omongan, Gue, tadi. Tapi jujur, Gy, Gue emang nggak suka kalau Lo, pacaran sama dia. Gue nggak rela, " ucap Rizky dengan begitu lembut.


Egy benar-benar tak tahu harus bagaimana, ia tak menyangka situasi akan menjadi begitu rumit. Ia hanya berpikir untuk membuat mereka jatuh cinta lalu setelah itu mencampakkannya, tapi kini keadaan malah jauh bertambah rumit.

__ADS_1


Rizky menatap Egy penuh harap. Biarkan Egy melihat tatapan tulusnya. Dalam hati ia berdoa agar Egy membalas perasaannya. Dalam batinnya ia juga selalu berucap maaf.


Maaf, karena telah egois. Maaf, Egy, maaf....


Membuat Egy jatuh cinta padanya, biarkan Egy mencintainya setengah mati. Setelah itu, jika kebenaran tentang keluarganya terungkap dia yakin Egy akan memaafkannya. Egy tidak akan menyalahkan orang tuanya, ia pasti akan memaafkannya karena dia sangat mencintai Rizky.


Terdengar sangat egois dan kejam memang tapi Rizky melupakan satu hal. Benci dan cinta itu beda tipis.


"Lo, pasti kaget tapi perhatian kita selama ini ke Elo, seharusnya buat Lo, peka. Gue suka sama Lo, Gue jatuh cinta sama Lo, bahkan sejak pertama kita bertemu. Gue nggak marah waktu Lo, bilang Gue g*y karena dari kejadian itu kita bisa dekat. " Davit menghela nafas.


"Gue bahkan dengan percaya diri bilang kalau Gue, lebih pantas dari pada pacar berandal Lo, ini! Karena apa? Karena Gue, sayang banget sama Lo, " sambung Davit lagi. Ia masih tetap duduk menatap Agil dengan tajam.


Teringat bagaimana wajah sendu Egy saat mengatakan bahwa Agil bukanlah pacar yang perhatian membuat Davit begitu percaya diri mengatakan hal itu. Ia yakin jauh lebih mampu membahagiakan Egy dari pada Agil.


Namun, detik berikutnya ia menunduk. Pertama kalinya seorang Davit Alvaro menunduk dihadapan orang lain. Bayangan kejadian beberapa saat lalu ketika Egy dengan begitu marahnya membela Agil membuat rasa percaya dirinya runtuh perlahan. Bagaimana ia yakin akan mendapatkan Egy jika saja gadis itu terlihat begitu mencintai Agil.


Egy menarik tangannya dari genggaman Rizky. Tubuhnya kaku tak tahu harus bagaimana. Ia tak menyangka mereka akan secepat ini mengungkap perasaan mereka dan itupun secara bersamaan juga dihadapan puluhan murid-murid.


"Gue nggak tahu gimana perasaan yang Gue rasakan sekarang. Yang jelas, Lo harus gunakan momen ini sebaik mungkin, Egy! Jadikan setiap keadaan sebagai kesempatan, " batin Egy mensugesti diri sendiri agar tak lalai akan tujuan awalnya.


Hening, suasana kantin yang biasanya begitu ramai kini benar-benar senyap tanpa suara. Tatapan tak percaya dan bingung menghunus Egy dan lima pemuda bersamanya itu.


Egy yang tadinya marah-marah kini diam tak berkutik.


Seluruh murid yang ada di kantin merasa ini adalah pemandangan yang paling menakjubkan. Mereka seperti melihat adegan dalam novel secara langsung, ini kisah seorang gadis yang diperebutkan pria-pria tampan. Sial! Kaum hawa merasa iri pada Egy.


Suasana hening tak mampu bertahan lama. Dalam sekejab, bisikan-bisikan siswa-siswi yang menonton kejadian itu mulai terdengar. Andai mereka benar-benar berbisik maka suaranya tak akan sampai ke telinga orang lain, mereka justru seperti menggunjing di depan mata.


"Gila sih, ini! Mereka suka sama satu cewek! "


"Wah! Beruntung banget tuh, si Egy! "

__ADS_1


"Kalau Gue, jadi Egy, Gue pilih semuanya deh! "


"Dengar, nggak apa yang Davit katakan tadi? Sepertinya waktu Egy memang sengaja mengatakan mereka g*y hanya karena usil. Sepertinya rumor itu cuman salah paham! "


"Halah, Gue nggak percaya mereka suka sama tuh, cewek. Bisa jadi itu akal-akalan mereka supaya terbebas dari rumor itu! "


"Gue yakin mereka normal! "


"Gue mau jadi Egy, huwaaa! "


Agil menyadari bahwa keadaan mulai tak kondusif. Ia bisa melihat ketegangan di wajah Four Star dan raut wajah bimbang Egy. Agil menghela nafas, ia bisa membaca apa yang sedang Egy pikirkan. Akhir-akhir ini gadis itu mulai goyah. Agil memang merencanakan kedekatan mereka tapi bukan berarti Agil akan membiarkan Egy luluh pada empat pemuda-pemuda itu.


Agil bangkit dan berjalan ke sisi Egy. Pergerakannya itu tak lekang dari tatapan tajam Four Star.


"Bangs*t emang! Kalian anggap Gue, apa?! Seenak jidat Lo pada ya, nembak cewek Gue di depan muka Gue! " Nada bicara Agil begitu dingin dan tak bersahabat. Ia menggenggam tangan kiri Egy.


"Kalian bodoh! Egy cinta mati sama Gue! "


Setelah mengatakan hal itu, Agil melenggang membawa Egy pergi. Egy menghembuskan nafas lega begitu Agil menyeretnya pergi, akhirnya ia bisa terbebas dari situasi aneh itu.


Four Star menatap kepergian Egy dengan sendu dan terluka. Egy bahkan tak mengucapkan sepatah katapun untuk membalas ungkapan cinta dari mereka. Mereka terlalu naif, bagaimana mungkin mereka mengharapkan seseorang yang jelas-jelas telah menjadi milik orang lain.


Davit, Farel, Rizky, dan Galih, jangan tanyakan bagaimana kondisi hati mereka. Hati mereka rasanya seperti di remas-remas, sangat sakit. Kenapa mereka harus mencintai Egy yang bahkan baru mereka kenal beberapa hari yang lalu? Kenapa mereka tak bisa memilih?


Tak jauh dari situ, duduklah seorang gadis dengan santainya menyaksikan adegan seru antara Egy dan para pemuda-pemuda itu. Sama seperti yang lainnya, ia merasa cukup terkejut dan terhibur melihat adegan beberapa saat lalu.


Siapa lagi gadis itu jika bukan Fika, sahabat sebangku Egy. Ia begitu menikmati ekspresi tegang Egy tadi. Sangat bagus!


"Gila si, Egy! Bisa-bisanya cowok-cowok tampan dan populer di sekolah ini suka sama dia? Nggak nyangka Gue, teman bar-bar Gue ternyata banyak yang suka. " Fika menggelengkan kepalanya dan menyeruput es jeruk miliknya.


"Sakit hati Gue, Bambang! Bisa-bisanya Farel suka sama Egy, " ucap Fika dengan begitu dramatis. Sebagai penggemar berat Farel ia merasa iri hati melihat Egy. Ck, entah bagaimana temannya yang suka ngomong kasar itu malah banyak yang suka.

__ADS_1


"Eh, bentar! Sejak kapan Egy pacaran sama Kak Agil? "


__ADS_2