
"Bangs*t! Lepasin tangan Gue!"
Egy meronta berusaha melepaskan cekalan di tangannya yang begitu kuat. Egy tidak takut seandainya orang itu ingin berbuat jahat. Egy bisa bertarung, ya, walaupun ilmu beladiri tidak terlalu tinggi. Tapi jika hanya melawan satu orang, mungkin masih bisa.
Tak sadar bahwa orang itu kini membawanya ke sudut taman yang lain. Egy menatap sekeliling, suasananya jauh lebih sepi dibanding sisi taman yang ia datangi bersama Davit tadi.
"Lo siapa sih, Nji*g?"
Orang itu melepaskan cekalannya. Ia berbalik dan melepaskan tudung hoodie yang menutupi wajahnya. Wajah orang itu kini jelas terpampang dan membuat Egy berdecak dengan kesal.
"Kak Farel? "
Farel hanya tersenyum tipis melihat Egy yang memanyunkan bibirnya. "Ya, kenapa? "
"Kayak penculik! " lontar Egy.
Farel tertawa. "Mana ada penculik seganteng Gue ini? "
"Ada nih! Lagi nyulik cewek cantik, " seru Egy mengangkat dagu.
"Iya, deh. Kalau secantik ini juga Gue, rela jadi penculiknya, " gombal Farel bahkan dengan sengaja mencolek dagu Egy.
Egy mengibaskan tangannya. "Dasar mulut buaya! "
"Tadi dituduh penculik, eh, sekarang dikatain buaya. "
"Lagian Kak Farel, tiba-tiba narik Gue kayak gitu. Kak Davit pasti sekarang lagi nyariin Gue, " ucap Egy.
Pasti sekarang Davit tengah bingung mencarinya yang tiba-tiba menghilang. Entah bagaimana Farel bisa tiba-tiba muncul seperti ini. Egy menghembuskan nafas kasar, ia merasa harus secepatnya kembali karena Davit pasti sedang kebingungan.
Egy mengabaikan Farel, ia hendak melangkah pergi namun Farel mencegahnya. Pemuda itu menggelengkan kepala, ia memberi isyarat bahwa dia tak mengizinkan Egy pergi.
Dertt
Dertt
Dertt
Egy merasakan gawai yang ada di tasnya bergetar. Ia lantas mengambilnya, ternyata Davit yang meneleponnya. Ah, entah bagaimana ekspresi pemuda itu jika tahu dirinya sedang bersama Farel.
"Hal---"
Belum selesai bicara, handphone miliknya langsung dirampas Farel. Farel menggoyang-goyangkan hp-nya di udara dan tersenyum tengil. Lihatlah yang ia lakukan benar-benar membuat Egy kesal.
[Hallo, Egy. Lo di mana?] Dari seberang sambungan, suara Davit terdengar cemas.
__ADS_1
Farel menerbitkan senyum miringnya. "Egy sama Gue. Lo bisa pulang duluan, Gue yang akan anterin Egy pulang, " serunya.
Tut! Tut! Tut!
Setelahnya Farel memutuskan sambungan dan mematikan telepon Egy. Dia berdecak penuh kemenangan. Ayolah, sudah cukup Davit bersenang-senang bersama Egy tadi. Sekarang sudah tiba gilirannya.
Sebenarnya Farel tidak tahu bahwa Egy sedang kencan dengan Davit. Tak sengaja saja Farel berada di taman yang sama. Melihat Egy dan sahabatnya itu duduk berdua, Farel mendes*h cemburu. Bisa-bisanya Davit mencuri start-nya.
"Ck! Gue kalah selangkah! " decaknya.
Setelah melihat Davit yang pergi meninggalkan Egy, ide licik muncul di otaknya. Dengan senyum miring, ia hampiri Egy dan memaksa membawanya pergi. Ia tak peduli bagaimana reaksi Davit nantinya. Yang jelas, ia tak mau mengalah.
Di sisi yang lain, Davit terus-terusan mengumpati Farel sejak tahu bahwa sahabatnya itu membawa pergi Egy. Bisa-bisanya dia kecolongan. Huh, seharusnya ia tak meninggalkan Egy sekarang. Malam indahnya bersama Egy harus berakhir karena sahabat laknatnya itu.
"Kak Davit pasti bakal marah, " seru Egy menerima hp-nya yang Farel sodorkan.
Farel mengedikkan bahu santai. "Biarin aja! "
Farel menarik lembut tangan Egy dan mengajaknya duduk di rerumputan taman. Egy hanya diam menurut. Ia membiarkan Farel melakukan apa yang dia inginkan.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Farel merasakan debaran aneh di dadanya. Dan inilah yang ia yakini dengan cinta. Jika dekat dengan Egy selalu saja terasa mendebarkan. Cukup sulit mengendalikan perasaan gugup yang ia rasakan.
Farel mengamati wajah Egy, gadis itu sangat cantik. Lihatlah bibir tipisnya itu, benar-benar menggodanya untuk di sentuh lembut.
Farel mengambil kesempatan saat Egy lengah. Pemuda itu membaringkan kepalanya di pangkuan Egy. Egy tersentak terkejut, ia menatap Farel dengan dahi berkerut seolah bertanya, apa yang orang ini lakukan?
"Kak? "
Farel bergeming, ia justru memejamkan matanya menikmati sensasi nyaman tidur di pangkuan Egy. Jujur saja ia merasa lelah beberapa hari ini. Selain harus bersaing dengan sahabatnya sendiri dalam memperebutkan Egy, Farel juga disibukkan oleh organisasi osisnya.
"Bentar aja, deh! Gue capek banget, " ucap Farel tanpa membuka matanya.
"Kalau capek istirahat di rumah, dong! Kenapa Kakak malam keliaran di sini, " cetus Egy.
"Tadinya healing, " singkat Farel.
Egy diam. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Galih. Apa pemuda itu juga lelah seperti Farel? Mereka berdua pasti benar-benar sibuk karena sebentar lagi akan diadakan pemilihan ketua osis baru dan pelantikan.
"Apa Kak Galih juga capek kayak, Kakak? Tugas osis berat ya, karena itu, 'kan Kakak, jadi capek? "
Seketika Farel membuka matanya. Ia menatap Egy dengan sorot yang cukup datar. Memang benar bahwa dia kelelahan karena tugas osis yang menumpuk di akhir-akhir masa jabatannya. Tapi yang tak ia suka adalah saat Egy menyebut nama Galih.
Ia ingin menikmati malam ini dengan tenang bersama Egy. Dia tidak suka Egy memikirkan cowok lain saat sedang bersamanya, meskipun cowok itu sahabatnya sendiri.
"Bisa nggak, nggak usah sebut-sebut nama cowok lain?! " sentaknya tak suka.
__ADS_1
Egy menaikkan satu alisnya tak paham.
"Maksudnya? "
Farel beedecak. "Gue nggak suka Lo, sebut-sebut nama cowok lain di depan Gue! " terang Farel.
Detik berikutnya Egy baru memahami. Ia terkekeh kecil, ternyata Farel sedang cemburu. Jika sedang cemburu, Farel tak dapat menahannya. Ia akan terang-terangan mengatakan bahwa ia tak suka.
Entah bagaimana, tingkahnya itu benar-benar terlihat lucu. Egy kini tahu, empat pria tampan itu mungkin saja memiliki sisi lain seperti ini. Mereka terlihat menggemaskan di waktu-waktu tertentu.
Unik! Lihat bagaimana Egy akan membuatnya semakin kesal sekarang.
"Eh, tapi, 'kan Kak Galih sahabat Kakak? Lagian kalian tuh, 'kan satu paket! " ucap Egy. Ia berusaha untuk tidak menyemburkan tawa melihat ekspresi Farel yang terlihat begitu kesal.
"Satu paket apaan! Dia ya dia! Gue ya, Gue! Ingat, Gue nggak suka Lo, mikirin cowok lain saat lagi bareng Gue! " berang Farel. Entah mengapa ia sangat susah mengontrol rasa cemburunya. Jika begini, bagaimana ia akan ikhlas jika nanti seandainya Egy tak memilihnya? Apa ia akan mampu merelakan?
"Kak Farel cemburu? "
"Iya, bangs*t!"
"Lah, kok ngamok. " Tawa Egy benar-benar pecah sekarang.
Farel mendengus kesal. Bagaimana dia akan menaklukkan Egy jika gadis itu bahkan tak peka pada dirinya? Sangat menyebalkan!
Farel memiringkan tubuhnya, wajahnya itu kini menghadap tepat depan perut Egy. Ia tersenyum lalu dengan cepat memeluk pinggang Egy dan membenamkan wajahnya di perut Egy.
"Eh? "
"Nyaman, " gumam Farel.
"Kak Farel capek banget? " Egy merasa kasihan, sepertinya pemuda itu benar-benar lelah.
"Hemm! " Hanya deheman singkat sebagai jawaban.
Egy menghela nafas. Baiklah, biarkan hari ini ia membuat Farel senang. Dia sedang lelah, Egy, ayo ringankan bebannya.
Tak sadar, tangan Egy kini mengelus lembut kepala Farel. Farel terkejut namun ia berusaha agar tidak menjerit. Astaga, bagaimana ini? Jantung Gue nggak bisa diam. Batin Farel yang menjerit. Ia tak tahan dengan rasa senang ini. Ia menyukai usapan lembut dari Egy. Dia sangat menyukai Egy.
Lihat, bukankah ini lampu hijau? Tandanya dia tak boleh menyerah. Baiklah, Farel akan benar-benar berusaha mendapatkan Egy sekarang. Dia tidak akan merasa tak enak pada sahabat-sahabatnya. Ia ingin Egy menjadi miliknya.
Farel tak akan merasa cemburu saat Egy telah menjadi miliknya. Dia bisa menikmati momen seperti ini setiap saat. Egy akan menjadi miliknya, ia pastikan itu.
Dan ya, dia juga akan merebut Egy dari pacarnya itu. Biarkan Egy meninggalkan Agil dan menjadi miliknya.
"Gue nggak akan nyerah. Lo bakal jadi milik Gue, Egy! "
__ADS_1