
"Bareng Gue aja! "
Ingin sekali bilang, nggak mau, tapi melihat tatapan tajam Agil membuat Fika tak berkutik. Ya, Agil lah pemilik motor besar nan gagah yang menghadang Fika.
Padahal hari ini sekolah libur, entah takdir seperti apa yang sedang Tuhan rencanakan hingga mereka harus dipertemukan di jalan seperti ini. Fika ingin menghindari Agil. Sungguh, ia selalu panas dingin saat berhadapan dengan Agil. Apalagi saat teringat ucapan Agil yang mengajaknya selungkuh, Fika rasanya ingin pingsan.
"Lo, budek? "
Fika terperanjat dari lamunan.
"Ap--apa, Kak? " gelagap Fika.
Fika bahkan masih setia memegang motornya, ia juga tak berani menatap Agil. Dia yang biasanya bar-bar, kini jadi begitu pendiam saat berhadapan dengan Agil. Pemuda itu seolah memberikan tekanan yang sangat kuat padanya.
"Kak, Gue buru-buru. Ini panas banget lagi, please, ya? Jangan halangi jalan Gue, " pinta Fika kemudian.
Fika kembali akan mendorong motornya namun lagi-lagi Agil menghalangi. Agil berkacak pinggang menatap Fika dengan tajam. "Bareng Gue aja! " titahnya untuk yang kedua kalinya.
Fika mengernyit. "Emang, Kak Agil, mau ke mana? "
"Ya, Lo, mau ke mana? "
"Kok malah balik tanya! " kesal Fika heran.
"Lo, mau ke mana? " tanya Agil lagi.
Fika berdecak. "Ck! Gue, tuh, mau ke supermarket! " cetusnya sewot.
"Ya udah! Gue juga mau ke supermarket! " balas Agil membuat Fika melongo.
__ADS_1
Entah ada apa dengan Agil, tingkahnya benar-benar aneh. Perubahan sikap Agil itu dimulai sejak pemuda itu mengajaknya selingkuh dari Egy.
Omong-omong soal Agil yang mengajaknya selingkuh, Fika belum menceritakannya pada Egy. Entah apa harus ia ceritakan. Takutnya nanti Egy bakal marah padanya. Tapi ia juga tidak ingin salah paham yang mungkin terjadi. Apalagi pesona Agil itu juga nggak main-main, takutnya Fika khilaf nanti.
"Jadi sebenarnya, Kak Agil, mau ke mana? " bingung Fika. Pertemuan mereka hari ini, 'kan kebetulan. Ini juga daerah sekitaran rumah yang artinya jauh dari rumah Agil.
"Daerah ini jauh dari rumah, Kakak, terus gimana ceritanya, Kak Agil, mau ke supermarket yang ada di sekitar sini. Emang di sekitar daerah rumah, Kakak, nggak ada? " heran Fika.
Agil menggeleng. "Bukan karena itu! "
"Terus? Maksudnya, Kakak, ada kepentingan apa di sekitar sini? "
"Lo! "
"Hah? " beo Fika cengo. "Gimana maksudnya, Kak? "
"Gue ada di sini karena, Lo! "
Semakin tidak paham dengan apa yang Agil bicarakan dan maksudkan. Pemuda itu ada di sini karena dirinya? Jadi, dia mata-matain Gue gitu? Pikir Fika bingung.
"Udah! Ayo, ikut Gue! " seru Agil, menyuruh Fika untuk meninggalkan motor maticnya itu.
"Eh, tapi motor Gue gimana? " tanya Fika.
"Tinggalin aja! "
"Enak aja! Nanti kalau ada yang nyuri gimana? " sentak Fika. Dia saja boleh pinjam, tuh, motor. Kalau ditinggal di pinggir jalan nanti bisa jadi ada yang mengambilnya tanpa izin. Bisa di suruh ganti rugi nanti si Fika.
"Biarin! Motor butut gitu, doang! Nanti Gue beliin yang lebih bagus! " balas Agil seenaknya.
__ADS_1
"Ish, apaan! Dikiranya Gue miskin apa?! " sewot Fika. "Dahlah! Pergi aja sendiri! "
"Nggak! "
"Pergi, Kak! "
"Nggak mau! "
"Pergi! "
"Nggak! "
"Pergi atau Gue cium? "
Eh? Fika menutup mulutnya langsung.
Agil menyeringai, " boleh! "
*
*
*
Kembali di rumah sakit tempat Rizky di rawat, ruangan itu kini benar-benar hening. Setelah Egy memperkenalkan diri, Claudia dan Aris nampak tersentak kaget.
"Ada apa, Tant? " tanya Egy pura-pura tidak tahu.
"Nama, Kamu, Egy? Egy Rossiana? " tanya Claudia balik. Ia seolah-seolah tak percaya dengan perkataan Egy.
__ADS_1
Egy mengangguk polos. "Iya, Tant. Emangnya kenapa? "