Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Ranny si Model Top


__ADS_3

*


*


*


Di lain tempat, berbeda dengan sang putra yang sedang sibuk mencari cara untuk mendapatkan gadis incarannya, Ranny justru sedang sibuk mencari uang. Ibu kandung dari seorang Davit Alvaro itu nampak disibukkan oleh jadwal syuting.


Di negara yang berbeda, Ranny tengah sibuk syuting pengambilan gambar untuk membintangi sebuah majalah terkenal. Memang sudah menjadi suatu yang biasa di mana, Ranny si model top kelas atas ini menjadi wajah dari majalah-majalah terkenal. Memang seterkenal itulah dirinya, meski kini umurnya tak lagi muda.


Beberapa kali Ranny nampak mengambil gaya berbeda di depan kamera. Wajahnya dipoles make up yang elegan, ia pun mengenakan gaun se*si dan terlihat anggun dan cantik. Sungguh umurnya yang mulai masuk kepala empat bahkan tak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Ibu kandung Davit terlihat masih sangat muda.


"Oke, bagus! Kita istirahat dulu, ya, lima belas menit! "


Beberapa orang nampak bergegas menghampiri sang model begitu mendengar intrupsi untuk istirahat. Para staf itu dengan cepat memberikan minum, mengipasi bahkan juga mengelap keringat Ranny. Dia benar-benar diperlakukan seperti seorang ratu.


Ranny berjalan anggun menuju sebuah kursi, yang ada di bawah pohon rindang di taman tempatnya melakukan syuting. Terlihat seorang gadis dewasa datang membawa sebotol air dingin. Kalau tidak salah, gadis itu adalah staf magang yang diberi tugas menjadi asisten Ranny selama proses syuting ini.


"Nyona, ini minumanmu! " Gadis itu menunduk dan menyodorkan botol minuman itu pada Ranny.


Ranny melirik sekilas. "Aku tidak ingin meminum minuman murahan itu. Bawakan aku jus semangka! " titah Ranny dengan pongahnya.


Tanpa banyak bicara, gadis itu segera melangkah pergi untuk melaksanakan perintah dari sang Model Top.


Bebera saat kemudian, gadis itu kembali lagi dengan membawa apa yang Ranny inginkan. Dengan senyum merekah, gadis itu berjalan pelan mendekati Ranny.


Tapi....


BYUR!


Gadis itu tersandung. Gelas berisi jus semangka yang ia bawa melayang ke arah Ranny dan isinya jatuh membasahi tubuhnya. Seketika saja Ranny bangkit dari duduknya dengan muka memerah karena murka.


"N--nyona, ma--mmaaf. Sa---"


Plak!


Satu tamparan keras dari Ranny untuk pipi chubby gadis itu. Wajah gadis itu sampai berpaling dengan air mata yang mulai menganak sungai.


"Dasar tidak berguna! Kau, bisa bekerja tidak, hah?! " bentak Ranny dengan sangat keras.

__ADS_1


Semua staf di lokasi pemotretan itu kini beralih menatap Ranny dan gadis itu. Mereka mengernyit melihat gaun putih Ranny yang kotor oleh noda merah karena jus semangka. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Ranny terlihat sangat marah.


"N--nyona, saya tidak s--sengaja..., " lirih gadis itu dengan terbata-bata, ia memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Ranny. Rasanya panas dan perih.


"Tidak sengaja katamu? Kau tidak lihat, hah?! Gaun mahalku menjadi kotor gara-gara kau! " berang Ranny.


Ketenaran dan kekayaan memang menjadikan sikap Ranny sombong dan arogan. Sikapnya itu berbanding terbalik dengan apa yang ada di depan publik. Ranny dikenal sebagai model papan atas dengan attitude baik. Beberapa orang yang mungkin mengetahui sikap sebenarnya dari Model Top itu hanya bisa diam. Mereka tidak ingin berurusan dengan Ranny.


Gadis itu menangis.


"Maafkan saya, N--nyonya.... "


"Ck! Pergi dari hadapanku sekarang! " sentak Ranny.


Gadis itu bergeming, ia masih setia menunduk dan menangis. Hingga datanglah seorang lelaki. Laki-laki itu adalah penanggung jawab penuh atas proses pemotretan ini.


"Ada apa ini? " Laki-laki itu mendekat dan bertanya. Ia prihatin dengan kondisi Ranny yang nampak kotor, akan tetapi ia lebih prihatin pada kondisi gadis yang baru saja di tampar oleh Ranny. Gadis itu terlihat menyedihkan.


"Pecat dia! Aku tidak suka melihat dia di sini! Dia tidak becus bekerja, " seru Ranny menunjuk gadis itu. Sedangkan gadis itu hanya bisa terisak dalam tangis.


"Tunggu dulu, kita tidak bisa asal memecat seseorang. " Lelaki itu mencoba memberi pengertian.


Lelaki itu akhirnya pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti apa kata Ranny. Sulit sekali menggaet Ranny untuk membintangi majalahnya, kini ia tidak bisa melepaskan Ranny begitu saja.


Akhirnya dia hanya bisa menyuruh gadis itu pergi. "Pergilah dari sini! Ini uang untukmu, " suruhnya memberikan uang pada staf magang itu.


Ranny menyeringai puas. Di hidupnya, ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Orang lain tidak berhak menolaknya. Ia sangat puas saat gadis yang menurutnya tidak pandai bekerja itu telah benar-benar dipecat.


Hanya saja, Ranny tidak tahu bahwa seseorang telah mengabadikan momen ini dengan kamera. Seorang pria bertopi yang memakai masker bersembunyi tak jauh dari tempat kejadian. Ia merekam semua kejadian itu dari awal sampai akhir, tak ada satupun yang terlewatkan. Pria itu mematikan kamera yang ia gunakan untuk merekam tadi, ia menyeringai dengan sangat puas.


"Ah, Bos pasti sangat senang, " gumam pria itu.


Tak berselang lama, gawai pria itu berbunyi dengan volume lirih. Lekas pria itu mengambilnya dan mengangkat telepon yang memanggilnya. Di layar ponsel itu, tertera sebuah tulisan 'Bos' di layar panggilan.


"Hallo, Bos! " sapanya terlebih dulu.


[ Bagaimana? ] Dari seberang sambungan terdengar suara di penelepon. Dia adalah Bos dari pria itu.


"Hehehe.... Semuanya beres, Bos, " jawab Pria itu tertawa ringan.

__ADS_1


[ Baguslah! Segera lakukan rencana selanjutnya, secepatnya! ] Seseorang penelepon itu memberikan sebuah perintah.


"Siap, Bos. Saya akan segera melaksanakan rencana selanjutnya! "


*


*


*


Egy duduk di pinggir lapangan bersama Rizky dan Davit. Mereka bertiga setia menonton kegiatan pendasaran yang sedang berlangsung sebelum acara pelantikan. Terlihat, Galih dan Farel sedang memberikan arahan tentang sikap dan tanggung jawab sebagai anggota osis.


Egy memegang dua botol minuman, dua botol itu akan ia berikan pada Farel dan Galih jika kegiatan itu telah selesai. Egy tidak bisa menghentikan tatapan kagumnya kepada Farel dan Galih yang rela berpanas-panasan demi memberikan arahan dan nasihat. Terlihat mereka berdua sangatlah berwibawa.


Davit melirik Egy, melihat tatapan Egy yang mengarah pada Farel dan Galih, Davit merasa tidak suka. "Nggak usah segitunya juga kali natapnya! " cetus Davit.


Rizky yang berada di samping kiri Egy pun ikut menatap gadis itu. Memang benar bahwa Egy benar-benar fokus menatap Farel dan Galih.


"Mata Gue yang lihat, Gue, sih, sebenarnya tidur, " balas Egy dengan asal.


Egy tersenyum saat tak sengaja Galih menatapnya, tapi pemuda itu memalingkan wajah. Mungkin saja masih marah karena dikerjai tadi, atau karena malu jadi tak berani menatapnya. Egy terkekeh kecil melihat Galih.


"Huh! Pulang aja, yuk! " ajak Davit. Bosan rasanya hanya diam duduk seperti itu.


Sungguh, sebenarnya mereka bertiga tiada guna hadir di kegiatan ini. Tak ada yang dapat mereka lakukan, selain duduk berteduh di pinggir lapangan.


Egy menoleh pada Davit. Ia terkekeh kecil.


"Kalau Gue, sih, ayo aja! Tapi Kak Davit, bilang ke Kak Farel dulu, ya? Soalnya Gue di sini karena dia, " balas Egy.


Rizky dan Davit berdecih mendengarnya. Bisakah Egy tak terlalu jujur, mereka cemburu mendengar Egy begitu rela ikut perkemahan ini hanya demi Farel. Heum, mereka sepertinya sudah ketinggalan beberapa langkah dari Farel.


"Sama Kak Galih juga, sih! Gue udah janji ama mereka berdua mau ikut perkemahan ini. Gue senang banget kalau bisa pulang, tapi Kak Davit, ya, yang tanggung jawab? " lanjut Egy.


Davit menyerah, dia tidak ingin ribut dengan Galih maupun Farel. Biarlah Egy ikut perkemahan ini karena ia pun juga bisa ikut. Ia tidak akan membiarkan Galih, Farel maupun Rizky dapat dengan mudah mendekati Egy. Davit lah yang harus berhasil.


"Lo, udah ada rasa sama Farel? Atau Galih? "


Egy dan Davit sepenuhnya menoleh pada Rizky. Pertanyaan yang pemuda itu lontarkan membuat mereka terkejut. Tapi tak bertahan lama bagi Davit, ia bahkan beralih menatap Egy menunggu jawaban dari gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa diam? Jawab dong! "


__ADS_2