Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Dipaksa jadi asisten.


__ADS_3

Malam semakin beranjak larut, taman juga mulai sepi pengunjung. Egy merasa kakinya sudah kesemutan dan mungkin saja dia tidak bisa berjalan sekarang. Lebih dari satu jam lamanya, Farel rertidur dipangkuannya.


Egy menghela nafas, ingin membangunkan tapi tidak tega. Padahal hanya perlu membangunkan Farel lalu pulang, tapi ia benar-benar merasa tak tega melihat pemuda itu yang begitu lelap dalam tidurnya. Aneh, seharusnya ia tidak bersikap seperti ini.


Gawainya berbunyi terus dari tadi, Agil sudah meneleponnya berulang kali. Kakak tercintanya itu pasti khawatir karena ia belum pulang juga. Lihat bagaimana dia akan dimarahi setelah ini. Agil sudah mengingatkan agar jangan pulang larut malam.


"Kak, bangun! Pulang, ini udah malam. Udara juga semakin dingin, " rengek Egy. Farel tak merespons, Egy justru merasa pria itu mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"Gue buang juga lama-lama, " kesal Egy.


Egy sudah bersikap lembut sejak tadi. Sekarang rasanya sudah tidak tahan. Dia sudah bersusah payah merelakan kakinya menjadi bantal hingga rasanya kesemutan, tapi Farel justru semakin menjadi-jadi. Apa Farel pikir, Egy ikhlas begitu saja?


Egy sudah berbaik hati tadi dan sekarang sudah tidak! Dia lelah dan mengantuk, jangan lupakan kakinya yang mulai mati rasa.


Dan lihatlah senyuman yang terbit di bibir Egy itu, ah, itu terlihat sangat menyebalkan. Lihat saja, Egy sudah tidak tahan untuk berbuat kasar sejak tadi.


Sret!


"Akh! Akh! "


Egy menarik telinga kiri Farel hingga si empu menjerit-jerit kesakitan. Egy terus menjewernya sampai Farel terduduk. Farel mengusap-ngusap telinganya saat Egy telah melepaskan jewerannya. Telinganya terlihat memerah.


"Kok Lo, tega banget, sih?! Pakek main jewer-jewer segala, sakit tau! " cetus Farel. Kesadarannya pulih seketika karena jeweran itu.


Egy memutar bola matanya malas. "Makanya bangun! Ini udah malam banget loh, Kak! Gue mau pulang, ngantuk! " sungut Egy.


"Eh, iya, 'kah? " Farel mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.


"Astaga! Sorry, Gue ketiduran, " Farel menggaruk tengkuknya.


"Si alan! Tahu gini, Gue pulang sama Kak Davit tadi, " ujar Egy.

__ADS_1


Farel menyengir. "Dahlah! Nggak ada gunanya Lo, ngeluh. Yaudah, yok, pulang! " ajak Farel.


Farel dan Egy bangkit dan merapikan serta membersihkan baju mereka dengan menepuk-nepuknya. Farel melirik Egy, wajah gadis itu sangat masam sekarang. Farel sudah membuatnya sangat kesal.


"Ayo, Gue anterin pulang. Sorry.... Nggak seharusnya nggak Gue tidur tadi. Sekarang kita jadi kemalaman, " ucap Farel penuh sesal. Ia bahkan lebih dari satu jam tertidur. Egy pasti lelah menungguinya.


Hal itu membuat Egy sepenuhnya menatap Farel. Ia menatap manik mata yang kini redup akan sesal dan cemas. Aih, sudahlah. Ia juga tidak bisa marah dengan Farel.


"Udah ah! Ayo pulang! " seru Egy tanpa menanggapi permintaan maaf dari Farel. Malaslah rasanya, ingin memaafkan tapi dia masih kesal. Egy bukan tipe pemaaf, jika benci ya benci saja.


Farel melipat bibir namun kemudian berucap, " maaf. Ayo kita pulang sekarang. "


Farel menggenggam lembut tangan Egy hingga membuat Egy menahan nafas. Gugup, ia merasakan hal itu sekarang. Hal yang wajar dirasakan perempuan ketika ada laki-laki yang memperlakukannya dengan lembut. Entah bagaimana Farel juga memiliki sisi lembut seperti ini, jauh berbeda ketika ia berada di sekolah. Sebagai ketua osis, ia cukup tegas dan selalu bersikap tenang.


Egy hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Bagaimanapun sikap mereka padanya, sebaik apapun itu, tetap saja tidak akan membuatnya jatuh cinta. Perasaannya telah ia kunci, Egy bahkan tak mengizinkan siapapun masuk ke dalam hatinya. Termasuk mereka, yang memiliki nilai kebencian seratus persen darinya.


Egy menyadari, perasaannya mulai berubah dan itu adalah hal yang tidak boleh. Apapun yang terjadi, Egy bahkan tidak mengizinkan hatinya untuk jatuh cinta kepada empat pemuda tampan itu, meski satu di antara mereka.


*


*


*


Udara malam yang dingin membuat Egy merasa menggigil. Dia yang hanya mengenakan dress selutut membuat kakinya kedinginan. Farel menyadarinya, ia menarik lengan Egy dan melingkarkannya di pinggangnya. Farel 'pun menambah kecepatan laju motornya agar segera tiba di rumah Egy.


Tak butuh waktu lama, Farel dan Egy kini telah sampai. Ketika turun dari motor, Egy hendak langsung pergi. Ia terlihat masih menunjukkan kekesalannya. Farel menahan.


"Tunggu bentar, Gue mau ngomong! " seru Farel.


"Apa? " ketus Egy.

__ADS_1


Farel tersenyum. "Sebentar lagi pemilihan ketua osis baru dan juga pelantikan. Pelantikan akan diadakan sebuah perkemahan, Gue ketua panitia, " ujar Farel.


Egy memberengut sinis. " Bodo amat! "


"Gue mau Lo, jadi asisten Gue selama pelantikan, " ucap Farel. Bukan seperti meminta, ucapannya lebih terdengar seperti memerintah.


Farel ingin hubungannya dengan Egy semakin dekat di perkemahan nanti. Di acara ini, ia akan mendekati Egy dan membuat momen indah berdua. Ini rencananya, karena jika Egy menjadi asistennya maka tiga sahabatnya yang lain tak akan punya kesempatan mendekati Egy.


"Nggak bisa, Kak. Gue bukan anggota osis, " balas Egy. Malas sekali jika harus ikut kegiatan-kegiatan seperti itu. Terus terang saja, dia bukan pelajar yang aktif pada kegiatan di luar jam pelajaran.


"Bisa, apalagi Gue yang mau. Ingat, ya! Lo masih babu Gue! " ucapnya Farel.


Semakin bertambahlah kekesalan Egy. Sudah mengantuk, masih pula dibebani dengan perintah yang sangat-sangat membagongkan. Ayolah, dia lebih suka tidur di rumah dari pada ikut perkemahan.


"Oke. Gue pulang sekarang, perkemahannya masih sekitar seminggu lagi. Lo bisa persiapan dulu, " ujar Farel.


Farel menstater motornya dan mulai meninggalkan halaman rumah Egy. Sedangkan Egy masih berdiri diam di sana. Ia menatap motor Farel yang perlahan sirna dari pandangan, matanya menyipit dengan mulut berdecih sinis.


Apanya yang perlu dipersiapkan? Memangnya mereka mau menikah? Ck, Egy berdecak dengan kesal. Bertambahlah bebannya. Malas sekali, ah, dia tidak suka acara-acara seperti ini.


Egy mungkin adalah gadis yang bar-bar, tapi dia tipe orang yang pemalas. Bahkan dia tak mengikuti satu ekskul di sekolah, itupun karena sekolah mewajibkan para murid mengikuti setidaknya satu ekstrakurikuler. Jika tidak, Egy tak akan mengikuti ekstrakurikuler adapun.


Egy mendengus dan berbalik. Ia berjalan memasuki rumah dengan hati dongkol. Dia bahkan belum punya kesempatan mencari cara agar tertebas dari ikatan babu dan majikan dengan Four Star. Mereka bahkan sangat kentara sekali tak membiarkannya melakukan itu. Sangat jelas, Four Star ingin terus mengikatnya.


"Ck, menyebalkan! Lihat saja apa yang bakal Gue lakuin di acara pelantikan itu! "


-----


Hai, teman-teman semua. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Terima kasih untuk dukungannya, jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya di kolom komentator.


Love you all... 😘

__ADS_1


__ADS_2