Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Kalian harus punya pacar!


__ADS_3

"Egy, cepet beliin Gue minum! "


Argh!


Egy yang hendak duduk meluruskan pinggangnya 'pun harus urung kembali. Ia mengeram kesal menatap Galih. Pinggangnya serasa hampir patah tapi Galih masih menyuruh-nyuruhnya.


"Egy capek, Kak! "


"Tapi Gue haus! "


"Gue capek! "


"Gue haus! "


"Kak Galih, kenapa nggak sekalian tadi aja? Kakak tahu, Gue udah bolak-balik ke kantin lebih dari sepuluh kali! " kesal Egy


Ini bukan perintah pertama namun perintah-perintah yang kesekian kalinya.


Sejak Egy menyetujui untuk menjadi babu para pemuda tampan itu kemarin, hari ini ia dikerjai habis-habisan. Sejak jam istirahat dimulai, ia sudah di panggil untuk datang ke ruang osis. Dari sana mereka menyuruh Egy membelikan makanan di kantin. Ya, bagi Egy nggak masalah kalau cuman di suruh satu kali.


Jarak kantin dan ruang osis itu sangat jauh. Ruang osis ada di ujung lorong timur sedang kantin ada di ujung barat. Egy bahkan harus melewati lima kelas serta satu ruang latihan teater. Mungkin tidak terasa jauh jika tidak harus bolak-balik. Tapi di sini mereka menyuruh Egy untuk bolak-balik ke kantin. Bisa dibayangkan, betapa lelahnya Egy jika harus bolak-balik.


Dari tadi Egy terus di suruh membeli makanan yang berbeda-beda. Mereka menyuruh Egy membeli makanan ini lalu ketika Egy telah membelikannya, mereka pura-pura berubah pikiran dan menyuruh Egi membeli makanan lainnya. Egy bahkan merasa telinganya juga sakit mendengar betapa bawelnya mereka.


"Apa mereka masih Four Star yang penuh pesona itu? " batin Egy menatap mereka tak percaya. Pemuda-pemuda tampan yang menjadi idola para murid itu ternyata sangatlah menyebalkan. Mereka jadi sangat cerewet sekarang. Mereka tak berhenti menyuruh-nyuruhnya.


"Ya, terserah Gue. Gue tadi lupa, " balas Galih santai.


Egy menatap mereka dengan ekspresi datar. Sedangkan mereka pura-pura tak tahu dan memilih sibuk memakan makanan yang dibelikan Egy. Padahal dalam hati mereka tertawa dengan penuh kemenangan melihat wajah jengkel Egy.


"Kalian juga mau beli minum? " tanya Egy dengan greget.


Davit menoleh. " Samain kayak punya Galih, " ucapnya.


"Ya, " jawab Egy dengan senyum paksa.


Egy menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melangkah menuju kantin. Kakinya rasanya sangat pegal. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sudah menyetujui perjanjian itu kemarin. Jika bukan karena perjanjian itu, ia pasti sudah menghajar mereka satu persatu. Siapa mereka berani menyuruh-nyuruhnya seperti ini? Huh!


Jika tadi Egy harus berlarian menuju kantin, kali ini ia justru berjalan dengan lesu. Tatapannya benar-benar terlihat datar. Berulang kali ia menghela nafas kasar. Namun setiap kali berpapasan dengan murid lain, ia akan menampilkan senyum terbaiknya.


Sampai dimana ia melihat seorang pemuda berjalan berlawan arah dengannya. Penampilan pemuda itu terlihat seperti berandalan. Seragam tidak dikancingkan sehingga nampak kaos hitam yang ia pakai. Dari penampilan bisa di simpulkan bahwa ia seorang badboy.

__ADS_1


Pemuda itu sangat tampan, tak kalah dengan para Four Star. Egy berhenti melangkah. Ia sengaja menunggu langkah pemuda itu mendekatinya. Pemuda itu menatap Egy dengan pandangan tajamnya.


"Permainanmu tidak terlalu buruk! "


Pemuda itu berbisik ketika tepat lewat di sampingnya. Egy meliriknya sebentar dan dapat melihat seringai tipis di bibir lelaki itu. Pemuda itu tetap melanjutkan langkahnya. Egy 'pun kembali melanjutkan langkahnya.


*


*


*


"Nih! "


Egy meletakkan empat kaleng minuman dingin di atas meja. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi ia meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia memejamkan mata dan bersandar pada meja tempat para pemuda tampan itu makan.


Para pemuda itu tersenyum tipis melihat wajah Egy yang terlihat kelelahan.


Rizky yang duduk di kursi di samping Egy 'pun menunduk menatap lekat wajah Egy. Ia mengambil satu kaleng minuman dingin itu lalu menempelkannya di pipi Egy. Seketika Egy membuka matanya dan menatap Rizky yang tersenyum.


"Apa? Mau beli minum lagi? Salah lagi yang Gue beli? " sewot Egy.


Egy menatapnya dengan sinis.


"Ngapain lihatin Gue kayak gitu? Mau makan nggak? " tanya Rizky.


"Iya! " Egy beranjak berdiri.


Ia mengambil kursi dan duduk di antara Rizky dan Davit. Dari depannya Farel menyodorkan kotak makanan berisi mie ayam.


"Nih, makanan kesukaan Lo! " ujarnya.


"Kak Farel tahu makanan kesukaan Gue? " tanya Egy dengan heran. Farel membalas dengan deheman singkat. Egy 'pun memilih acuh.


"Di sini yang jual mie ayam sama bakso cuman orang miskin kayak Lo yang beli, " seru Galih dengan nada merendahkannya.


Langsung saja Egy memberikannya tatapan mematikan. Namun nampaknya Galih tidak takut sama sekali. Ia justru menatap Egy dengan seringai ejekan.


"Sok tempe! Kakak gak tahu, 'kan kalau uang Gue tuh bisa beli ginjal plus kornea mata Kakak yang jelek itu! " balas Egy dengan sengit.


"Mata Gue bagus gini kok! Mata Lo buta! " sewot Galih.

__ADS_1


"Kak Galih jadi cowok kok sewot banget, sih? Ngalah-ngalahin cewek! " ejek Egy.


"Heh, apa kata Lo?! "


"Kak Galih jelek! "


"Lo! "


"Udah! Kalian ini, bertengkar terus! " lerai Farel.


Egy menjulurkan lidahnya ke arah Galih membuat Galih mengeram kesal.


Egy mulai memakan makanannya. Ia makan dengan santai dan sesekali tersenyum saat mengunyah. Pemuda-pemuda tampan itu ikut tersenyum melihat Egy makan. Di mata mereka Egy sangatlah menggemaskan.


"Aaa! "


Egy bingung menatap Davit yang menyodorkan sesendok bakso padanya. Lelaki itu mengisyaratkannya untuk membuka mulut dan menerima suapannya.


"Emm! " Egy menerima suapan itu dan tertawa kecil. Merasa sedikit tak menyangka saat kapten basket yang di kenal dingin itu menyuapinya.


Bahkan ia masih tak menyangka bisa makan bersama dengan para cowok idaman siswi-siswi di sekolahnya. Jika siswi-siswi lain tahu, mereka pasti akan sangat iri ladanya.


Egy juga tidak merasa rugi jika begini. Ia bisa makan gratis ditambah bareng sama cowok ganteng. Egy nggak munafik ya, dia juga suka cowok ganteng.


" Hahaha." Egy tertawa puas dalam hatinya.


"Rumor itu masih menyebar dengan panas. Lo udah punya cara buat nyelesain itu? " Farel menatap Egy.


Egy balas menatapnya. Ia menyuap makanan sembari berkati. "Sebenarnya sih, mudah aja. Asalkan kalian mau ikutin perkataan Gue! " jawab Egy.


"Maksud Lo? "


Mereka merasa kurang yakin dengan ucapan Egy. Jelas saja tingkah Egy yang bar-bar itu membuat mereka khawatir. Bagaimana jika, bukannya masalah selesai tapi malah muncul masalah baru. Apalagi tak terlihat seperti gadis pintar. Malahan terlihat sedikit bodoh.


Egy meletakkan sendoknya.


"Ikutin semua rencana Gue. Rumor itu nggak akan bertahan lama, percaya sama Gue, " terang Egy.


"Caranya? "


"Kalian harus punya pacar! "

__ADS_1


__ADS_2