Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Trauma


__ADS_3

"Anj*ng! " Egy langsung mengumpat saat ia tersungkur ke aslpal jalan. Siku dan lengannya lecet-lecet. Ia mengumpati seseorang yang tiba-tiba mendorongnya.


"Akhh! Kecelakaan! "


"Astaga! Remaja itu tertabrak mobil! "


"Jangan biarkan penabraknya kabur! "


"Cepat-cepat panggil ambulans! "


"Kepalanya sampai berdarah karena kecelakaan ini! "


Ketika masih bersimpuh di aspal, tubuh Egy tiba-tiba menegang. Tangannya yang sibuk mengusap-ngusap luka di sikunya pun berhenti di udara. Suara-suara gaduh dari belakangnya membuat tubuhnya bergetar tiba-tiba.


Egy menatap sekeliling, ternyata jalanan sangat ramai. Beberapa kendaraan bahkan menghentikan lajunya di samping kiri dan kanannya.


"Ini hanya kecelakaan! Ini bukan salah kita! "


"Ya, ini bukan salah kita. Ayo, kita pergi dari sini! "


"Tunggu! Kita tidak menolong mereka? Mereka mungkin belum mati! Kita harus menolongnya! "


"Kau, gila? Kau ingin orang-orang tahu kalau kita sudah menabrak orang? Aku tidak mau reputasiku hancur!

__ADS_1


"Ayo, kita tinggalkan tempat ini! "


Mendadak bayang-bayang kejadian belasan tahun silam yang berusaha ia lupakan kini kembali memutar di otaknya. Susah payah ia melupakan kejadian dulu, kini tanpa di sangka dia justru mengingatnya kembali.


Insiden yang terjadi dulu yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya, meninggalkan rasa trauma pada diri Egy. Kepalanya selalu sakit begitu mengingatnya. Apalagi saat ini pemicu sakit kepalanya nyata ada di depannya. Kecelakaan, sama seperti kejadian dulu yang mereka sebut 'hanya kecelakaan'.


Berbeda dengan 'kecelakaan' kali ini, jika kali ini si penabrak mau bertanggung jawab meskipun itu jelas-jelas kesalahan ada pada Egy yang menyeberang dengan tidak hati-hati. Jika dulu, karena mereka 'kecelakaan' itu terjadi. Jelas-jelas itu kesalahan mereka hingga orang tua Egy meninggal. Mereka pergi, para pelaku itu tak mau bertanggung jawab.


Kejadian itu terekam jelas di ingatan Egy. Bagaimana bis mereka tak punya hati? Selalu pertanyaan itu yang ada di otak Egy begitu ingatan itu kembali, lagi dan lagi. Andai, andai dulu mereka mau bertanggung jawab. Andai dulu mereka mau menolongnya, andai mereka punya belas kasihan. Mungkin ... mungkin saat ini orang tua Egy masih hidup. Mungkin Egy tak harus menyimpan dendam sampai saat ini.


Wajah mereka, Egy selalu mengingatnya. Wajah-wajah orang-orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Egy selalu ingin membalaskan dendam itu. Egy ingin membuat para pelaku itu menderita, biarkan mereka hidup segan matipun tak mau. Egy benar-benar ingin melihat para manusia bajing*n itu hancur.


Kepala Egy sangat sakit, ia tidak peduli pada tatapan memelas orang-orang. Ia hanya terus merintih dengan tangan yang mulai menjambak rambut sendiri.


Egy menggelang, ia tak bersuara. Hanya kedua tangannya yang terus-terus menjabak rambutnya sendiri, ia berusaha meredam rasa sakit di kepalanya.


Davit yang tadinya berjalan kini telah berbalik menghampiri Rizky. Air mukanya berubah cemas melihat Rizky yang berdarah-darah dari kepalanya. Davit bahkan tidak memperhatikan Egy yang masih duduk di jalan.


"Lo, kenapa sih? " tanya Davit.


Rizky hanya meringis. Meski kepalanya berdarah, ia masih sadar sepenuhnya. Luka di kepalanya cukup parah, Rizky bahkan merasa pinggangnya sangat sakit.


"Egy, Egy baik-baik aja, 'kan? " Bukannya menjawab pertanyaan Davit, Rizky justru balik menanyakan keadaan Egy.

__ADS_1


"Egy? Egy kenapa? " tanya Davit bingung. Pasalnya ia tidak tahu bahwa Rizky kecelakaan karena menolong Egy.


Bukannya menjawab pertanyaan Davit, Egy justru berusaha bangkit dari duduknya. Ia menyibak orang-orang yang mengelilinginya. Dengan tertatih ia berjalan. Davit juga ikut berdiri dan mengikuti langkah Rizky.


Rizky melihat Egy yang terduduk dengan mencengkeram kepala. Rizky berusaha mempercepat langkahnya yang tertatih, ia berpikir Egy mengalami luka parah.


"Egy.... Apa Lo, baik-baik saja? Apa ada yang luka? Ada yang sakit, nggak? " tanya Rizky begitu ia sampai terduduk di depan Egy. Rizky tak mempedulikan kondisinya, ia hanya khawatir pada Egy.


Egy yang mendengar suara Rizky pun mengangkat wajah lalu menatap Rizky. Rizky tertegun begitu melihat wajah Egy yang penuh dengan linangan air mata. Hatinya terenyuh, ini kali pertamanya melihat Egy menangis.


Tanpa aba-aba ia merengkuh tubuh Rizky. Egy memeluk Rizky dengan sangat erat, gadis itu bahkan menangis tersedu-sedu. Rizky tertegun dan terkejut saat Egy memeluknya, ia bahkan berpikir, mungkin ini hanya mimpi. Namun begitu mendengar isak tangis Egy, Rizky kembali sadar. Ia segera membalas pelukan Egy dengan tak kalah erat.


"Sudah tidak apa-apa. Semuanya sudah baik-baik saja, " ucap Rizky menepuk-nepuk punggung Egy. Ia berpikir mungkin Egy masih syok dengan kejadian tadi. Padahal dia tidak apa-apa, lukanya tidak terasa sakit lagi begitu Egy memeluknya. Kapan lagi coba dipeluk Egy kayak gini? Kan langka banget.


Galih dan Farel yang baru tiba dan melihat Rizky dan Egy yang berpelukan di jalan pun mematung. Sama seperti yang Davit rasakan, mereka cemburu. Terlepas dari kejadian ini, mereka bertiga sungguh tak rela Egy memeluk Rizky. Mereka juga ingin, ingin sekali malahan. Farel, Galih, dan Davit bahkan sudah tidak peduli pada Rizky yang terluka. Mereka terlalu cemburu sampai lupa bahwa Rizky dan Egy baru saja kecelakaan.


Davit bahkan tak lagi mengingat masalah ibunya sekarang. Terlalu cemburu dan panik sampai-sampai masalah ibu sendiri di lupakan.


Dalam dekapan Rizky, Egy terus menangis. Ia bahkan tersedu-sedu. Bukam, bukan karena sakit atau khawatir pada Rizky. Egy menangis karena ingatan masalalu itu. Melihat Rizky sejujurnya membuat rasa bencinya meluap. Jika seandainya otaknya tak berpikir jernih tadi, ia pasti sudah memaki Rizky dan bisa saja dengan brutal membunuhnya. Namun Egy sadar, ia tidak boleh gegabah.


Dengan begitu, Egy hanya bisa memeluk Rizky. Ia menyembungikan wajahnya di dada bidang cowok itu dan menangis dengan kencang. Dengan cara itu ia meluapkan amarahnya.


"Hiks.... Gue benci! Gue benci sama kalian! Gue benci kalian semua! Gue benci, Lo, Kak! "

__ADS_1


__ADS_2