
Egy saat ini sedang duduk santai di taman kecil belakang sekolah. Ia duduk bersila di rerumputan sembari makan camilan. Egy tampak tak mempedulikan sekitar, ia juga tak mempedulikan Fika yang terus mengoceh di sampingnya.
"Gy, Gue rasa Lo, harus segera menyelesaikan masalah rumor itu! Meskipun di luar sekolah rumor itu telah lenyap, tapi di sekolah kita itu masih hangat dibicarakan. Lo tahu, fans-fans Four Star mulai berkurang sekarang. Bahkan beberapa orang kini mulai terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka mereka pada Four Star, " ucap Fika panjang.
Egy melirik dan berkata, " memangnya mereka berani? "
"Ya, mungkin belum seberani itu. Tapi beberapa orang terus mengolok-ngolok Four Star, bahkan ketika mereka ada di depannya, " terang Fika.
"Itu nggak merugikan Gue sama sekali. So, i dont care! " ucap Egy santai. Ia tidak peduli pada apa yang Four Star alami. Malahan bagus, jika semakin banyak orang-orang yang tidak menyukai mereka.
"Lagian jika Lo cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, Lo bakal terbebas dari mereka. Lo nggak perlu lagi jadi babu mereka, " imbuh Fika.
Egy mengangguk membenarnya, Egy memang ingin segera lepas dari mereka. Terkadang mereka suka bertindak sesuka hati. Tapi, beberapa hari ini Four Star tak lagi menyuruh-nyuruhnya dengan sesuka hati. Sejak Agil mengaku sebaga pacar Egy, Four Star itu justru memberikan perhatian lebih padanya. Tapi mereka juga sedikit posesif, mereka melarang cowok lain mendekatinya. Mereka juga selalu bertengkar dengan Agil saat bertemu.
Egy jadi merinding mengingat kelakuan mereka beberapa hari ke belakang. Four Star terus saja mengikutinya, terus menanyakan hal-hal tidak penting lewat chat. Sudah makan belum, cepat tidur, tidak boleh kecapekan, dan lain-lain. Bahkan ketika Egy baru selesai mengikuti pelajaran olahraga, mereka sudah ada di pinggir lapangan menunggunya dan membawakan minum. Mereka terus memberinya perhatian-perhatian. Egy merasa mereka sedang mencari simpati darinya.
Egy memijit pelipisnya, beberapa hari ini ia dibuat tidak tenang karena Four Star yang selalu mengintilinya.
"Gue belum punya cara buat bersihin rumor itu. Tapi beberapa hari ini mereka justru bersikap baik sama Gue. Mereka nggak lagi ngekang Gue dan nyuruh-nyuruh. Sekarang justru seperti mereka melakukan apapun untuk Gue, " ucap Egy lalu memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
"Iya, 'kah? "
"Maksud Lo, Gue bohong? "
"Maybe! Secara ngapain gitu loh, mereka seperhatian itu sama Lo?! " Fika mengibaskan tangannya ke udara sebagai gerakan merasa apa yang Egy ucapkan adalah halu saja.
"Maybe, they like me! " sahut Egy acuh.
"No! Mereka nggak mungkin suka sama Lo! Nggak mungkin mereka suka sama cewek modelan kek, Lo! " ucap Fika dengan menggelangkan kepalanya.
"Bangs*t, Lo! Gue itu sekelas sama Lalisa Manoban, sebelas dua belas! Jelas aja mereka suka sama Gue! " sungut Egy.
Fika berdecih sinis dan berkata dengan nada mengejek, " ih, memuji diri sendiri. Bohong banget kalau mereka suka sama Lo! "
"Kenapa nggak?! Secara Gue cantik, pintar, kaya lagi. Siapa yang nggak suka sama Gue, " ujar Egy dengan pongahnya.
"Your eyes, Egy! Mata mereka nggak buta, tapi kalau mereka emang suka sama Lo yang modelan kek, gorila ini. Gue rasa mereka udah nggak waras! "
"ANJ**G! BANGS*T! B*B1 LO! "
"Tuh, 'kan kasar! "
"DIAM BANGS*T!"
__ADS_1
"Ish, kasar banget! Kayak gitu, 'kan nggak mungkin mereka suka sama Lo! "
"GUE BILANG DIAM! Punya teman satu tapi ngeselin banget! "
*
*
*
Egy berjalan dengan perasaan kesal. Setelah perdebatannya dengan Fika tadi, Egy lebih memilih pergi meninggalkan gadis itu di taman. Sebenarnya, setiap kali mereka berdebat dan bertengkar, Egy lah yang selalu kalah. Tidak, tidak, lebih tepatnya mengalah. Fika adalah orang yang sangat keras kepalanya, jika berdebat dengannya maka tidak akan ada ujungnya.
Jam istirahat mungkin akan berakhir beberapa menit lagi. Egy memutuskan untuk kembali ke kelasnya saja. Namun Egy berhenti melangkah saat dari arah depan ia melihat Davit. Pemuda itu terlihat tersenyum padanya. Egy kelimpungan, ia malas bertemu dengan Davit. Egy buru-buru hendak memutar tubuhnya dan berlari kabur.
"EGY! "
Aih, Egy tersenyum palsu kepada Davit. Sebelum benar-benar berbalik, ternyata Davit telah berlari ke arahnya.
"Mau ke mana? " tanyanya memegang pundak Egy
"Eeh, nggak ke mana-mana kok, Kak, " jawab Egy.
Davit menatapnya, membuat Egy benar-benar salah tingkah. Bagaimana bisa pemuda setampan Davit ini justru memandanginya secara lamat-lamat. Hal ini berhasil membuat jantungnya memompa darah dengan cepat dan mengalirkan rasa gugup.
"Ya, Gue cukup senggang, " jawab Egy tersenyum.
Davit balas tersenyum. "Sebentar malam, bolehkan Gue ajak Lo nonton? " Davit menatap Egy dengan binar harapan.
Tidak!
Ingin rasanya Egy menjawab seperti itu, tapi sepertinya tidak akan bisa. Selama beberapa hari ini, ia cukup mengenal Davit dengan lumayan baik. Ternyata, Davit memiliki sifat mendominasi. Ia tidak suka mendapatkan penolakan. Sering kali Egy berurusan dengan Davit dan pada akhirnya Egy tak pernah bisa menolak apa yang Davit katakan dan inginkan.
Dari kecil Davit memang terbiasa akan selalu adanya apa yang ia butuhkan. Sedari kecil, apapun yang ia inginkan maka akan ia dapatkan. Dan sekarang ia menginginkan Egy, maka dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Davit tidak pernah untuk tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dan sekarang ia pasti juga bisa mendapatkan Egy.
"Boleh nolak nggak? "
"Nggak! "
Tuh, 'kan bener!
"Emm, boleh deh! Kebetulan juga ini malam minggu, " jawab Egyn kemudian dan terkekeh manis.
Senyum lebar langsung menghiasi bibir Davit. Ia merasa sangat senang karena nanti malam bisa pergi berdua saja dengan Egy. Selangkah demi selangkah untuk mendapatkan Egy.
__ADS_1
"Yes! Nanti malam Gue, jemput Lo! Jangan lupa dandan yang cantik ya, manis! " seru Davit.
Sebelum pergi, Davit memberikan sebuah kiss bye kepadanya. Egy dibuat tercengang oleh tingkah pemuda itu. Egy bahkan terus memperhatikan Davit yang perlahan mulai hilang dari pandangan. "Kenapa dia menjadi sangat menggemaskan? " batin Egy tersenyum mengingat tingkah Davit. Namun sebisa mungkin ia berusaha mengendalikan perasaannya.
Senyum Egy perlahan musnah saat mendengar bisikan-bisikan tak mengenakan dari beberapa murid yang ada di sana. Egy tahu, saat rumor tentang Four Star itu menyebar luas maka dirinya 'pun akan ikut menjadi bahan gunjingan. Semua itu karena dirinya yang akhir-akhir ini semakin dekat dengan Four Star.
Egy menghela nafas saat dengan jelas telinganya itu mampu mendengar gunjingan yang di tujukan padanya. Egy berusaha tersenyum padahal dalam hati mengumpat. Mereka terang-terangan membicarakannya yang tidak-tidak, membuat Egy geram.
"Sudahlah, sepertinya Gue memang harus segera membersihkan rumor itu, " batin Egy.
Baiklah, sekarang ia harus pura-pura tidak peduli. Egy harus segera menyelesaikan masalah ini, tapi bagaimana? Four Star sama sekali tak bisa diajak kerja sama. Mereka terkesan sengaja membuat Egy tidak bisa membersihkan rumor itu agar Egy juga semakin lama menjadi babu mereka. Mereka ingin mengikat Egy di sisi mereka.
"EGY!"
Egy yang hendak melangkah harus urung kembali. Ia berbalik, matanya melihat Rizky yang berlari kecil dan tersenyum manis padanya. Egy berdecih tak percaya. Baru saja yang satu pergi, eh, satunya udah nongol lagi, batin Egy.
Rencana Agil berhasil dan Agil juga berhasil membuat Egy kewalahan menghadapi empat pemuda itu yang setiap hari selalu mengikutinya. Mereka kini terlihat terang-terangan memperebutkan simpatinya.
Rizky tersenyum di depan Egy. Egy akui, senyuman Rizky selalu saja manis dan menawan. Pantas saja banyak yang menyukai Rizky, dia memang memiliki pesona yang luar biasa. Egy mengakui itu.
"Ini buat, Lo! " Rizky menyodorkan sekotak mika berisi buah Strawberry. Egy menerimanya dengan bingung.
"Kemarin Gue, kasih Lo susu rasa strawberry tapi ternyata Lo nggak suka. Lo suka buah strawberry tapi Lo, nggak suka makanan yang memiliki rasa strawberry, " jelas Rizky.
Egy tersenyum dan mengangguk paham. Dalam hati ia berdecak kagum, secepat itukah Rizky mengorek informasi tentangnya? Rizky pasti baru saja menstalking-nya. Egy memang sangat menyukai strawberry namun dia tidak suka makanan yang memiliki rasa strawberry. Ternyata Rizky bisa tahu apa yang ia suka.
Rizky tersenyum tapi hatinya meringis ngilu. Menatap Egy yang tersenyum seperti ini membuatnya semakin merasa bersalah. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat mencintai Egy, dia tidak ingin Egy membencinya.
"Kak Rizky perhatian banget sama Gue, " ucap Egy dengan terkekeh.
"Ya, cuman sama Lo! " sahut Rizky. Egy semakin tertawa mendengarnya.
"Wah, wah! Kak Rizky jago ngegombal sekarang! "
"Iya, apapun demi Lo! " Rizky kembali melontarkan kalimat godaannya.
Sungguh ini kali pertamanya merayu seorang perempuan. Sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini, Egy adalah satu-satunya gadis yang berhasil membuatnya sebucin ini.
Egy dibuat salah tingkah oleh Rizky. Rizky terus-terusan menggodanya, membuat dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Rizky tertawa keras, ia mengacak rambut Egy merasa gemas.
"Gue nggak peduli apapun sekarang! Asalkan Gue bisa buat Lo, jatuh cinta sama Gue, Gue yakin semuanya akan baik-baik saja. Lo nggak mungkin benci sama orang yang Lo cintai, jadi Gue akan buat Lo cinta mati sama Gue! " lirih Rizky membatin. Di balik senyum manisnya, dia menyimpan beban yang sangat berat. Sikapnya yang selalu terlihat polos menjadi penutup rahasia yang ia pendam selama ini.
Ini adalah rencananya, membuat Egy jatuh cinta padanya. Biarkan Egy mencintainya sedalam mungkin. Dengan begitu, meskipun kebenaran terungkap suatu hari nanti, Egy tidak akan membencinya karena gadis itu cinta mati padanya.
__ADS_1
"Maaf, Egy. Maaf.... Mungkin Gue kejam dan Egois. Maaf, Gue sayang banget sama Lo! "