Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Kecelakaan


__ADS_3

"Lebih baik kita segera mencari Davit. Gue benar-benar nggak tenang, " seru Rizky. Terlihat jelas air mukanya yang nampak begitu khawatir.


Egy menatap tiga pemuda di depannya, mereka terlihat sangat khawatir. Ia tersenyum samar. "Kita pencar aja, Kak, supaya cepat ketemu, " timpalnya.


Tiga pemuda itu mengangguk, perlahan mereka mulai meninggalkan Egy satu persatu menuju arah yang berbeda. Sedangkan Egy masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia mengedarkan pandangan, menatap orang-orang yang masih sibuk membicarakan tentang Ranny dan juga ... Davit.


Egy menunduk dan menghembuskan nafas dengan pelan. Tiba-tiba saja ia merasakan hatinya berdenyut nyeri. Seperti ada sebuah rasa penyesalan atas kekacauan yang telah ia buat. Sebisa mungkin ia menepis jauh-jauh perasaan itu.


Drettt.... Dretttt.... Drettt.


Egy menatap gawainya yang bergetar, tertera nama Agil di sana. Ia biarkan gawainya itu terus berulang, bahkan hingga si penelepon harus menghubunginya secara berulanga.


"Ya, Kak. "


[Bagaimana?] Suara Agil terdengar sangat datar.


Egy menelan ludah susah. "Hebat! Aku sangat suka! Sekarang semua orang menghujatnya, reputasinya pasti hancur. "


Egy dapat mendengar Agil tertawa di seberang sambungan sana. Entah apa yang pemuda itu tertawakan, hanya saja itu terdengar angkuh dan penuh kepuasan.


[Ini baru pembukaan, Egy. Target akan diserang secara terang-terangan mulai sekarang dan untuk bom waktu yang telah kita tanam, tinggal tunggu waktunya saja. ]


Egy memejamkan mata, tujuan balas dendamnya mulai menunjukkan titik terang. Sedikit lagi, semuanya akan terbalaskan. Semuanya rencananya perlahan telah menunjukkan hasil.


Egy menerbitkan senyum.


"Aku tidak sabar melihat mereka hancur! Aku akan menjadi orang yang paling bahagia atas kehancuran mereka, " ucapnya.


Tak ada sahutan dari Agil. Hanya terdengar helaan nafas beratnya.


[Semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu. Panah dendam ini tidak akan pernah meleset.]


Tut!


Tut!

__ADS_1


Tut!


Tak ingin orang lain mencurigainya, Egy segera melangkah pergi. Seperti rencananya bersama tiga pemuda tadi, ia akan mencari keberadaan Davit. Entah apa yang cowok dingin itu lakukan saat ini.


Egy melangkah lurus, ia tidak perlu repot-repot memutari sekolahan untuk mencari Davit. Jika Davit ingin bersembunyi maka biarkan saja. Egy juga tidak ingin mencarinya.


Tapi dia yang tidak ingin mencari Davit justru melihat pemuda itu tengah berjalan tergesa ke arah gerbang keluar. Entah bagaimana cara Rizky, Farel, dan Galih mencari Davit, dia yang santai saja malah bertemu dengan Davit tapi mereka tidak dapat menemukan Davit.


Egy berdecak, dengan terpaksa ia berlari mengejar Davit. "KAK DAVIT! " teriaknya.


Davit terpaku dan berbalik, melihat Egy yang berlari ke arahnya ia tertegun. Egy tersenyum padanya. Tidak, untuk saat ini ia tidak ingin bertatap muka dengan Egy.


Melihat Davit yang hendak lari, secara refleks Egy memekik. "KALAU, KAK DAVIT, KABUR, GUE BAKAL BLACKLIST, KAK DAVID! "


Spontan saja Davit tak jadi lari. Ia berdiri kaku melihat Egy yang mulai mendekat ke arahnya. Setelah berdiri di depannya, Egy memasang wajak jutek.


"Kak Davit, dari mana aja? Gue sama yang lainnya nyariin, Kakak! " kesal Egy.


Davit diam, ia justru memalingkan wajahnya dan terlihat enggan menatap Egy. Sebenarnya bukan enggan, tapi Davit malu pada Egy. Setelah video viral tentang kelakuan buruk Ranny tersebar, Davit rasanya malu bertemu dengan Egy.


"Kak Davit, cuekin Gue? " Egy semakin kesal.


"Lo, nggak perlu nyariin Gue! " balas Davit.


Egy memutar bola matanya dengan malas. "Gue juga nggak mau nyariin, Kak Davit. Bukan Gue yang khawatir, tapi teman-teman, Lo! " tandas Egy dengan tajam. Perkataannya juga bukanlah kepura-puraan.


Davit mendesis pelan, jawaban Egy kurang lebihnya juga sedikit melukai hatinya. Egy terlihat tidak peduli padanya, membuatnya langsung memasang wajah yang begitu datar.


Entahlah, sejak menyukai Egy, Davit jadi mudah baper. Ia juga mudah tersinggung. Saat ini ia merasa sedih dengan tiba-tiba. Bukan karena Ranny tapi karena Egy. Ia berharap gadis itu peduli padanya, tapi ternyata tidak sama sekali.


"Lo, nggak perlu repot-repot, " desis Davit.


Egy termangu menyadari tatapan dan nada bicara Davit yang berubah datar. Ia bertanya, apakah ia salah bicara? Egy tidak tahu dan tidak menyadari apapun.


"Kak Davit beda banget, sih! Biasanya, Kakak, juga nggak peduli sama hal-hal kayak gini. Kenapa sekarang jadi beda? Bukannya udah biasa kalau artis itu kena kasus-kasus macam ini? Pasti banyak orang yang mau jatuhin popularitas ibu, Lo, " seru Egy. Secara tak langsung ia sedang mengingatkan Davit untuk tidak memedulikan hal-hal itu.

__ADS_1


Egy seolah lupa bahwa masalah yang menimpa Ranny dan Davit sekarang itu dalangnya adalah dia.


Benar! Seorang artis yang begitu disukai banyak orang pasti juga memiliki banyak haters. Ranny mungkin juga memilikinya. Tapi soal video itu, jika memang ingin menjatuhkan Ranny maka orang itu hebat. Selama ini kelakuan Ranny bisa ditutupi rapat-rapat. Ranny selalu saja bisa membungkam orang-orang yang ingin menjatuhkannya, entah itu dengan kekuasaan atau uang.


Video itu bukan rekayasa. Kelakuan Ranny dalam video itu adalah kelakuannya yang sebenarnya.


Davit malu sebagai anak, malu tentunya punya ibu yang memiliki perangai buruk.


"Lo, nggak tahu apa-apa! " cetus Davit.


Egy berdecak. "Gue emang nggak tahu, tapi yang Gue omongin benar, 'kan? Lagian itu ibu, Lo, seharusnya, Lo, yang paling percaya sama dia, " balas Egy.


Dalam hati Egy menyeringai sinis, dia tahu betul bagaimana hubungan Ranny dan Davit. Hubungan mereka dingin dan hambar. Rannya yang sibuk bekerja dan Davit yang cuek, dan akhirnya hubungan mereka berjalan lurus tanpa sesuatu yang begitu menyenangkan.


Apa yang harus Davit percayai? Percaya bahwa video itu hanya rekayasa? Atau percaya bahwa video itu benar adanya? Dan Davit lebih percaya bahwa tindakan ibunya memukul staf magang hanya karena kesalahan kecil itu memang benar. Dia anaknya, Davit sangat tahu sifat ibunya yang arogan dan sombong.


"Sudahlah. Gue butuh waktu untuk sendiri dulu! Lo, nggak perlu khawatir! "


Tanpa mempedulikan Egy, Davit melangkah pergi. Egy terdiam beberapa saat dan membiarkan Davit meninggalkan sendiri di depan gerbang. Dia tadi sudah berbaik hati memberi nasihat, Davit tak menerimanya, ya, sudahlah.


Namun begitu ia mendengar suara Rizky dari belakang yang memanggil Davit, secara refleks Egy mengikuti langkah Davit.


Ia mengikuti pemuda itu yang kini telah sampai di seberang jalan. Egy tanpa sadar melangkahkan kakinya ke jalan raya, mengikuti jejak langkah Davit.


Namun kejadian yang layaknya adegan sinetron itu tiba-tiba saja terjadi. Sebuah adegan di mana pemeran di dalamnya hendak tertabrak mobil. Sebuah mobil minibus melesat kencang ke arahnya. Hal yang di sayangkan adalah Egy tak menyadari itu. Dia terlalu fokus mengejar langkah lebar Davit. Ia tergesa-gesa untuk menyamai langkah Davit.


Dari belakang ada Rizky dengan kepanikannya. Tanpa ba bi bu, ia berlari ke arah Egy. Pikirannya kalut, ia tak bisa memikirkan hal lain selain menyelamatkan Egy.


Dan....


Brakh!


Brukh!


Kecelakaan tak dapat dihindari.

__ADS_1


__ADS_2