Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Perhatian dari Davit


__ADS_3

"Kak Davit? Kakak, kok bisa ada di sini? " tanya Egy dengan syok. Buru-buru ia menyembunyikan gawai miliknya ke dalam saku, takut-takut Davit melihat ia berbalas pesan dengan seseorang. Tidak masalah dengan siapa, hanya saja isi pesan itu sangat berbahaya jika Davit mengetahuinya.


"Ck, Gue udah di sini dari tadi, " jawab Davit.


Davit menatap Egy dengan begitu tajamnya. Membuat Egy yang ditatap seperti itu merasa amat gugup. Ia berpikir, mungkinkah Kak Davit tahu apa yang Gue lakuin tadi?


Davit turun dari ranjang. Tanpa mengalihkan tatapannya ia mendekati Egy. Sontak saja Egy beringsut mundur.


"Eh, eh, Kak Davit mau ngapain? " Egy panik. Ia menatap Davit dengan was-was.


Degh!


Tubuh Egy membeku saat merasakan sentuhan tangan Davit di keningnya. Perlahan ia mendongak menatap Davit. Sorot mata Davit tak lagi setajam tadi tapi kini justru terlihat khawatir.


"Badan Lo, gak panas. Lo bilang tadi pusing, apa sekarang masih pusing? " tanya Davit.


Egy gelapan mendengar pertanyaan dari Davit. "Eeh, iya. Udah mendingan kok, Kak! "


"Kenapa? Lo belum makan? "


Lagi dan lagi Egy dibuat tercengang oleh Davit. Hari ini Davit terlihat sangat berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari pemuda itu terdengar seperti sangat khawatir. Davit terlihat sangat perhatian padanya.


"Kak Davit nggak marah? " Egy merasa heran. Bukankah seharusnya Davit marah karena rumor yang tersebar itu? Tapi Davit sama sekali tak menunjukkan amarahnya. Bahkan pemuda itu terlihat semakin perhatian padanya. Sikap dinginnya seolah-olah sirna secara perlahan.


"Marah? " Davit balik bertanya.


Egy merubah posisinya menjadi duduk bersila. Ia membiarkan Davit duduk di depannya. "Rumor itu semakin menyebar. Seharusnya Kakak, marah sama Gue? Gue penyebab ini semua, " lirih Egy.


Davit tersenyum tipis. "Tenang aja, Gue bukan Galih yang bakal selalu marah-marah sama Lo. Lagian Gue udah biasa sama hal-hal kayak gini, " ucap Davit.


"Seharusnya teman-teman Kak Davit juga berpikir seperti itu supaya Aku tidak perlu pusing-pusing memikirkan cara membersihkan masalah ini, " keluh Egy.


"Jika mereka berpikiran sama kayak Gue.... " Davit menggantung ucapannya dan menyeringai tipis.


"Apa, Kak? "


"Maka Kita gak bakal sedekat ini sekarang, " jawab Davit namun hanya dalam hati.

__ADS_1


Davit mengusap kepala Egy dengan gemas. Menurutnya, tatapan mata Egy yang terlihat penasaran itu sangat menggemaskan. "Apa? "


"Ish, kok malah balik nanya sih! " ketus Egy mendengus kesal.


"Sudahlah, lupakan! "


"Lo nggak perlu terlalu mikirin masalah rumor itu, " seru Davit.


"Ck! Kalau Gue, nggak mikirin itu, gimana caranya Gue bakal nyelesain masalah ini. "


"Ya, baguslah. Itu artinya Lo, bisa semakin lama jadi babu Gue " ucap Davit dengan tertawa kecil.


"Ish, ish, ish! Enak di Kakak susah di Gue nya, " ketus Egy.


"Hmm! Yang jelas jangan sampai sakit! " ujar Davit kemudian. Ia menatap Egy dengan senyum tulus. Hal itu tentu saja membuat Egy menjadi gugup. Ini kali pertamanya melihat Davit tersenyum begitu tulus. Biasanya ia hanya melihat Davit yang selalu berwajah dingin.


"Gila! Demi apa?! Kenapa Kak Davit seperhatian ini sama Gue?! Akh, anj**g! Kenapa Gue jadi gerogi, sih?! " jerit Egy membatin. Jujur saja Egy masih tak menyangka bahwa Davit bisa begitu perhatian seperti ini padanya.


Mungkin terdengar sedikit alay, tapi faktanya Egy benar-benar tercengang. Davit, si pemuda gagah dan ganteng dikenal akan sikap cuek dan dinginnya. Semua murid di sekolah ini juga tahu. Davit hanya akan bersikap hangat jika bersama teman dekatnya, keluarga dan orang-orang spesial baginya. Lantas, Egy termasuk yang mana? Teman baik? Bukan, karena mereka juga baru kenal beberapa hari yang lalu. Keluarga? Juga bukanlah. Lalu apakah orang yang spesial?


*


*


*


Davit menggandeng tangan Egy menuju Kantin. Egy merasa risih melihat tatapan siswa-siswi yang mengarah padanya. Setelah rumor itu tersebar, Egy menjadi sangat terkenal di sekolah ini. Semua murid mengenalnya sebagai siswi yang berani mencari masalah dengan Four Star. Ada juga yang menyebutnya hanya caper saja bahkan banyak siswi-siswi yang menyebutnya kegatelan.


What the hell?


Berbeda lagi dengan Davit. Pemuda tampan itu justru berjalan dengan santai. Ia bahkan mengeratkan genggaman tangannya saat merasa Egy berusaha melepaskan genggaman itu. Davit tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Sangat tidak penting baginya.


Sesampainya di kantin, Davit membawa Egy menuju tempat yang telah di duduki Galih, Farel, dan Rizky. Egy meringis ngeri saat melihat tatapan ketiga pemuda itu begitu melihat kedatangannya. Mereka seperti ingin menelan Egy hidup-hidup.


"Dari mana Lo, Cil? " tanya Farel begitu Davit dan Egy duduk.


"Eh, nggak dari mana-mana kok, Kak, " jawab Egy tersenyum.

__ADS_1


Farel memicingkan matanya curiga. Melihat Egy yang datang bersama Davit membuat berpikir, pasti terjadi sesuatu. Ada sedikit rasa tak suka saat melihat Davit menggandeng tangan Egy. Apalagi Egy terlihat menerimanya dengan senang hati. Hatinya tiba-tiba merasa panas.


"Lo udah tahu kalau rumor itu udah nyebar ke sosial media? " pertanyaan dari Farel mengarah ke Davit dan hanya mendapatkan anggukan kepala sebagai jawaban.


"Dan ini karena, Lo! Gimana pun caranya, Lo, harus segera membersihkan nama kita dari rumor-rumor itu, " cetus Galih menatap Egy dengan tajam.


Egy menghela nafas mendengarnya. "Kalian bahkan tidak mau mengikuti rencana Gue, gimana masalah ini mau selesai coba? " keluh Egy.


"Ya, Lo harus pikirkan cara lain, " sewot Galih.


"Iya, iya! Sewot banget, sih! "


"Apa Lo?! "


Rizky, Davit, dan Farel melihat pertengkaran Egy dan Galij dengan malas. Mereka berdua ini setiap kali bertemu selalu saja bertengkar. Apapun itu selalu saja mereka perdebatkan. Mereka berdua terlihat kekanak-kanakan. Ditambah sikap Galih yang enggan mengalah pun juga Egy sehingga pertengkaran mereka seakan selalu saja ada sambungannya.


"Kalian ini setiap bertemu selalu bertengkar! Kalian seperti anak kecil, " lerai Rizky.


Egy dan Galih terdiam dan saling melemparkan tatapan membunuh. Peperangan antara mereka berlanjut lewat isyarat mata.


"Dengat, Egy. Gue bakal mau punya pacar kalau.... "


Egy sepenuhnya mengalihkan fokusnya ke Rizky. Ia menunggu Rizky melanjutkan ucapannya. Ada binar bahagia begitu mendengar ucapan Rizky. Dengan begitu, artinya ia bisa segara terbebas dari empat pemuda itu.


"Kalau apa, Kak? " tanya Egy tak sabaran.


"Kalau yang jadi pacar Gue itu ... Lo! "


Jawaban Rizky benar-benar membuat Egy terkejut setengah mati. Bagaimana bisa? Ba--bagaimana mungkin? Batin Egy tak percaya.


"Gue juga! "


"Gue juga! "


"Gue juga! "


Akh! What the fu*k?

__ADS_1


__ADS_2