Dicintai Pria Tampan

Dicintai Pria Tampan
Buat mereka mati cemburu


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, kicauan burung tiada terdengar di tengah padatnya kota. Pohon-pohon mulai hilang dari pandangan bergantikan oleh gedung-gedung bertingkat. Tapi tidak di kediaman Egy, lingkungan sekitar rumahnya masih sanggup dikatan asri. Ada banyak tanaman dan pepohonan, kicauan ayam dan burung sering menjadi alarm alami setiap paginya.


Egy keluar dari rumah, di samping pintu rumahnya sudah ada Agil yang berdiri bersandar di tembok. Seperti biasanya, tatapan mata itu selalu datar.


"Hari ini berangkat bareng! "


Egy memicingkan mata. "Kenapa? Biasanya juga berangkat sendiri-sendiri! "


Waktu masih sangat pagi. Biasanya ketika Egy berangkat sekolah maka Agil baru bangun dari tidurnya. Namun pagi ini lain dari biasanya, Agil sudah stand by di depan rumahnya dengan penampilan khasnya, acak-acakan. Begitupun ia tetap sangat tampan.


Mereka memang sangat jarang berangkat sekolah bersama, bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Meski rumah bersebelahan, dari kecil hidup berdampingan, bahkan sudah jadi keluarga, Egy dan Agil tidak memiliki agenda berangkat dan pulang sekolah bersama.


Alasannya cukup simple, Agil dan Egy punya kebiasaan bangun pagi yang berbeda. Egy selalu bangun sangat pagi, berangkat sangat pagi, dan juga tak pernah telat datang sekolah. Jadi Egy tak sudi menunggui Agil yang selalu bangun kesiangan dan lebih sering telat datang sekolah. Biar Agil saja yang bandel, Egy tidak mau.


"Buat mereka semakin cemburu, " jawab Agil dengan singkat. Decakan tak sependapat terdengar dari mulut Egy.


"Harus, ya, buat mereka cemburu? " cetusnya tak suka ide Agil.


Agil memiringkan kepalanya menatap Egy intens.


"Ya, mereka sudah cukup bersenang-senang kemarin. Hari ini biarkan mereka cemburu setengah mati. Aku juga mau balas dendam karena kamu pulang larut semalam, " terang Agil.


"Astaga! Ternyata masih soal yang semalam, " ucap Egy terkekeh kecil.


Semalam, begitu Egy membuka pintu rumahnya, Agil sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu. Hal yang biasa jika Agil bisa masuk rumahnya, rumah Egy sudah seperti rumah Agil sendiri.


Habis-habisan Egy dimarahi Agil. Agil memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang Davit lakukan sampai ia bisa pulang malam. Egy jujur saja, ia menceritakan semuanya termasuk bagaimana Farel tertidur dipangkuannya hingga ia tak bisa pulang.


Agil semakin marah mendengarnya. Ia mengatakan, kenapa juga Egy harus tak tega. Agil memperingati Egy, kedekatan Egy dan Four Star memang salah satu trik kecil dari mereka untuk balas dendam tapi bukan berarti Egy harus bersikap lembut. Biarkan mereka menyukai Egy apa adanya.


Agil tak ingin Egy luluh, rencana besar mereka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Egy tak boleh ragu karena itu percuma sekarang.


"Biarkan saja! Huh, mereka akan mati karena menahan cemburu sekarang! "


*


*


*

__ADS_1


Hari ini Egy dan Agil benar-benar berangkat bersama. Mereka mengendarai motor besar milik Agil, hingga membuat decakan kagum siswa-siswi yang melihat mereka. Para kaum hawa iri padanya, sudah dekat dengan para Four Star, Egy juga dekat dengan Agil, si Badboy Prince. Entah keberuntungan apa yang Egy miliki.


Egy Dan Agil berjalan berdampingan, lengan Egy bahkan mengait lengan kekar Agil. Sorak-sorak menggoda terdengar dari para murid yang menyoraki mereka. Egy tersenyum sedang Agil bertahan pada ekspresi datarnya.


Dari jauh, kobaran api cemburu membakar hati empat remaja bersahabat yang sama-sama menyukai Egy. Davit, Galih, Farel, dan Rizky mati-matian menahan emosi yang hampir meledak.


"Mereka pikir mereka siapa? Berani-beraninya bermesraan di sekolah! Huh! " Mereka baru tiba di sekolah dan di suguhi pemandangan yang meremas hati. Ck, sangat menyakitkan.


Waktupun berjalan cepat hingga jam istirahat telah tiba. Seluruh murid-murid MoonStar High School berhamburan keluar kelas. Banyak yang pergi ke kantin, ada juga yang menuju perpustakaan, ruang osis, lapangan, dan ruang-ruang latihan. Mereka semua melakukan aktivitas dengan hati gembira.


Masih sama dengan pagi tadi, Egy dan Agil bergandengan menuju kantin. Mereka menuju bangku paling pojok dan mengabaikan tatapan-tatapan yang tertuju pada mereka.


"Nggak ada pergerakan sama sekali, tuh, Kak, " seru Egy begitu selesai memesan makanan.


Agil melirik keramain kantin lalu menatap Egy dan berkata, " Tunggu sebentar lagi! "


"Tidak seru! " gumam Egy yang dengan jelas didengar Agil.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Mereka yang duduk bersebelahan kian saling mendekatkan diri. Agil dengan begitu santai menyuapi Egy. Mereka terlihat santai dan mengobrol seru, benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.


"Kak, gimana menurutmu soal rencanaku kemarin? " Egy menyeruput es tehnya.


Agil menggeleng. "Bicarakan di rumah saja, disini banyak telinga kurang kerjaan. "


Egy mendekatkan wajahnya ke telinga Agil dan berbisik, " Saranghaeyo! "


Egy tertawa melihat ekspresi Agil. Itu ekspresi kesal bukan salting. Egy mempermainkan Agil, padahal Agil sudah serius mendengarkan apa yang hendak Egy bisikkan.


"Hmm! " Agil mengacak-acak surai hitam Egy.


Mereka tertawa bersama.


SRET!


GREP!


Egy cengo, dalam sekejap mata dia sudah pindah tempat duduk. Kini dia duduk berhadapan dengan Agil. Dia menatap Agil yang kini diapit Farel dan Davit. Egy melirik ke samping, ada Rizky dan Galih di samping kanan dan kirinya.


Egy speechless!

__ADS_1


Kenapa dia bisa pindah posisi?


Ternyata, karena rasa cemburu yang sudah tidak dapat di tahan. Dengan terburu-buru, empat sahabat itu mendatangi meja Egy. Menarik Egy dan mendudukannya di bangku yang berhadapan dengan bangku Agil. Dua bangku panjang yang saling berhadapan itu kini diisi enam orang. Farel dan Davit sengaja mengapit Agil agar dia tidak berdekatan dengan Egy, begitupun Rizky dan Galih yang mengapit Egy.


Mereka melakukan itu karena tak tahan sejak tadi melihat dari jauh Agil dan Egy yang bermesraan.


"Apa-apaan ini?!" teriak Agil dan itu berhasil memancing atensi manusia-manusia yang berada di kantin. Agil bahkan sampai berdiri menggebrak meja.


"Bersisik! " ketus Davit. Ia menarik Agil agar duduk kembali.


Dari depan, Egy terkikik dalam hati melihat Agil yang sangat kesal. Rencana mereka berhasil, hanya saja sedikit berbeda dari perkiraan. Ternyata Four Star berani memisahkan sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Mereka sudah tidak peduli image.


Tapi menurut Egy, reaksi marah Agil tadi sangatlah lucu. Dia jarang melihat Agil marah, sekalinya marah malah menurutnya lucu. Ayolah, Agil, 'kan hanya akting.


"Kalian ngapain di sini? Ganggu banget, " ucap Egy.


Wajah-wajah Four Star merah padam. Egy secara tak langsung mengusir mereka.


"Di sekolah dilarang pacaran! " tandas Farel menatap tajam Egy, sayangnya Egy yang ditatap seperti itu biasa saja.


"Sejak kapan ada peraturan seperti itu? "


Aura dingin si Badboy Prince menguar begitu saja. Four Star tak gentar, mereka tak takut pada si berandal, Agil.


"Ada! Mulai dari sekarang, ada! " sahut Galih bersungut-sungut.


Egy dan Agil saling tatap. Lewat tatapan mata itu mereka seolah berbicara, rencana kita berhasil.


Dan memang benar-benar berhasil. Agil berhasil membuat Four Star cemburu setengah mati. Mereka mungkin bisa mati berdiri jika melihat Agil dan Egy yang terus bermesraan.


Rasa cemburu itu memang ada, bahkan merupakan sebuah perasaan yang paling susah dikendalikan. Cemburulah yang kini merajai hati empat remaja tampan itu. Bahkan kini secara berani terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka.


Four Star terdiri dari empat pria tampan, pintar, dan kaya. Keempatnya menyukai gadis yang sama, gadis yang mereka ketahui telah memiliki kekasih. Mereka tahu mereka salah karena ingin memisahkan sepasang kekasih. Tapi mereka juga tak ingin menyerah pada cinta sebab Agil dan Egy belum terikat hubungan pernikahan. Jadi, mereka bebas merebut Egy dari Agil.


Egy dengan Agil baru memulai adegan mesra yang sederhana namun Four Star telah cemburu setengah mati. Mereka lupakah? Mereka bersaing memperebutkan Egy. Jika suatu saat salah satu dari mereka berhasil mendapatkan Egy, akankah yang lainnya akan ikhlas?


Sepertinya tidak! Tetap akan ada hati yang cemburu dan terluka. Pada akhirnya, mungkin persahabatan mereka tak akan sehangat yang sebelumnya.


"Kak Farel lucu! Kalau begitu kenapa Kakak, tidak menyuruh mereka untuk berhenti pacaran juga? "

__ADS_1


Egy menarik satu sudut bibirnya membentuk seringaian khas. "Kalian sangat menyebalkan! Kalian mengganggu kami! "


Ayo, Egy! Buat mereka semakin marah! Buat mereka semakin cemburu. Jangan berhenti, ini menyenangkan. Ini salah satu cara menyiksa mereka dengan perlahan dan tanpa disadari.


__ADS_2