
"E--Egy.... "
"Ya, kenapa? Bukannya ini yang, Kak Davit mau? "
Ada apa dengan tingkah Egy? Kenapa dia terlihat seperti sedang menggoda? Tidak tahu, 'kah dia bahwa yang dia lakukan itu membuat Davit gugup dan juga ... panas.
Sebisa mungkin Davit mengontrol tubuhnya agar jangan bertindak lebih apalagi membalas perlakuan Egy. Davit tidak ingin Egy berpikir bahwa dia murahan karena menerima pelukan manja Egy begitu saja.
"Egy! Apa yang Lo, lakukan? " Davit berusaha melepaskan lengan Egy yang membelit lengannya.
"Apa lagi! Kak Davit ingin di peluk, ya udah, Gue peluk sekarang, " jawab Egy dengan begitu santainya. Ia bahkan mengeratkan pelukannya.
Egy juga menyandarkan kepalanya di bahu Davit dan kembali fokus menonton. Davit benar-benar dibuat tak menyangka oleh tingkah Egy. Dia terlihat biasa-biasa saja sedangkan dirinya yang dipeluk seperti itu merasa sangat deg-deg'an.
Tapi Davit juga merasa sangat senang dipeluk Egy seperti ini. Rasanya perutnya seperti dipenuhi oleh kupu-kupu. Tunggu...! Tidak, Davit! Tidak!
"Apa yang Lo, lakuin Davit? Jangan terbawa suasana! Bagaimana jika Egy berpikir bahwa Lo, terlalu murah*n? " monolog Davit. Dia tidak boleh menerima pelukan Egy begitu saja. Mereka tidak ada ikatan sekarang, ia tidak mau Egy berpikir ia terlalu murahan karena mau dipeluk-peluk.
"Egy, bisa lepaskan? " Davit berusaha menarik lengannya.
Egy menoleh dengan satu sudut bibir terangkat. "Kenapa? "
"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, jadi tidak boleh berpelukan seperti ini, " ucap Davit.
"Jadi tidak boleh? "
"Iya! "
"Bukannya tadi Kakak, yang ingin dipeluk? "
Davit gelagapan, ia bingung mau menjawab apa. Dia tadi memang berharap Egy memeluknya tapi bukan di situasi seperti ini. Tadinya dia berpikir dapat menciptakan situasi romantis dan membuat Egy tersentuh tapi sekarang yang ada, dirinya yang dibuat baper oleh Egy. Meskipun Egy sadar akan apa yang ia lakukan tapi tak seharusnya ia melakukan ini. Davit laki-laki, ia bisa saja hilang kendali.
Davit memalingkan wajahnya dari Egy, tapi detik berikutnya ia kembali menatap Egy. Davit baru menyadari, bahwa di sekilingnya dipenuhi pasangan-pasangan kekasih yang sedang bermesraan. Ada yang saling berpegangan tangan, berpelukan, bahkan ada pasangan yang sedang berciu*an. Seperti yang ada di drama-drama korea. Tadinya Davit berpikir dan berharap adegan-adegan itu terjadi padanya, tapi kini ia tidak mau. Ia merasa, tidak seharusnya melakukan hal seperti itu dengan gadis yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.
Davit merutuk dalam hati. Sepertinya ia memang salah memilih genre film yang ditonton, saran yang buruk jika ingin mengencani Egy dengan memilih menonton film horor.
"Gue yang salah! Nggak seharusnya kita berpelukan seperti ini, Lo punya pacar! " ujar Davit memejamkan mata.
__ADS_1
Egy tertegun. Egy tersenyum menatap Davit yang menutup matanya rapat-rapat. Sesuatu dapat ia tangkap dari maksud Davit. Yang jelas, pemuda itu ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan melindunginya. Sangat gentle terhadap perempuan.
Perlahan Egy menarik tanganya yang memeluk lengan kekar Davit. Boleh ia katakan, ia suka kejujuran Davit. Meski Davit bersikap dingin tapi ternyata ia memiliki sisi lain yang menakjubkan. Jujur dan sangat lucu.
"Oke, oke! Udah Gue lepas, " ucap Egy mengangkap kedua tangannya di samping telinga.
Perlahan Davit membuka matanya, ia bernafas lega karena Egy sudah melepaskan pelukan di lengannya. Suasana yang seharusnya seram karena film yang sedang diputar, tapi Davit justru merasakan lain. Dia merasa canggung.
"Kak Davit lucu! "
Eh! Davit memandang Egy dengan cengo, ia tak paham dengan ucapan Egy.
"Kakak terlalu jujur dan itu sangat menggemaskan. Gue suka! "
Degh!
Degh!
Degh!
Davit memukul pelan kepalanya.
Ugh! Apa kata teman-teman basketnya jika tahu ketua mereka ini ternyata sangat baperan.
Davit dapat merasakan pipinya yang memanas. Mungkin saja sekarang pipinya itu terlihat memerah. Ia memalingkan wajahnya agar Egy tidak melihat pipinya yang merah bak kepiting rebus.
Sayangnya Egy melihat itu dan dia tertawa melihat tingkah lucu Davit.
*
*
*
Kini Davit dan Egy telah keluar dari bioskop. Keduanya tengah bersandar santai pada mobil. Suasana parkiran nampak cukup ramai, namun hanya keheningan yang ada di antara Davit dan Egy.
"Ki--kita mau ke mana setelah ini? " Davit membuka suara dengan gugup. Jujur saja ia masih merasa canggung. Jantungnya terus berdebar hebat sejak tadi.
__ADS_1
Egy menoleh dan menjawab, " ke mana saja, terserah! "
Setelah mendengar jawaban Egy, Davit nampak berpikir. Malam belum terlalu larut, ia rasa belum saatnya pulang dan dia juga masih ingin berlama-lama bersama Egy. Tapi jika pergi lagi, ke mana? Ia belum memilih tempat yang pas. Tadinya ia pikir akan pergi ke tempat yang Egy inginkan. Tapi gadis itu malah menjawab terserah saat di tanya ingin ke mana.
"Ke taman saja, bagaimana? " usul Davit.
Egy menimang. " Oke! "
Setelah beberapa saat perjalanan, mereka kini telah sampai di taman. Suasananya sangat ramai. Apalagi taman yang dihiasi lampu warna-warni membuat suasana malam begitu indah.
Setelah berjalan beberapa saat, Egy dan Davit memilih duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sudut taman. Mereka sama-sama terdiam. Egy menikmati pemandangan langit malam yang penuh bintang, sedang Davit sibuk menata hatinya yang terus berdebar.
"Apa Lo, haus? "
Egy menoleh dan mengernyit bingung. Tapi kemudian dia mengangguk saja.
"Emm, Gue beli minum dulu, ya? "
Davit beranjak pergi. Sebenarnya membeli minum adalah alasannya agar bisa menenangkan hatinya barang sebentar saja. Ia merasa sikapnya sudah jauh berbeda dari biasanya. Dia tidak ingin Egy terus-terusan melihat dirinya yang mudah tersipu ini. Ia tidak ingin Egy menganggapnya remeh.
Egy hanya tersenyum, ia membiarkan Davit pergi membeli minum. Setelah Davit pergi, Egy meraba dadanya. Ada perasaan hangat yang muncul. Dia nyaman. Akhir-akhir ini ia menikmati kedekatannya bersama empat pemuda itu.
"Gue nggak boleh jatuh cinta sama mereka. Satupun nggak boleh, " batin Egy.
Sembari menunggu Davit, Egy memilih mengecek gawainya. Beberapa pesan masuk dari nomor Agil. Egy menggeleng pelan, Agil mengiriminya pesan yang menurutnya tidak penting. Pemuda itu terus-terusan memperingatkannya untuk tidak baper. Ck, lagian siapa sih yang baper, pikir Egy.
Beberapa saat berlalu dan Davit belum kembali juga. Egy mengedarkan pandangannya, Davit tak terlihat. Apa membeli minum juga harus selama ini? Egy menjadi benar-benar haus sekarang.
Grep!
"Eh! "
Seseorang menarik tangan Egy dan membawanya pergi. Egy terkejut namun hanya bisa mengikuti langkah pemuda tampan di depannya. Egy belum tahu siapa dia, karena pemuda itu menutup kepalanya dengan tudung hoodie. Tarikan itu begitu kuat dan erat hingga Egy tak bisa memberontak dan melepaskan diri.
Setelahnya Davit sampai di tempat dia meninggalkan Egy tadi, di kedua tangannya ia membawa minuman dalam wadah botol. Ia bingung saat mendapati gadis yang ia bawa tadi telah hilang dari sana. Ia mengedarkan pandangan, namun tak ia temukan Egy sama sekali.
"Egy, Lo di mana? "
__ADS_1