
"Egy! "
"Egy! "
"Egy, kau tidak mendengarkanku? "
Agil menghembuskan nafas kasar melihat Egy yang duduk melamun. Sejak kejadian di kantin tadi siang hingga kini mereka telah sampai di rumah, Egy belum membuka suara sama sekali. Gadis itu senantiasa dalam kebisuannya. Agil dapat menebak, Egy pasti memikirkan empat pemuda itu dan rasa benci di hatinya. Ia mungkin mulai merasa bersalah.
Egy terdiam dalam lamunan, ia duduk di sofa dengan tenang dan tak menghiraukan keberadaan Agil di sampingnya. Egy tenggelam dalam pikirannya, ia mempertanyakan dan sibuk menerka-nerka tentang perasaan apa yang ia rasakan kini? Kenapa jantungnya terus-terus berdebar-debar sejak tadi? Tapi debaran itu terasa menyakitkan, seperti jantungnya tengah diremas-remas.
Kejadian siang tadi di kantin terus memenuhi otaknya. Pernyataan-pernyataan cinta dari Four Star terus terngiang-ngiang.
"Kau mulai ragu, Egy! "
Egy tersadar, atensinya teralih menatap Agil di sampingnya. Seketika Egy menunduk melihat bagaimana Agil menatapnya dengan begitu tajam.
"Kupikir, rencana yang kusiapkan akan membuatmu bisa sedikit membalas rasa sakitmu sebelum rencana utama berlangsung. Nyatanya kau bahkan tak mampu mengendalikan dirimu. " Agil menghela nafas.
"Kak Darren benar, sebaiknya dari awal kau tak ikut campur. Wanita memang selalu mengandalkan perasaan, " sambung Agil mencibir.
Egy mengangkat wajah dan mendelik. "Kak Darren itu nggak benar, Akulah pemeran utama dalam cerita balas dendam ini! " sungutnya.
Agil berdecih. "Kau pikir ini novel? Apa kau berpikir akan ada cinta setelah benci?! Naif, Egy! Kau terlalu naif! Kau tidak boleh melibatkan perasaanmu dalam rencana ini! " tandas Agil dengan begitu tegasnya.
"Ya, aku tahu! "
"Kau tahu tapi tak kau terapkan? Percuma! " sentak Agil.
Egy melengos enggan menatap Agil. Pemuda itu terlihat sangat marah. Yang dikatakan Agil memang benar, ia tak boleh melibatkan perasaan dalam rencana besar ini.
"Kau mulai ragu, 'kan? "
Egy menggeleng.
__ADS_1
"Apa?! Kau memang mulai ragu! "
Egy kembali menggeleng.
"Apa?! " sungut Agil.
"Aku tidak tahu! " sentak Egy dengan keras hingga membuat Agil mendengus kesal.
"Lebih baik kuhubungi Kak Darren agar segera melakukan pergerakan secara terbuka! " Agil beranjak dari duduknya. Sebelum melangkah pergi, ia berkata, " ingat, Egy! Buang keraguanmu, kau tidak boleh membalas perasaan mereka! Aku tidak ingin kau mengingat seberapa sakit lukamu, aku hanya ingin kau ingat dari mana kau mendapatkan rasa sakit itu! "
Agil pergi meninggalkan Egy sendirian di ruang tamu rumahnya. Hanya ada mereka berdua di rumah.
Agil berencana menghubungi seseorang yang ia panggil 'Kak Darren'. Jika Egy adalah pemeran utama dalam rencana balas dendam ini, maka 'Kak Darren' adalah kunci utama rencana ini. Dia yang mengatur strategi dan ia juga yang membiayai seluruh kebutuhan untuk misi balas dendam ini. Semua trik-trik yang Egy dan Agil lakukan harus atas seizin 'Kak Darren'.
Selepas Agil meninggalkannya, Egy kembali termenung. Kini ingatan tentang kejadian bertahun-tahun silam kembali berputar acak di otaknya. Hal ini menimbulkan efek yang berdenyut-denyut di kepalanya. Egy memegang kepalanya erat-erat yang terasa sakit.
Ketika Egy mengingat kembali kejadian siang tadi, dadanya rasanya sesak. Hal ini adalah sebuah rasa tidak terima. Kenapa mereka jatuh cinta? Kenapa harus Gue? Gue benci banget sama mereka.
"Nggak, Egy! Lo nggak boleh ragu! Ingat apa yang udah mereka lakuin ke Lo! " Egy berusaha kembali menguatkan tekad.
Ya, Agil benar. Kau tidak boleh ragu Egy. Yang harus kau ingat adalah apa yang telah mereka lakukan.
Di sisi tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga, Agil mendengar dan memperhatikan Egy. Tatapannya tak setajam tadi, bahkan kini sorot matanya begitu sendu melihat Egy yang menahan sakit di kepalanya. Bukan ia tak peduli, ia sangat-sangat khawatir malahan. Tapi mau bagaimana lagi, Egy harus dibiasakan dengan rasa sakit ini. Ia benar-benar tak boleh membalas perasaan Four Star, tidak untuk salah satupun.
"Mungkin tak sesakit apa yang kau rasakan, tapi aku tetap terluka, Egy. Paman dan Bibi seperti ayah dan ibuku. Dendam ini, bukan hanya kau yang menginginkannya. Aku juga ingin mereka hancur! "
*
*
*
Biasanya apartemen Rizky akan begitu ramai ketika sahabat-sahabatnya itu ada di sana. Tapi kali ini berbeda, suasana nampak senyap dan suram bahkan ketika mereka berempat berkumpul.
__ADS_1
Di sofa panjang, mereka duduk berjajar. Punggung mereka menyandar dengan wajah menghadap ke atas. Wajah-wajah tampan itu nampak tak bersemangat. Helaan nafas panjang berulang kali terdengar.
"Harus bagaimana lagi sekarang? " lirih Galih. Dia yang biasanya paling aktif kini nampak dalam mode tak bersemangat. Ia benar-benar down karena kejadian tadi.
"Mungkinkah kita terlalu cepat mengungkapkan perasaan hingga membuat Egy syok? " Farel menebak, ia ingat betul bagaimana Egy diam tak membalas perasaannya ataupun perasaan salah satu dari sahabatnya. Egy diam bahkan setelah sebelumnya marah-marah.
Rizky menoleh pada Farel. "Syok? Kenapa harus syok? Kita, 'kan tampan, " ucap Rizky dengan polosnya.
"Ya, kupikir karena kita terlalu tampan jadi dia syok. Hahaha.... " Galih tertawa diakhir kalimatnya. Sedikit lucu memang, tawanya saja terdengar garing.
"Atau karena Egy yang begitu mencintai si berandal itu? " celetuk Davit.
Mereka diam, tawa Galih juga terhenti.
"Yah.... " Mereka mende*ah lesu. Yang diucapkan Davit seolah kembali mengoyak-nyoyak luka mereka.
Egy memang tak mengatakan bahwa dia menolak mereka. Tapi melihat gadis itu hanya diam dan pergi, rasanya itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Tentu saja ini adalah sebuah pukulan telak. Mereka belum pernah ditolak seorang gadis karena selama ini para gadis-gadis itulah yang selalu mengejar mereka. Tapi Egy berbeda. Sejak pertemuan pertama, mereka menyadari bahwa Egy berbeda.
"Mungkin kita yang salah karena suka sama Egy. Dia sudah punya pacar, " ucap Farel menghela nafas berat.
Hemmm.... Mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih adalah hal yang menyakitkan. Lebih baik dicintai daripada mencintai seperti itu.
"Ya! Tapi apa kita akan menyerah? "
Rizky mencoba menarik semangat dalam dirinya juga teman-temannya. Tujuannya bukan hanya untuk membuat Egy jatuh cinta, jadi dia tak boleh menyerah. Rizky harus berjuang lagi. Tak masalah jika harus merebut milik orang lain.
"Memangnya masih ada kesempatan? " Galih putus asa.
"Ya! Bukankah Egy hanya diam tadi? Bisa jadi dia sebenarnya menyukai salah satu dari kita, 'kan, hanya saja dia tidak enak dengan pacarnya itu, " papar Rizky berusaha optimis.
"Bagaimana jika kita perko*a saja? "
__ADS_1