
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya acara pemungutan suara untuk memilih ketua osis baru benar-benar diselenggarakan.
"Selamat pagi teman-teman! "
"Akh! "
"Farel! "
Baru membuka suara saja murid-murid cewek sudah sangat heboh. Farel hanya bisa tersenyum dan menyuruh mereka untuk tenang kembali.
Acara ini di buka oleh Farel yang masih menjabat sebagai ketua osis. Di panggung ia terlihat sangat menawan, tampilannya seperti seorang jenius. Farel benar-benar menyihir acara yang membosankan menjadi sangat menyenangkan. Siswi-siswi terlihat sangat antusia. Berbeda dengan murid-murid cowok yang merasa bosan dan tak bersemangat, apalagi melihat murid-murid cewek sangat kecentilan.
Setelah menyempaikan beberapa kata pembuka, Farel mempersilahkan kepala sekolah untuk memberikan sambutan.
"Siapapun yang nanti terpilih menjadi ketua osis, saya berharap bisa menjadi suri teladan yang baik. Dia harus bisa bekerja lebih baik dari ketua osis sebelumnya. Bapak benar-benar punya harapan besar pada kalian. " Kata-kata kepala sekolah itu tertuju untuk tiga kandidat calon.
Meski tak langsung, kepala sekolah jelas sangat bangga pada Farel dan Galih. Kata-katanya seolah menegaskan bahwa calon yang terpilih nanti harus mampu menandingi prestasi Farel dan Galih selama menjabat.
Mungkin saja kepala sekolah juga tak yakin ada yang mampu melebihi prestasi yang dicapai organisasi osis di bawah pimpinan Farel dan Galih. Setara saja itu sudah cukup.
Selesai dengan pidato dari kepala sekolah, Farel menjelaskan langkah demi langkah proses pemungutan suara. Ini dijalankan layaknya pemilu. Mereka harus mencoblos kertas bergambar tiga calon kandidat sebagai pilihan lalu memasukkannya ke dalam kotak persegi yang di sediakan di depan.
"Ingat! Kandidat yang mendapat suara terbanyak akan menjadi ketua osis, lalu pemilik suara terbanyak kedua akan menjadi wakil ketua osis. Sedangkan kandidat yang memiliki suara terbanyak ketiga bisa memilih jabatan apa yang ia inginkan di Osis. Tentunya kecuali ketua dan wakil osis, " terang Farel.
Setelah Farel menjelaskan rentetan acara pagi ini, seluruh siswa-siswi perlahan bergantian maju untuk mencoblos. Berlangsung acara ini di awasi langsung oleh Galih. Pemuda itu setia berdiri di samping kotak suara.
"Wah, mereka benar-benar tampan! " celetuk Fika. Ia terpesona pada Galih dan Farel, lebih terutama Farel, sih.
Egy melirik. "Biasa aja kali! " semburnya.
Egy kembali melihat ke depan, di sana Farel terlihat tersenyum. Galih pun juga mengembangkan senyum manis. Semua murid-murid perempuan memekik melihatnya. Suana ricuh karena Farel dan Galih bukan akibat selisih pilihan antara murid-murid pendukung kandidat calon.
Sayangnya, Egy merasa senyuman dua anggota osis itu tertuju padanya. Heum, memang tidak salah lagi.
Agil, Egy, dan Fika memang masih anteng dalam duduknya, mereka hanya melihat ramainya siswa-siswi yang mulai berjalan ke arah kotak suara.
"Kandidat-kandidat yang mencalon malah lebih ganteng, " seru Egy menatap tiga pencalon yang duduk berjejer di atas panggung.
"Iya ganteng, sih. Tapi masih gantengan Kak Farel, " sahut Fika. Dalam benaknya, tidak ada yang jauh lebih tampan dari Farel.
"Dasar fans fanatik! " cetus Egy terkekeh.
__ADS_1
Fika melotot tak terima. " Siapa yang fanatik? Gue cuman bicara fakta! Gue sih, nggak buta. Kalau Lo, pasti buta sampai fakta di depan mata juga masih nggak terima! " balas Fika dengan pedas.
"Wow, pedas banget omongan Lo, nj*ng!" Egy menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
Ternyata Fika juga bisa berbicara nylekit kalau sudah menyangkut Farel.
Agil hanya diam tanpa ekspresi mendengar perdebatan dua gadis di samping kirinya itu. Sudah biasanya baginya melihat hal seperti ini, bahkan yang mereka perdebatkan selalu itu-itu saja.
Tapi kini berbeda rasanya saat mendengar perdebatan dua gadis itu masih dengan topik yang sama. Ia merasa hatinya memanas, terlebih saat dengan jelas mendengar Fika mengatakan bahwa Farel sangatlah tampan. Belum pernah ia merasakan perasaan ini. Mungkinkah ini yang di sebut cemburu?
"Gue lebih tampan! "
Serempak Fika dan Egy menatap Agil. Keduanya tercengang mendengar celetukan pemuda itu.
"Hah? Apa, Kak?"
*
*
*
Agil, Fika, dan Egy pun juga berjalan beriringan di antara banyaknya siswa-siswi yang berjalan menuju pintu keluar aula. Mereka sedikit berdesak-desakkan. Agil hanya bisa berdecak kesal melihat keramaian ini.
Grep!
Seseorang menarik tangan Egy secara tiba-tiba. Ia di seret menjauh dari Agil dan Fika. Dalam keadaan yang begitu ramai, Agil dan Fika tak menyadari bahwa Egy tak lagi ada di samping mereka. Mereka terus berjalan keluar aula.
Sesampainya di luar, Fika menyadari hilangnya Egy. Entah ke mana temannya itu pergi.
"Loh.... Egy ke mana? " Fika celingukan mencari Egy. Ia bahkan menatap satu persatu murid yang keluar dari pintu aula, akan tetapi ia tak melihat Egy sama sekali.
"Egy mana, Kak? " tanya Fika pada Agil dan Agil hanya menjawab dengan gelengan.
Fika merasa canggung.
"Euh, kalau gitu Gue mau cari Egy dulu, deh. " Fika hendak melangkah pergi. Namun urung saat Agil mencekal lengannya.
Fika menatap Agil dengan bingung.
"Lebih baik kita makan sekarang! " ucap Agil dan membawa Fika menuju kantin. Hal yang seperti kemarin terulang lagi.
__ADS_1
Di sisi lain Egy hanya bisa mendengus kesal saat Galih membawanya kembali ke dalam aula. Pemuda itu menyeretnya ke sudut ruangan. Tak ada yang memperhatikan mereka karena di ruang aula sekarang hanya ada anggota osis yang sibuk menghitung kertas suara.
"Ada apa sih, Kak Galih yang ganteng? " tanya Egy begitu mereka berhenti.
Galih tersenyum dan melepaskan tangan Egy. Ia menggeleng dan berkata, " nggak ada apa-apa! Gue cuman ingin narik, Lo, aja. "
"Hish, menyebalkan! "
Galih sangat suka membuat Egy kesal sebab gadis itu akan sangat menggemaskan di matanya ketika kesal seperti itu.
"Lo, pilih siapa? " tanya Galih. Ia berusaha membangun obrolan dengan topik pemilihan ketua osis hari ini. Ia berharap Egy tidak bosan.
"Gue pilih si Doni, " jawab Egy. Memang pada akhirnya ia memilih teman sekelasnya itu.
"Alasannya? "
"Nggak tahu, sih! Mungkin karena dia ganteng, " jawab Egy sekenanya.
Ya, meskipun Doni selalu memakai kacamata akan tetapi pemuda itu memiliki wajah yang tampan. Kulitnya putih dan tubuhnya tinggi. Idaman sekali sebenarnya.
Galih merubah ekspresinya menjadi datar mendengar ucapan Egy.
"Ganteng? Ganteng apanya! Jelas-jelas cupu begitu! " sungut Galih.
Egy mendesis sinis. "Apaan sih, Kak?! Jelas-jelas Doni ganteng kayak gitu! " balas Egy apa adanya.
"Dia itu cupu! "
"Ganteng! "
"cupu! "
"Ganteng! Kalau Gue bilang ganteng ya, ganteng! " tekan Egy.
"Gantengan mana, Gue ataumur dia? " tanya Galih pada akhirnya. Ia sangat yakin bahwa dia lebih tampan dari pada cowok cupu itu. Huh, Egy harusnya memilihnya.
"Gantengan ... si Doni, lah.... "
"APA?! "
Akhirnya mereka selalu bertengkar lagi bagai kucing dan tikus. Huh....
__ADS_1