
"Ka, Kak A--Agil? " Fika gugup.
Aih, Fika merasa jantungnya jedag jedug jeder. Ia benar-benar gugup. Ini adalah kali pertamanya Agil menyapanya duluan. Biasanya meskipun Fika berusaha ramah padanya, Agil bahkan tak akan merespons. Sungguh, Fika merasa sedikit takut.
"Kak Agil, s--sejak kapan di sini? " tanya Fika.
Ekspresi wajah Agil memang lempeng tanpa menunjukkan emosi apapun tapi sungguh, ia merasa senang melihat wajah gugup Fika.
Sebenarnya Agil tak ada niatan untuk menghampiri dan menemui Fika. Ia memang berjalan di belakang Fika dan Egy tadi, ia juga mendengar obrolan dua gadis itu. Agil juga tak ada niatan untuk menghampiri Egy, tapi begitu Egy pergi meninggalkan Fika, tanpa sadar Agil berjalan mendekati Fika dan berhenti di depannya.
"Ah, pasti mau ketemu Egy! Tapi Egy baru aja pe---"
"Gue mau ketemu Lo! " ucap Agil memotong ucapan Fika.
Degh
Degh
Degh
Fika merasakan jantungnya semakin berdetak tak karuan. Ini benar-benar tak aman baginya. Fika merasa tubuhnya bergetar, sial! Entah kenapa dengan Agil, kenapa sikapnya aneh sekali? Fika benar-benar tak bisa menebak jalan pikiran pemuda dingin di depannya itu.
Fika tak pernah membayangkan akan berbicara berdua saja dengan Agil. Biasanya jika dia bertemu Agil, maka di situ ada Egy. Tapi kini Fika berhadapan langsung dengan si Badboy Prince itu. Fika cukup merinding takut berhadapan dengan pemuda biang onar di sekolahnya itu.
Satu kalimat dari Agil membuat Fika hampir pingsan. Rasanya dalam semalam Agil berubah menjadi sosok lain. Fika sangat ingat, Agil tak pernah berbicara padanya. Ah, entah mimpi apa pemuda itu semalam.
"Eh, Gue? " Fika mengarahkan telunjuknya ke dadanya sendiri, ekspresi bingung jelas tercetak di wajahnya.
Dalam hati, Agil merutuki mulutnya yang mulai asal bicara. Lihatlah sekarang, Agil jadi bingung sendiri. Namun sebisa mungkin Agil tetap mempertahankan ekspresi datarnya untuk menutupi kegugupan yang juga ia rasakan.
"Emang ada apa, Kak? "
Tuh, 'kan! Kalau kayak gini Agil harus jawab apa.
__ADS_1
Tatapan polos Fika itu membuat desiran aneh di hatinya. Bulu matanya yang lentik membuat mata Fika tambah cantik, ah, Fika ternyata sangat cantik.
Ke mana saja dirimu Agil? Kenapa baru sekarang menyadari bahwa Fika itu cantik. Gadis yang bisa dikatakan tinggi dengan kulit putih mulus itu memiliki rambut yang panjang sedikit pirang. Selama ini ketika berhadapan dengan Fika, Agil selalu diam. Ia hanya memperhatikan Fika dan Egy berinteraksi tanpa mengikut sertakan dirinya. Satu yang selama ini ia tahu, Fika sama seperti Egy yaitu, sama-sama bar-bar.
Tapi hari ini, mendengar ucapan Fika yang mempertanyakan hubungannya dengan Egy membuat Agil merasa sedikit kegeeraan. Ia bahkan berpikir, apa mungkin Fika suka sama Gue?! Dan mungkin saja Fika cemburu?
Astaga! Ada apa dengan hati si Badboy Prince ini? Kenapa jadi gampang baper, huh?!
Terlalu percaya diri memang. Agil tidak tahu bahwa Fika penggemar berat Farel. Gadis jomblo itu rela tak pacaran demi menunggu kesempatan menjadi pacar Farel. Ya, dan nyatanya sampai sekarang belum ada kesempatan hingga jomblo lama-lama. Dia adalah tipe seorang fans yang lebih suka ngehalu pacaran sama idolanya dari pada benar-benar cari cowok dan pacaran di dunia nyata.
Tidak tahu harus menjawab apa, Agil lebih memilih meraih tangan Fika dan menariknya pergi.
"Ikut Gue! "
"Eh? "
*
*
*
Meskipun hati Egy penuh dengan dendam, tetap saja kadang dia bertingkah begitu polos dan bodoh. Rumor tentang Four Star yang g*y memang mulai lenyap, namun rumor baru tentang dirinya justru mulai mencuak. Ini tentang dia dan empat pria tampan itu.
Betapa bodohnya Egy melupakan hal itu.
Ceklek!
Begitu masuk ke dalam, ia memiringkan wajahnya bingung melihat empat pemuda itu duduk di bangku dengan meletakkan kepala di atas meja. Ruang osis nampak sepi hanya ada mereka berempat, padahal Farel bilang mereka sibuk menyiapkan acara pemilihan ketua osis baru. Lalu kenapa sekarang ruang osis justru sepi?
"Hellow, handsome boy! Kok pada loyo?! " Egy berteriak membuat Four Star berjengkit kaget.
Mereka menegakkan tubuh. Melihat Egy yang tersenyum manis dihadapan mereka membuat mata mereka melebar tak percaya.
__ADS_1
"EGY! " seru mereka bersamaan.
"Ya? "
Mereka berempat beranjak menghampiri Egy yang tengah berdiri. Sudut bibir mereka tertarik membentuk senyuman merekah saat melihat Egy. Four Star pikir Egy akan marah karena kejadian kemarin, Egy mungkin tak mau bertemu mereka lagi. Hal inilah yang menyebabkan mereka lebih memilih berada di ruang osis dan melamun. Mereka bahkan mengusir anggota-anggota osis yang tadinya ada di ruangan.
Meskipun semalam telah bertekad untuk tetap memperjuangkan Egy, tapi setelah matahari terbit mereka kembali ragu dan tak bersemangat.
Kini Egy datang menemui mereka dengan senyum manis. Mereka jadi ikut tersenyum, mungkin Egy tak marah. Dan mungkin saja apa yang dikatakan Rizky semalam adalah benar. Mereka harap begitu.
"Lo nggak marah? " tanya Farel begitu tiba di depan Egy.
Egy memicingkan sebelah alisnya. "Marah? Oh, why? "
"Kami pikir Lo, bakal marah karena kejadian kemarin, " jawab Farel dan diangguki oleh tiga temannya.
Egy menggaruk tengkuk, ia bahkan lupa untuk akting marah karena saking senangnya mendengar bahwa rumornya mulai hilang. Ah, sudahlah! Yang terpenting sekarang ia akan segera bebas dari kekangan mereka.
"Nggak lah! Lupain aja yang kemarin, " seru Egy tersenyum tanpa beban.
Four Star tersenyum lega, ternyata Egy tidak marah.
"Ouh, iya! Gue punya kabar gembira loh! " girang Egy. Ia bahkan sampai menyatukan dua telapak tangannya saling meremas senang.
"Benarkah? Apa itu? " Mereka ikut senang melihat Egy senang. Selebihnya mereka cukup penasaran dengan kabar gembira yang Egy katakan.
"Yes! " Egy menjentikkan jari.
"Kalian tahu? Karena kejadian kemarin, rumor tentang kalian itu mulai hilang. Sekarang orang-orang mulai percaya bahwa kalian normal, fans-fans kalian juga sudah kembali. Gue senang banget dengernya. Dengan begini, 'kan Gue, nggak perlu lagi jadi babu kalian. " Egy menjelaskan dengan menggebu-gebu, rasanya ia benar-benar senang.
Lain dengan Egy yang nampak begitu senang, raut wajah para pemuda tampan itu justru langsung berubah datar dan masam. Jadi ini alasan Egy tak marah pada mereka? Mereka pikir Egy memang menyukai salah satu dari mereka ternyata Egy merasa senang karena dia akan terbebas dari jeratan mereka.
Mendadak suasana hati Four Star menjadi suram. Jika Egy berhenti menjadi babu mereka, maka mereka akan kehilangan kesempatan bagus untuk mendekati Egy. Mereka tidak akan punya alasan apapun lagi untuk menemui Egy. Biasanya mereka akan menyuruh-nyuruh Egy melakukan sesuatu hanyalah sebagai alasan mereka agar bisa selalu dekat dengan Egy.
__ADS_1
"Jadi Lo, senang karena hal ini? "