
"Ya! Bukankah Egy hanya diam tadi? Bisa jadi dia sebenarnya menyukai salah satu dari kita, 'kan, hanya saja dia tidak enak dengan pacarnya itu, " papar Rizky berusaha optimis.
Mereka terdiam mulai memikirkan ucapan Rizky. Perkataan Rizky itu ada benarnya juga. Bisa jadi Egy memang menyukai salah satu di antara mereka tapi dia diam karena masih menghargai Agil sebagai pacarnya. Semangat mereka mulai membara kembali memikirkan kemungkinan itu.
"Tapi bagaimana jika itu tidak benar? Gue rasa terlalu optimis juga bukan hal baik, takutnya saat kecewa rasanya akan sakit sampai mati, " seru Farel dengan lesu.
Farel memang memiliki sedikit harapan mendengar ucapan Rizky, tapi ia juga memikirkan semua dari setiap sudut pandang. Kemungkinan Egy menyukai salah satu di antara mereka hanyalah sedikit. Pertemuan antara mereka dan Egy juga bukanlah pertemuan yang meninggalkan kesan manis.
Farel teringat akan apa yang pernah Agil ucapkan. Pemuda itu bilang, sedari awal Egy tak menyukai mereka maka sampai akhir juga akan tetap begitu. Perkataan Agil itu menambah rasa putus asanya. Farel mulai merasa tak punya kesempatan.
Rizky, Davit, Dan Galih terdiam. Perkataan sahabat ketos mereka itu memang benar.
"Lalu apa kita hanya bisa pesimis? Selama Egy belum terikat pernikahan dengan siapapun, kita masih bisa berjuang untuk mendapatkannya, " ucap Rizky, ia berusaha agar tidak terpengaruh oleh ucapan Farel.
Rizky mengehal nafas. "Kalau kalian nyerah sekarang, Gue, jutru bersyukur. Artinya saingan Gue berkurang. Sorry, Gue nggak akan berhenti di sini, " seru Rizky dengan tekad bulat. Dia tidak akan berhenti sebelum Egy menjadi miliknya.
Mereka duduk tegap, saling tatap dengan pandangan tajam. Ucapan Rizky kali benar-benar menyenggol harga diri Davit, Galih, dan Farel. Melihat Rizky yang tak ingin menyerah maka mereka juga tidak mau. Perasaan cinta dan keinginan memiliki Egy menjadi dorongan untuk mereka agar kembali berusaha.
Mereka bukan pengecut, perjuangan cinta ini bahkan baru saja dimulai.
"Ck! Baiklah.... Gue nggak ada pilihan lain selain berjuang. "
*
*
*
Egy berjalan di koridoor sekolah dengan Fika di sampingnya. Sesekali Egy melemparkan senyum pada siswa-siswa yang berpapasan dengannya. Lain lagi jika Egy bertemu siswi-siswi, yang ada Egy justru mendapatkan tatapan sinis. Setelah ungkapan cinta dari Four Star kemarin, memang banyak kaum hawa di sekolahnya yang iri dan dengki bahkan terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya.
Egy merasa risih melihat tatapan beragam orang-orang. Ia tahu, kejadian kemarin memang telah viral di sekolahnya. Video perdebatan dan pengungkapan cinta Four Star kemarin telah menyebar luas. Hampir setiap murid MoonStar High School sudah menontonnya, bahkan berulang-ulang.
Egy melirik Fika, temannya itu dari tadi berjalan bersamanya namun matanya tak lepas dari menatap handphone.
__ADS_1
"Fik! "
Tak ada sahutan.
"Fik! "
"Oeh! " Fika membalas singkat.
"FIKA! "
"Hemmh! "
Bahkan saat Egy mulai meninggikan suaranya, Fika hanya membalas dengan deheman singkat. Fika mendengar dengan baik suara Egy, hanya saja ia memang tak ingin melewatkan apa yang ia tonton.
"Fika, fu*k you! "
Fika langsung menoleh. " Apaan sih, Nj*ng?!"
Egy berdecak sangat kesal.
"Seru loh! " balas Fika.
Egy memutar bola mata malas. Sejujurnya, Fika memang tidak ada bedanya dengan siswi-siswi yang lain. Fika bahkan tak segan-segan memberinya tatapan sinis. Sahabatnya itu memang teramat menyukai Farel.
"Seru m*tamu! " umpat Egy.
Fika mengedikkan bahu. Dalam sekejap ia menyodorkan gawainya ke hadapan Egy. Egy berhenti dan mengernyit.
"Lo, lihat! Rumor tentang Four Star yang g*y perlahan hilang, " seru Fika.
Fika menunjukkan sebuah room chat sekolah. Di sana terlihat bagaimana siswa-siswi mulai membicarakan Egy dan Four Star. Egy melihatnya, Egy memang belum membuka handphone-nya sama sekali. Ia tahu, group chat sekolah pasti heboh karena dirinya, jadi ia enggan melihatnya.
Mata Egy melotot. "Maksud Lo, gimana? " tanya Egy setelah melihat apa yang ditunjukkan Fika. Ia kurang paham.
__ADS_1
Fika berdecak sebal, entah mengapa Egy menjadi sangat bodoh. Kenapa pula pemuda-pemuda tampan itu malah menyukai Egy, bukan dirinya? Fadahal Fika, 'kan juga cantik. Body-nya juga lamayan. Huh, Fika mendadak kesal sendiri.
"Lo, kok bego banget, sih? Lo lihat dong obrolannya, sebagian besar orang-orang kini mulai beranggapan bahwa Four Star aslinya memang normal. Mereka mempercayainya karena Four Star kemarin nembak, Lo. Ya, sebenarnya masih ada yang bilang mereka g*y, kebanyakan para cowok-cowok yang iri, " terang Fika panjang.
Egy kembali melihat gawai milik Fika. Group chat sekolah memang ramai memperdebatkan rumor yang lalu dan kejadian kemarin. Banyak yang kini percaya bahwa Four Star tidaklah g*y, namun masih ada juga yang menganggap kejadian kemarin hanyalah settingan untuk menutupi rumor yang lalu.
Egy yang menjadi rebutan para Four Star menjadi bukti bahwa pemuda-pemuda itu adalah orang normal. Mereka masih menyukai perempuan. Sebenarnya ini kabar bagus sekaligus kabar buruk bagi para pengagum Four Star.
Mata Egy berbinar, ia terlihat senang. Jika yang dikatakan Fika benar, maka ia bisa terbebas dari Four Star sekarang. Ia tidak perlu lagi menjadi babu. Ah, mendadak ia sangat bersemangat.
Ternyata cara untuk menyelesaikan rumor itu adalah dirinya sendiri.
Tanpa mempedulikan Fika, Egy memacu langkahnya meninggalkan temannya itu. Tujuannya kini adalah mencari Four Star. Ia ingin mengatakan berita bahagia ini. Egy sudah tak sabar.
"Aih! " Fika menghela nafas samar melihat Egy yang berlari menjauh. "Gue, 'kan jadi lupa nanya sama Egy. Kenapa bisa dia pacaran sama Kak Agil, ya? "
Fika melupakan bahwa ia juga sangat penasaran bagaimana bisa Egy berpacaran dengan Agil. Fika cukup tahu kedekatan antara dua orang itu, bahkan Fika mengetahui bahwa Agil adalah tetangga Egy. Aneh sekali menurutnya, selama ini mereka memang sangat dekat, tapi Fika melihat mereka seperti adik dan kakak.
Fika tak menyangka bahwa mereka akhirnya berpacaran.
"Memangnya kenapa kalau, Gue, pacaran sama Egy? "
Fika terlonjak kaget. Suara dingin di belakangnya itu benar-benar mengagetkannya. Buru-buru Fika berbalik, matanya kian melotot lebar melihat Agil yang kini di depannya. Pemuda itu berdiri cool dengan kedua tangan di saku celana.
Fika merasa canggung. Meski mengenal Agil dan sering bertemu dengannya saat bersama Egy, akan tetapi Fika tidaklah terlalu akrab dengannya. Agil yang merupakan tipe orang cuek dan dingin mampu membuat Fika sulit mendekat.
"Ka, Kak A--Agil? " Fika gugup.
____
Hai, teman-teman semua! Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Makasih sudah setia mengikuti kisah Egy. Bagi teman-teman yang baru mampir, yuk tap tanda LOVE. Jadikan novel ini novel favoritmu agar tidak ketinggalan update, ya!
Jangan lupa komen sebawel-bawelnya agar aku tambah semangat nulisnya. Tik, berikan kritik dan saran kalian sebagai jejak di kolom komentar.
__ADS_1
See you.... 😘