Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing

Dijebak Satu Malam Bersama Pria Asing
129.


__ADS_3

Di sebuah perusahaan terbesar di ibukota, Leo sedang melakukan rapat penting dengan semua petinggi perusahaan, karena mereka sedang membahas sebuah proyek besar yang akan Leo tawarkan pada semua petinggi perusahaan untuk dikerjakan pada tahun itu.


Perbincangan berlangsung sengit karena beberapa petinggi perusahaan merasa tidak setuju sebab proyek itu membutuhkan biaya yang sangat besar, sementara saat ini mereka juga masih menjalankan sebuah proyek yang memakan dana yang cukup besar.


Hingga menurut mereka, jika dua proyek besar dijalankan secara bersamaan maka mereka akan tertekan dan perusahaan mungkin akan mengalami ketidakstabilan.


"Saya rasa perusahaan bisa menjalankan kedua proyek besar ini dengan baik, lagi pula kita memiliki sumber daya yang cukup besar, jadi saya setuju dengan Leo, proyek yang menguntungkan ini harus dijalankan secepat mungkin!!!"


"Tidak!!! Saat ini perusahaan kita memang stabil, itu semua karena kita hanya menjalankan suatu proyek besar saja, tetapi nantinya jika kita menambah satu lagi maka akan bla bla bla bla bla...."


Dua kubu masih sedang berseteru ketika tiba-tiba saja ponsel Leo berdenting.


Ting!


Semua orang yang berbicara langsung menoleh ke arah Leo, karena biasanya pria itu menonaktifkan ponselnya ketika mereka sedang mengadakan rapat yang sangat penting seperti itu.


Tetapi setelah menoleh beberapa detik mereka kembali berdebat karena melihat Leo mengabaikan ponselnya.


Namun ketika semua orang kembali lagi berdebat maka Leo mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.

__ADS_1


*Bunga ini dikirimkan oleh seorang artis bernama Revan untuk Nyonya muda.*


Leo yang membaca pesan itu langsung mengerutkan keningnya lalu tanpa sengaja dia mengepal erat tangannya dan memukul meja dengan keras karena kekesalannya yang tidak bisa ia tahan.


Brak!


Suara meja yang digebrak itu langsung membuat semua orang yang sedang berdebat kini menoleh ke arah Leo dan melihat pria itu sedang menggertakan giginya sembari menatap layar ponselnya.


Beberapa detik kemudian Leo menatap asistennya sembari berkata, "lanjutkan rapatnya, kalau mereka masih terus berdebat maka lakukan voting untuk mengambil keputusan."


Setelah berbicara, Leo kemudian menekan tombol panggil pada teleponnya lalu dia berjalan keluar dari ruangan itu sambil berkata, "halo."


"Apa yang terjadi?" Seorang petinggi perusahaan yang berada di posisi yang netral kemudian berbicara, tetapi bukannya para petinggi perusahaan yang lain menjawab pertanyaannya, mereka malah kembali berdebat.


"Pokoknya saya tidak setuju!!"


"Tidak!! Pokoknya proyek ini akan tetap dijalankan bagaimanapun caranya karena proyek ini sangat menguntungkan!!!"


Asisten Leo yang melihat itu hanya bisa menghela nafas lalu dia hendak berbicara ketika yang lainnya kembali lagi menyela ucapannya, dan seterusnya terjadi seperti itu hingga membuat sang asisten merasa kewalahan karena dia sama sekali tidak dianggap di ruangan itu.

__ADS_1


Sementara itu, Leo yang berada di luar ruang rapat kini berbicara dengan Dika.


"Kenapa pria itu mengirim bunga pada istriku?!" Tanya Leo dengan suara yang dingin dan mengandung kemarahan karena benar-benar marah pada seorang pria yang berani mendekati istrinya secara terang-terangan.


"Itu, di suratnya, dia bilang kalau itu adalah bunga permintaan maaf, sepertinya sebelumnya pria itu sempat melakukan kesalahan pada Nyonya Muda, dan sekarang ingin meminta maaf." Ucap Dika dari seberang telepon langsung membuat Leo mengerutkan keningnya.


Setelah beberapa saat, pria itu kemudian berkata, "buang saja bunga itu!"


Setelah selesai berbicara, Leo menutup panggilan itu lalu dia menelpon seseorang untuk menyelidiki apa yang sudah terjadi antara pria bernama Revan itu dengan istrinya.


Selesai memberi perintah, Leo kemudian kembali ke ruangan rapatnya dan melihat semua orang di dalam ruangan itu sedang membuat kekacauan karena terus berdebat hingga memancing emosi mereka satu persatu.


Jadi lewat mendekat ke arah meja dan kembali memukul meja dengan keras.


Brakkkkk!!!!


Pukulan meja itu langsung membuat semua orang diam dan mereka melihat ke arah Leo lalu satu persatu dari mereka memperbaiki posisi duduk mereka dan merapikan kembali dasi mereka yang telah diacak karena merasa kesal.


"Kita akan melakukan voting jadi silahkan cepat tentukan pilihan kalian!!!" Ucap Leo sembari menggerakkan dirinya Karena dia sudah marah pada pria bernama Revan dan sekarang dibuat marah lagi oleh para dewan itu jadi mau tidak mau wajahnya menjadi terlihat begitu dingin.

__ADS_1


__ADS_2