
"Ng!!!" Bunga bergerak gelisah di atas tempat tidurnya karena dia merasa begitu haus.
Hal itu terjadi karena tenggorokannya menjadi kering sebab menangis terlalu lama.
Perempuan itu membuka matanya dan menyalahkan lampu tidur di samping tempat tidurnya.
Matanya langsung tertuju pada gelas miliknya yang telah kosong.
"Hah,,," perempuan itu menghela nafas panjang, lalu dia berdiri untuk keluar mendapatkan air minum.
Clek!
Bunga langsung melototkan matanya dengan sempurna ketika dia membuka pintu kamarnya dan melihat dua orang yang sedang dalam posisi berciuman.
"Ka,, ka,, kalian!!" Ucap perempuan itu dengan suara tergagap langsung membuat Jessica mendorong Leo.
Leo pun yang menyadari kehadiran Bunga langsung tersadar dan mengetahui bahwa apa yang ia lihat itu ternyata bukanlah mimpi.
Karena Bunga tidak pernah hadir dalam mimpinya!!!
Tetapi Bunga yang menyadari bahwa dia sudah merusak suasana, perempuan itu langsung kembali ke kamarnya dan menutup pintu sambil mengerjapkan matanya.
Leo dan Jessicca!!!!
__ADS_1
Sementara di luar, Leo langsung menatap perempuan yang sudah berdiri dan terlihat salah tingkah.
"Maaf, aku pikir aku bermimpi," ucap Leo dengan suara serak langsung membuat Jessica kembali melirik Leo.
'Mimpi?' ucap Jessica dalam hati lalu perempuan itu berlari ke arah dapur sembari memegang bibirnya yang terasa begitu aneh setelah dicium oleh Leo.
Perempuan itu terdiam beberapa saat memikirkan ciuman itu lalu kemudian dia membuat teh hangat bagi Leo.
Sembari mengaduk teh yang ia buat, perempuan itu kembali teringat akan ucapan Leo.
"Maaf, aku pikir aku bermimpi."
"Maaf, aku pikir aku bermimpi."
"Maaf, aku pikir aku bermimpi."
Deg!
'Apa?? Jadi dia pikir dia sedang bermimpi melihatku lalu,,' perempuan itu menutup mulutnya dengan satu tangan.
'Berarti, dia sudah sering memimpikanku dan pria itu bertindak tidak senono dalam mimpinya?' Jessica menggertakkan giginya karena merasa sangat marah pada pria itu.
Seandainya Bunga tidak membuka pintu maka mungkin saja pria itu akan melakukan sesuatu yang melebihi batas.
__ADS_1
Tetapi kemudian, dia merasa bahwa rasa takutnya terhadap Leo sudah menghilang dan sekarang hanya ada rasa marah pada pria itu.
Selain itu, jantungnya terus berdegup kencang membuat perempuan itu merasa sangat aneh dengan dirinya sendiri.
"Sudahlah, kali ini akan ku maafkan saja! Siapa suruh dia sakit!!" Ucap Jessica mengambil teh yang telah Ia buat lalu berjalan menghampiri Leo yang sudah duduk sembari membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Minumlah ini," ucap Jessica meletakkan teh itu di depan Leo lalu perempuan itu kembali berbalik untuk pergi ke dapur.
Tetapi dia sangat terkejut ketika tangan hangat Leo mencekal lengannya.
"Itu,, aku sangat minta maaf atas kejadian tadi." Terdengar suara Leo yang penuh penyesalan.
Jessica langsung berbalik menatap pria itu lalu dia berkata, "aku akan menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi. Jadi tolong supaya Kak Leo tidak pernah lagi membahasnya."
Dengan berat hati Leo menganggukkan kepalanya lalu dia melihat perempuan itu langsung berjalan cepat ke arah dapur.
Tak tak tak....
Terdengar suara hentakan pisau pada talenan dari arah dapur langsung menghentikan gerakan tangan Leo yang sedang meminum teh hangat yang diberikan oleh Jessica.
'Apakah subuh-subuh begini dia memasak?' pria itu menghabiskan tehnya lalu dia meletakkan gelasnya dan berjalan ke arah dapur dengan selimut masih terus membungkus tubuhnya.
"Kau memasak malam-malam begini?" Tanya Leo sembari duduk di salah satu kursi yang terletak di dapur.
__ADS_1
Jessica yang sedang memotong-motong tomat langsung melihat ke arah Leo lalu kembali berbalik menatap talenan miliknya.
"Aku sedang membuatkan bubur, dan lagi pula ini bukan malam lagi, tapi sudah subuh. Kalau kau masih merasa tidak enak badan kau bisa pergi ke kamarku dan tidur bersama Nita. Aku akan membangunkanmu kalau buburnya sudah siap," ucap perempuan itu melanjutkan acara memotong-motong tomatnya.