
Begitu ditinggalkan oleh manajer, Jessica hendak keluar juga dari tempat itu ketika dia menyadari bahwa pintu tersebut telah dikunci dari luar.
Jadi Jessica tidak punya pilihan selain duduk di depan Tuan Deliono dan diam-diam menggunakan ponselnya mengirim pesan pada Dika agar pria itu membantunya meninggalkan ruangan itu.
Sementara itu, Tuan Deliono yang berada di depan Jessica kini memperhatikan Jessica dan Dia merasa bahwa perempuan di depannya benar-benar menarik dan sangat cantik.
"Bagaimana kalau memulai percakapan kita, kita bersulang terlebih dahulu?" Ucap Tuan Deliono sembari mengangkat gelas anggurnya dengan tetapan pria itu menatap ke arah Jessica.
Dia sudah tidak sabar melihat perempuan itu meminum anggur yang telah diberikan obat, jadi malam itu dia akan memuaskan diri bersama dengan perempuan di depannya.
Namun betapa terkejutnya dia ketika Jessica bukannya mengambil gelas anggur dan malah mengambil gelas air putih yang diletakkan di sebelah gelas anggur itu.
"Maaf sekali tuan deliono, tetapi saya tidak bisa minum alkohol," ucap Jessica langsung membuat Tuan deliono merasa kesal, karena dia hanya menaruh obat di dalam anggur itu dan tidak memikirkan makanan ataupun minuman yang lainnya.
Tetapi Tuan Deliono tidak mau usahanya terbuang sia-sia, karena dia sangat tertarik melihat perempuan cantik di depannya.
__ADS_1
Oleh sebab itu, pria itu kemudian berkata, "bagus sekali, aku sangat menyukai perempuan yang tidak minum alkohol, tapi untuk sulangan pertama kita seharusnya sama-sama menggunakan anggur bukan? Lagi pula jika minum sedikit anggur saja tidak akan membuatmu mabuk."
Ucapan pria di depannya langsung membuat Jessica mengepal erat tangannya yang memegang gelas lalu perempuan itu berkata, "Maaf sekali Tuan, tapi sebenarnya saya memiliki penyakit yang membuat dokter melarang saya untuk mencoba sedikitpun anggur. Jadi saya benar-benar tidak bisa menenguk sedikitpun anggur."
Setelah mendengar ucapan Jessica, maka Tuan Deliono merasa agak kesal karena perempuan di depannya ternyata memiliki penyakit dan juga hal itu membuatnya tidak bisa minum alkohol jadi obat yang ia siapkan adalah kesia-siaan.
Tetapi dia tidak bisa berbuat apapun, dan hanya berharap nantinya Jessica akan pergi ke toilet sebentar sehingga dia bisa membubuhkan obat tidur ke makanan lain di atas meja itu.
Maka mereka segera berbincang-bincang meski Jessica selalu memperlihatkan ketidakpeduliannya pada apa yang mereka bicarakan.
Sementara di luar, Dika yang mendapat pesan dari Jessica langsung menggertakan giginya dan hendak menolong Jessica ketika Devania malah menghampirinya dan menyuruh pria itu untuk berbincang-bincang dengannya.
"Aku dengar bunga yang tadi dikirim Revan pada Jessica sudah kau buang tanpa sepengetahuan Jessica?" Tanya Devania yang mengetahui hal tersebut dari salah seorang temanya yang bekerja di tempat itu dan melihat Dika membuang bunga yang dikirimkan Revan untuk Jessica.
Pertanyaan itu membuat Dika terkejut karena dia tidak menyangka bahwa Devania akan mengetahui hal itu.
__ADS_1
Namun, dia kemudian berkata, "itu, Nona Jessica yang menyuruh saya untuk melakukannya, katanya jika ada bunga dari tuan Revan maka saya harus membuangnya."
Meski dia tahu bahwa dia sedang berbohong, Tetapi dia pikir itu jauh lebih baik daripada ketika dia mengatakan sesuatu yang lainnya yang tidak masuk akal hingga membuat Devania menjadi semakin curiga.
Namun, Devania yang mendengar itu merasa tidak percaya Karena dia sempat berbicara dengan Revan dan pria itu mengatakan bahwa Jessica sudah memberinya nomor ponsel dan Bahkan mereka sudah berbaikan.
Oleh sebab itu, Devania kembali lagi menatap Dika dengan penuh penilaian sembari berkata, "kau yakin dia benar-benar berkata seperti itu? Atau kau hanya mengarang-ngarang saja?"
"Apa maksud Kak Devania? Mana mungkin saya berani melakukan sesuatu tanpa seizin Jessica, sementara dia adalah Nona yang saya layani." Ucap Dika kini menjadi semakin cemas, karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Jessica yang tadi mengatakan supaya dia membantunya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Sudah beberapa menit berlalu dan Devania sepertinya tidak ingin mengakhiri pembicaraan itu.
"Ahh baiklah, aku hanya mengimpringatkanmu supaya tidak macam-macam, apalagi kalau kau sampai menghalangi Revan untuk dekat-dekat dengan Jessica, maka posisimu sebagai asisten akan aku lepas!!" Tegas Devania.
"Baik," jawab Dika dengan raut wajah yang tenang meski di dalam hatinya dia sudah sangat cemas.
__ADS_1