Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 10


__ADS_3

Sebelum benar-benar memejamkan mata, tiba-tiba saja Dito teringat kembali akan kurir paketnya. Dito segera mengambil ponselnya dan kembali menghubungi nomor ponsel yang dia kira kurir itu.


Tidak perlu menunggu lama karena Rani segera menerima panggilan darinya. Karena Rani lupa untuk mengatur mode getar pada ponselnya sehingga dia merasa terganggu dengan dering ponselnya.


"Halo..." jawab Rani dengan nada sedikit kesal karena dia terganggu dan tanpa sempat melihat siapa yang menghubunginya.


"Eh Mbak, mana paket gue? Kog gak dikirim-kirim? Ini sudah lebih dari hari yang dijanjikan lho." cerocos Dito panjang lebar, karena dia berpikir ini adalah kesempatan untuk berbicara dengan orang yang dia sangka kurir paket tersebut.


Rani merasa heran dengan pertanyaan dari orang yang tidak dia kenal. Rani sempat melihat nomor yang menghubunginya, nomor asing dia tidak kenal.


"Paket? Paket apaan?" tanya Rani bingung.


"Uda deh lu gak usah pura-pura!" tuduh Dito.


"Pura-pura apaan? Lu ngomong apa sih?" tanya Rani semakin bingung.


"Gak usah pura-pura bodoh ya, uda buruan besok gue tunggu paket gue." jawab Dito tegas.

__ADS_1


"Eh lu mabuk ya? Paket-paket apaan!" kesal Rani.


"Mabuk? Lu ya...!" Dito sampai tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Rani, karena bisa-bisanya Rani menuduhnya sedang mabuk.


"Uda ahh gue capek tau, mau tidur besok masuk pagi ni." ucap Rani tanpa sadar dia seperti sedang berbicara dengan orang yang dia kenal.


"Gue gak peduli lu masuk pagi, siang, malam atau bahkan gak masuk gue gak peduli!" kesal Dito.


"Ya uda emang gue pikirin. Uda ahh gue mau tidur." jawab Rani dengan kesal, kemudian dia segera mematikan telepon secara sepihak.


"Lhoh kog malah dimatiin sih, bener-bener ni kurir." gumam Dito kesal sambil melihat layar diponselnya, kemudian kembali mencoba menghubungi nomor itu kembali.


Beberapa kali terdengar bunyi nada sambung tetapi tidak segera diangkat olehnya. Karena ternyata setelah Rani mematikan telepon tadi dia segera mengatur di mode getar dan meletakkan ponselnya agak jauh dari tempatnya tidur sehingga getaran dari ponselnya tidak terlalu mengganggu Rani tidur.


Setelah mencoba beberapa kali dan tidak diangkat juga, akhirnya Dito menyerah. Dia meletakkan ponsel dengan kasar di ranjangnya kemudian kembali berbaring karena bersiap akan tidur.


"Perasaan suaranya gak asing deh, tapi siapa ya? Kayak pernah denger suara-suara kayak kaleng rombeng itu." gumam Dito setengah mengejek suara dari Rani.

__ADS_1


Setelah lelah berpikir dan mengingatnya Dito pun terlelap dalam tidurnya.


...----------------...


Keesokan harinya Rani bangun seperti biasa, karena meskipun masuk shift pagi atau siang dia akan terbiasa bangun pagi. Rani segera menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya pagi itu. Tidak lupa dia juga berbelanja dan memasak untuk dirinya sendiri.


"Enak kali ya, gue sekali-sekali bawa bekal. Bosen kalau jajan di warung berkah itu terus. Lauknya itu-itu mulu. Eh tapi itu kan yang murah hehe." Rani bermonolog sendiri sambil tersenyum-senyum membayangkannya.


Setelah masakannya jadi sebelum Rani bersiap mandi, terlebih dahulu mengambil kotak bekal dilemari makannya. Kotak bekal yang Rani punya cukup murah bahkan tidak ada brand terkenal menempel dikotak bekalnya. Seperti kebanyakan orang pasti memiliki brand terkenal untuk salah satu barang-barangnya. Yang kalau tutupnya hilang aja uda kelimpungan nyari.


Tetapi tidak dengan Rani, jika tutupnya hilang pun dia akan tenang-tenang saja bahkan dia bisa beli lagi tanpa harus berpikir panjang karena harganya memang sangat terjangkau tetapi untuk kualitas produknya yaa jangan ditanyakan 🤭


...****************...


Butuh semangat lagi kak 🥰


Jangan lupa like, komen dan hadiah nya 😍

__ADS_1


__ADS_2