Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 25


__ADS_3

Keesokan harinya Dito ijin kepada Mamanya tidak ikut sarapan bersama, karena dia merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja mungkin itu karena efek jatuh semalam. Tetapi Dito berbohong kepada Mamanya dengan alasan dia baru saja bisa tidur karena semalam suntuk mengerjakan laporan dari cafe nya yang sedang ada sedikit masalah. Dan tentu saja sang Mama percaya, sehingga mengijinkan Dito untuk kembali tidur.


Sedangkan di meja makan hanya ada pasangan suami istri yang selalu terlihat romantis, Pak Bagas dan Bu Anya.


"Dito gak sarapan Ma?" tanya Pak Bagas kepada istrinya, karena melihat kursi Dito yang masih kosong.


"Gak Pa, katanya baru saja selesai mengerjakan laporan cafe yang sedikit ada masalah jadi dia ngantuk mau tidur." jawab Bu Anya sesuai dengan perkataan Dito.


Dan bersamaan dengan itu Bu Anya pun dengan sigap mengisi piring suaminya dengan nasi, sayur dan beberapa lauk yang sudah terhidang di atas meja.


"Ada masalah dengan cafe? Kayaknya gak mungkin. Pasti ada sesuatu dengan kejadian semalam." batin Pak Bagas.


Bu Anya yang melihat suaminya melamun pun menegurnya.


"Kenapa Pa? Kog malah melamun?" tanya Bu Anya heran.


"Ow gak Ma, cuma heran aja seserius apa masalah di cafe kog Dito harus sampai begadang menyelesaikannya." jawab Pak Bagas berbohong.


Karena Pak Bagas ingin mencari tahunya terlebih dahulu sebelum dia bercerita kepada istrinya.


"Pa, menurut Mama uda saatnya Papa menyuruh Dito ambil alih perusahaan. Trus mau sampai kapan Dito melakukan semaunya sendiri seperti itu sedangkan perusahaan juga butuh penerus Pa. Kapan lagi Dito belajar kalau gak dari sekarang?" ucap Bu Anya kepada suaminya.


Ya, sepasang suami istri tersebut memang sudah menyerahkan perusahaan kepada Dito, anak semata wayangnya tetapi Dito masih menolak untuk menerimanya saat ini dengan alasan dia ingin membuktikan terlebih dahulu bahwa dia juga bisa mandiri. Dan Dito berjanji bahwa dia pasti mau meneruskan perusahaan keluarga tetapi tidak untuk sekarang.

__ADS_1


"Iya coba nanti Papa bicarakan lagi Ma dengan Dito. Karena menurut Papa memang sudah saatnya Dito yang ambil alih perusahaan." jawab Pak Bagas.


Akhirnya mereka pun sarapan dengan tenang. Dan tidak berapa lama keduanya pun sudah selesai sarapan, Pak Bagas bersiap akan berangkat ke kantor.


"Papa ke kamar Dito dulu ya Ma, sebentar." ucap Pak Bagas pamit kepada istrinya untuk naik ke lantai 2 dimana kamar Dito berada.


"Iya Pa, Mama juga mau ke dapur dulu menyuruh Minah untuk siap-siap ke pasar." jawab Bu Anya sambil berjalan ke dapur mencari keberadaan asisten rumah tangganya yang begitu setia.


Sesampainya dikamar Dito, Pak Bagas mengetuk pintu dan ijin ingin masuk ke dalam.


"Dito, ini Papa! Boleh Papa masuk?" panggil Pak Bagas.


"Masuk aja Pa, gak dikunci." jawab Dito, yang saat itu masih berbaring di ranjangnya.


Pak Bagas pun membuka pintu dan melihat keadaan kamar Dito yang masih gelap karena tirai yang belum dibuka dan Dito sendiri yang masih bergelung selimut.


"Kamu sakit?" tanya Pak Bagas.


"Gak Pa, cuma kurang istirahat aja semalam habis mengecek laporan cafe dan ada sedikit masalah." jawab Dito dengan sedikit berbohong.


Karena memang sebenarnya ada sedikit masalah di cafe tetapi itu masih bisa diatasi oleh Dito. Dan yang sebenarnya terjadi adalah Dito semalaman tidak bisa tidur karena selain merasakan tubuhnya yang sakit dia juga tidak bisa tidur. Karena ketika dia memejamkan mata tiba-tiba saja bayangan senyuman Rani ada dimatanya. Dan itu yang membuat Dito tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Maaf jadinya gak bisa ikut sarapan bersama." lanjut Dito merasa tidak enak.

__ADS_1


"Gak masalah buat Papa. Asalkan kalau ada apa-apa kamu jangan lupa bilang entah sama Papa atau sama Mama karena mungkin sebagai orang tua kami bisa membantu." ucap Pak Bagas kepada Dito dengan tersenyum penuh arti.


Dan perkataan itu terasa sangat ambigu menurut Dito. Dito pun mengerutkan keningnya mencoba berpikir apa maksud dari ucapan Papanya.


"Ow ya, jangan lupa untuk masalah perusahaan sudah saatnya kamu ambil alih dan sudah cukup waktu yang Papa dan Mama berikan untuk kamu membuktikan kemandirian kamu." lanjut Pak Bagas sambil menepuk lengan Dito serta beranjak dari duduknya.


Dito menghela nafas panjang karena bagaimanapun waktu ini akan terjadi. Mau tidak mau dia yang akan melanjutkan perusahaan keluarga.


"Ya sudah sekarang kamu tidur. Kalau memang sudah cocok dihati segera bawa bertemu dengan kami." ucap Pak Bagas sambil berjalan menuju pintu kamar.


Mendengar hal itu Dito segera bangun dan duduk diranjang, Dito yakin pasti Papanya tahu sesuatu.


"Papa tahu sesuatu?" seru Dito sebelum sang Papa benar-benar keluar dari kamarnya.


Pak Bagas tidak menjawab beliau hanya melambaikan tangannya saja tanpa menoleh ke arah Dito yang masih terheran-heran.


"Pa.. Papa!" seru Dito.


Tapi terlambat Pak Bagas segera menutup kembali pintu kamar Dito dan meninggalkan Dito dengan penuh tanda tanya.


...****************...


Jelas tahu donk, kan Pak Bagas punya spy 😆

__ADS_1


Tetap semangat yok 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2