Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 44


__ADS_3

Sedangkan di ruang keluarga.


"Maafin Dito ya, pasti sering ngrepotin kamu." ucap Pak Bagas membuka obrolan.


"Emm.. Gak juga kog Pak." jawab Rani.


Rani cukup heran kenapa seakan Pak Bagas bisa tahu bahwa Dito merepotkannya. Apakah Pak Bagas tahu bahwa akhir-akhir ini mereka sering bertemu.


"Ow ya, boleh tahu kamu tinggal dimana? Trus keluarga kamu dimana?" tanya Pak Bagas, mencoba ingin tahu apakah Rani benar anak yang jujur atau tidak.


Karena meskipun Rani tidak memberitahukannya, orang suruhan Pak Bagas sudah memberikan informasi dengan detail sebelumnya.


Dan Rani pun menceritakan siapa dirinya dan bagaimana kehidupannya saat ini, tidak ada yang ditutupi sama sekali. Dan itulah salah satu nilai plus yang dilihat dari kedua orang tua Dito, bahwa Rani adalah anak yang jujur bahkan dia tidak malu mengakui keadaannya saat ini. Meskipun banyak anak muda yang merasa gengsi ketika menghadapi kenyataan bahwa kehidupan mereka dibawah rata-rata sosial ekonomi dengan yang lain.


Bu Anya pun membawa nampan dan cake yang sudah dia potong-potong untuk dinikmati bersama di ruang keluarga. Dan diikuti oleh Dito yang selalu mengekor dibelakangnya.


Pak Bagas dan Bu Anya duduk berdampingan sedangkan Rani dan Dito juga duduk berdampingan didepan Pak Bagas dan Bu Anya.

__ADS_1


"Wah ini cake kesukaan aku semua Ma! Mama tahu aja kalau aku lagi pengen makan cake ini." seru Dito dan dengan segera mengambil kue yang sudah dipotong-potong tersebut.


Tanpa menunggu aba-aba dia segera memasukkan kue ke dalam mulutnya dan merasakan sensasi rasa yang berbeda. Yang benar-benar terasa enak.


"Hmmm... Enak Ma! Ini beli di toko kue langganan Mama? Kog beda ya rasanya?" tanya Dito yang masih menikmati rasa enak pada kue tersebut.


Pak Bagas dan Bu Anya pun ikut mengambil dan memakan kue tersebut. Dan benar saja kue buatan Rani sangat pas tidak kemanisan dan tidak bantet sama sekali.


Sedangkan Rani hanya diam saja, karena dia ingin melihat reaksi orang-orang yang sudah diberinya kue. Rani takut jika kue nya tidak enak karena memang sudah lama dia tidak membuat kue lagi setelah kematian kedua orang tuanya.


"Memang rasanya gimana?" tanya Bu Anya mencoba memancing reaksi Dito.


Sedangkan Bu Anya hanya senyum-senyum saja.


"Ayo Rani ikut makan kue buatan kamu juga donk. Katanya Dito enak banget kog." ucap Bu Anya yang melihat Rani hanya diam saja, mendengarkan obrolan keluarga tersebut.


Mendengar perkataan sang Mama, seketika membuat Dito berhenti mengunyah dan menatap heran kepada Rani dan Mamanya.

__ADS_1


"Kenapa Dito? Memang Rani yang bikin kue nya kog, enak kan?" tanya Bu Anya yang bisa mengerti akan tatapan sang anak.


"Lu yang bikin semua kue ini?" tanya Dito yang menoleh ke samping dimana Rani duduk disebelahnya.


"I-iya Kak." jawab Rani terbata.


Dito tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya agar tidak ada yang menyadari bahwa dia sedang bahagia.


"Fix! Dia sempurna buat gue." batin Dito.


Tetapi sepasang suami istri di depannya saling menatap dengan tersenyum karena bisa melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Dito memang sudah move on dan memilih Rani.


...****************...


Aduhh senengnya 🥰


Tetap semangat 💪

__ADS_1


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


Double up ni kak 🥰


__ADS_2