
"Ow ya Bapak tadi mau cari alamatnya siapa?" tanya Rani yang masih fokus mengobati Dito.
"Aduhh kenapa masih inget juga sih!" batin Dito.
"Hmm.. Itu gue mau cari alamatnya kurir paket." jawab Dito dengan terbata.
Entah kenapa tiba-tiba saja hanya jawaban itu yang ada dipikirannya.
"Kurir paket?" tanya Rani memastikan, bahkan Rani sampai menoleh ke arah Dito karena merasa heran dengan jawaban Dito.
"I-iya kurir paket." jawab Dito dengan grogi karena merasa ditatap dengan intens oleh Rani.
"Setahuku yang kost disini gak ada deh yang kerjanya sebagai kurir paket. Semuanya kerja dikantor Pak, cuma Rani aja yang kerja di cafe hehe. Lagian disini kost an cewek, masa iya kurir paket ada yang cewek?" tanya Rani yang kembali fokus mengobati Dito.
Hufftt..
Dito menghela nafas lega, karena Rani sudah tidak menatapnya kembali.
"Ya boleh-boleh aja kurir paket cewek kan." ucap Dito.
"Iya jug sih Pak." jawab Rani sambil menyengir.
Karena menurutnya pekerjaan apapun bisa dilakukan oleh semua orang asalkan itu halal dan tidak merugikan orang lain.
"Beres!" seru Rani sambil mengibaskan kedua tangannya.
"Terima kasih." ucap Dito dengan ramah.
__ADS_1
"Sama-sama Pak." jawab Rani dengan tersenyum.
"Rani cuci tangan dulu ya Pak." lanjut Rani sambil masuk ke dalam rumah dengan membawa sekalian kotak obatnya untuk dia kembalikan ke rumah.
Dito hanya menganggukkan kepalanya dan memberi ijin Rani untuk mencuci tangannya.
"Iya Ma, ini Dito masih diluar bentar lagi sampai."
"...."
"Iya Ma gak lama kog."
"...."
"Iya. Bye Ma."
"Pak Dito mau pulang?" tanya Rani tiba-tiba dan duduk dikursi disebelah Dito.
Karena ternyata dari tadi Rani mendengar pembicaraan Dito dengan Ibunya lewat telepon. Rani tidak sengaja akan keluar tetapi ketika mendengar bahwa Dito sedang menelpon, Rani pun mengurungkan niat untuk keluar sehingga dia tetap menunggu dibalik tembok terasnya.
"Ow gak apa-apa, bentar lagi." jawab Dito sambil menoleh melihat Rani dan menaruh ponselnya di atas meja.
"Bapak tadi nyari alamat kurir, memangnya siapa namanya? Siapa tahu Rani kenal. Trus kenapa Bapak nyari orang itu?" tanya Rani mencoba membantu Dito.
Dito memutat bola matanya dengan malas, karena dia berpikir kenapa lagi-lagi Rani membahas hal itu. Padahal itu adalah alasan Dito saja karena Rani memergokinya sudah membuntuti.
"Dia harusnya kirim paket gue beberapa hari yang lalu tapi sampe sekarang gak dikirim-kirim. Uda gue coba hubungi tapi gak pernah diangkat." terang Dito.
__ADS_1
"Ow gitu." jawab Rani sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"By the way kog lu manggil gue Pak? Emangnya gue tua banget ya?" tanya Dito, merasa kesal karena Rani selalu memanggilnya Bapak.
"Trus Rani mesti manggil apa? Kata Pak Kelvin, Bapak investor cafe kami jadi ya Rani harus menghormati donk." jawab Rani apa adanya.
Dito menghela nafas pelan, memang benar apa yang dikatakan Rani tetapi tidak seharusnya juga dipanggil Bapak.
"Bisa manggil sebutan lain lah, jangan Bapak." ucap Dito kesal.
"Trus manggil apaan?" tanya Rani yang memang tidak tahu.
"Terserah kamu." jawab Dito.
Rani berpikir sejenak, tidak mungkin juga dia memanggil dengan nama saja.
"Gimana kalau Kak aja?" tawar Rani, setelah dia berpikir dan menemukan jawabannya.
Dito pun memikirkan apa yang dikatakan Rani dan dia pun menyetujuinya.
"Boleh juga, gak terlalu tua lah kalau itu." jawab Dito setuju.
...****************...
Tetap semangat kakak 🥰
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 😍
__ADS_1