Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 45


__ADS_3

Dito sampai menghabiskan beberapa potong kue dan seakan tidak merasa kenyang, karena selain itu adalah kue kesukaannya memang rasa kue tersebut lain dan lebih enak.


"Dito, nanti Rani di antar pulang ya?" suruh Pak Bagas kepada Dito yang saat itu sedang minum setelah memakan banyak kue.


"Ow tidak usah Pak, Rani bisa pulang sendiri kog." jawab Rani merasa sungkan kalau harus diantar pulang oleh Dito.


"Lu naik apa tadi?" tanya Dito, yang tidak mengindahkan perkataan Papanya justru malah bertanya kepada Rani.


"Naik ojek online Kak." jawab Rani.


"Tar gue anter." ucap Dito singkat.


"Gak usah Kak, gak apa-apa kog Rani bisa naik ojek online lagi." jawab Rani.


Dito segera menatapnya dengan tajam seakan tidak mau menerima jawaban apapun dari Rani. Rani pun hanya bisa pasrah.


"Udah Ran, nurut aja." ucap Bu Anya kepada Rani.


"I-iya Bu." jawab Rani.


"Ya uda Bapak sama Ibu istirahat dulu ya kalian bisa ngobrol-ngobrol sebentar." ucap Bu Anya dan akan beranjak dari duduknya bersama dengan Pak Bagas.

__ADS_1


"Dito, jangan malam-malam ya antar Rani nya." lanjut Bu Anya kepada Dito.


"Iya Ma." jawab Dito.


"Em.. Bapak, Ibu terima kasih banyak sudah mengundang Rani makan malam. Maafkan Rani kalau sudah membuat repot keluarga disini." ucap Rani sambil berdiri sebelum Bu Anya dan Pak Bagas berlalu ke kamarnya.


Bu Anya dan Pak Bagas seketika saling pandang dan tersenyum. Seakan mata mereka saling berkata bahwa memang Rani pantas menjadi menantu mereka.


"Gak repot sama sekali Ran, justru Ibu senang kamu bisa memenuhi undangan Ibu. Besok-besok kamu harus sering-sering datang lagi." jawab Bu Anya sambil memeluk Rani.


Akhirnya Pak Bagas dan Bu Anya pun berlalu menuju ke kamar mereka. Dan meninggalkan Dito juga Rani di ruang keluarga.


"Pa, Mama uda cocok sama Rani. Pokoknya kita segera lamar Rani buat Dito." ucap Bu Anya yang baru saja membersihkan diri dikamar mandi dan saat ini sedang memakai krim diwajahnya.


Sedangkan Pak Bagas sudah berbaring di ranjang sambil mengecek sedikit pekerjaannya melalui ponsel yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya.


Mendengar perkataan istrinya tersebut, Pak Bagas segera meletakkan ponselnya diatas nakas.


"Iya Ma, Papa juga cocok. Dan kalau Papa lihat Dito sudah mulai suka tapi kan kita belum tahu gimana perasaan Rani kepada Dito." jawab Pak Bagas sesuai dengan apa yang dia lihat.


"Pokoknya Papa harus bisa buat Rani jadi menantu kita." ucap Bu Anya sedikit merajuk, kemudian segera menghampiri istrinya dan berbaring disampingnya.

__ADS_1


"Ya gak bisa gitu Ma, kan perasaan gak bisa dipaksa." jawab Pak Bagas yang bergeser mendekat dan akan memeluk istrinya.


Tetapi Bu Anya segera bergeser menjauh seakan tidak mau didekati oleh suaminya. Pak Bagas pun terkejut.


"Kalau Papa gak bisa bikin Rani jadi menantu kita gak ada jatah juga selama tiga bulan!" tegas Bu Anya sambil tidur membelakangi Pak Bagas.


"Eh.. Gak bisa gitu donk Ma! Apa urusannya sama Papa?" tanya Pak Bagas takut, karena tentu saja hal itu membuat masa depan Pak Bagas terancam suram.


"Jelas ada!" tegas Bu Anya.


Pak Bagas pun mengusak rambutnya dengan gemas karena istrinya tidak mau didekati sama sekali.


...****************...


Terancam punah selama 3 bulan si Jonni nya 😂


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


Selamat hari vote 🥰

__ADS_1


__ADS_2