
Rani membiarkan rambutnya tergerai indah dan dia memakai jepit pita kecil dirambutnya sekedar untuk hiasan rambut agar tidak sepi. Dia juga memoles tipis wajahnya. Karena memang Rani jarang bermake-up sehingga ketika hanya memakai bedak dan blash on tipis aja uda kelihatan bersinar.
Ketika merapikan diri tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Entah kenapa Rani yang awalnya sudah tidak panik sekarang justru menjadi panik kembali dan dia merasakan bahwa tangannya begitu dingin.
Rani pun segera membukakan pintu. Dan benar saja disana terlihat Dito, kedua orang tuanya yang sudah dia kenal dan juga seorang sopir yang membawa seserahan lamaran.
"Hai Pookie." sapa Dito begitu melihat Rani yang begitu cantik.
"Selamat siang Bapak, Ibu." sapa Rani kepada Pak Bagas dan Bu Anya.
Rani tidak mengindahkan sapaan Dito, karena merasa malu dengan panggilan sayang mereka berdua didepan orang tua Dito.
"Pookie?" gumam Bu Anya yang mendengar panggilan sayang Dito kepada Rani.
"Eh iya sayang, aduh kamu cantik sekali memang cocok jadi mantu Ibu." jawab Bu Anya sambil memeluk sayang Rani.
Rani juga menyalami Pak Bagas dan Dito. Rani pun masih dibuat melongo dengan kedatangan mereka apalagi dengan membawa bawaan yang sebenarnya bisa dipahami oleh Rani. Meskipun Rani masih belum percaya diri lebih dulu.
"Kita gak disuruh masuk nih?" tanya Bu Anya yang sengaja menggoda Rani karena melihat Rani yang masih bingung.
"Oh ya ampun, maaf bu mari silahkan duduk." jawab Rani yang sudah tersadar.
Mereka pun duduk berhadapan. Pak Bagas dan Bu Anya duduk berdampingan kemudian Rani dan Dito duduk berdampingan juga didepan kedua orang tuanya.
Pak sopir pun membawa semua seserahan dan menaruh diatas meja didepan mereka, hingga sampai semua tak tersisa.
__ADS_1
"Sudah habis Nya." ucap Pak sopir sebelum berpamitan.
"Iya sudah kalau begitu Bapak tunggu dimobil saja ya. Terima kasih ya Pak." jawab Bu Anya.
Sopir tersebut pun menganggukkan kepala dengan sopan kemudian ijin pamit keluar untuk menunggu majikan mereka didalam mobil.
"Begini Rani, kita langsung saja. Kedatangan kami kesini yaitu ingin meminta kamu menjadi bagian dari keluarga kita. Karena kamu dan Dito sudah cukup dewasa jika harus dibiarkan berhubungan tanpa ikatan akan sangat berbahaya." ucap Pak Bagas.
"Maka dari itu kami ingin meminta kamu untuk menjadi istrinya Dito." lanjut Pak Bagas.
Jujur saja Rani cukup terharu dengan keluarga Dito yang benar-benar tidak memandang status sosial. Dan keluarga Dito cukup bisa menghargai orang lain apapun pekerjaan mereka.
Sebelum menjawab Rani menoleh ke arah Dito yang berada disampingnya. Dito pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Rani memang memiliki tabungan tetapi niat Rani menabung bukan untuk persiapan pernikahannya tetapi memang akan dia gunakan untuk masa depan.
"Ibu gak menyuruh kamu mempersiapkan apapun Rani. Yang Bapak dan Ibu mau kamu hanya menerima lamaran kami dan menikah dengan anak kami yang susah diatur ini." ucap Bu Anya dengan berkaca-kaca.
Karena Bu Anya cukup merasa senang dan lega akhirnya anaknya bisa segera menikah dengan wanita pilihannya sendiri dan kedua orang tuanya pun menyetujui.
Sebelum menjawabnya Rani melihat kedua orang tua Dito, mereka memang terlihat begitu berharap kepadanya. Kemudian Rani menoleh kepada Dito, memang awalnya pertemuan mereka sangat tidak terduga tetapi semakin lama memang bisa diakui bahwa Rani mencintai Dito tulus seperti Dito mencintainya bukan karena Rani mengetahui jika ternyata Dito adalah anak orang kaya.
"Bagaimana Ran?" tanya Bu Anya tidak sabar.
"Sabar donk Ma." ucap Pak Bagas dengan memegang lengan istrinya karena tidak sabar menunggu jawaban dari Rani.
__ADS_1
Rani pun tersenyum melihat interaksi orang tua Dito. Rani berpikir bahwa dia pasti akan nyaman dengan mereka.
"Rani mau Bu menerima lamaran Bapak dan Ibu." jawab Rani akhirnya.
Dan hal itu tentu saja membuat lega dan bahagia keluarga Dito. Dan Dito yang berada disampingnya pun menggenggam tangan Rani sehingga membuat Rani menoleh kepadanya.
"Makasih ya Sayang." ucap Dito senang.
Rani hanya tersenyum dan mengangguk. Dan tanpa disadari kepala Dito bergerak mendekat seakan ingin mencium Rani. Tetapi dengan segera Pak Bagas menegurnya.
"Sabar Dito sabar." ucap Pak Bagas, dan seketika Dito tersadar bahwa dia lupa jika masih ada kedua orang tuanya.
"Ini yang membuat Papa dan Mama harus segera meresmikan kalian." lanjut Pak Bagas dan membuat semua orang disana pun tertawa sedangkan Rani merasa malu karena Dito yang ingin menciumnya.
Akhirnya Bu Anya pun memasangkan cincin dikedua jari mereka. Setelah itu mereka membahas tanggal pernikahan yang tidak lama lagi akan diselenggarakan.
...****************...
Yuk nikah yuk ðŸ¤
Ditamatin aja sampai nikah apa lanjut nih?
Yuk komen yuk..
Selamat hari vote 🥰
__ADS_1