Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 52


__ADS_3

Di dalam mobil..


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Rani hanya diam saja dan selalu melihat ke kaca disebelah kirinya. Dito sesekali melirik Rani yang sama sekali tidak menganggapnya ada.


Dito menghela nafas berat. Kemudian dia berdehem mencoba untuk mencairkan suasana.


"Eheemm.."


"Dia mantan tunangan gue. Dan kami uda gak ada hubungan sama sekali. Jadi lu gak usah berpikir kalau gue masih ada hubungan sama dia." ucap Dito mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Rani menoleh kepadanya dan hanya merespon dengan biasa saja. Kemudian dia kembali menatap pemandangan disebelah kirinya.


Melihat respon Rani yang seperti itu Dito segera meraih tangan kanan Rani dengan tangan kirinya sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk tetap menyetir.


"Lu harus percaya sama gue. Gak ada yang gue tutupin." Dito kembali mencoba menjelaskan kepada Rani.


"Ow ya tadi kan ada telepon dari Bu Anya, Kakak uda telepon balik belum?" tanya Rani mencoba mengalihkan pembicaraan.


Karena jujur saja dia juga merasa cemburu. Apalagi mantan tunangan kekasihnya sangat berbeda jauh darinya. Baik dari penampilan maupun kehidupan sosialitanya. Dia merasa semakin minder saat ini.


Mendengar Rani yang mengalihkan pembicaraan, Dito segera menepikan mobilnya. Rani pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dito. Setelah berhenti Dito segera duduk menghadap Rani dan memegang tangan satunya. Saat ini keduanya duduk berhadapan dengan tangan Rani yang digenggam oleh Dito.


"Please, ngomong sesuatu jangan mengalihkan pembicaraan! Gue gak mau diawal hubungan yang baru kita bangun ini akan sia-sia." ucap Dito dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Rani tidak mampu menatap mata Dito, Rani segera mengalihkan pandangannya. Dito pun segera meraih dagu Rani supaya Rani tetap memandangnya.


Rani pun menghela nafas pelan kemudian dia dengan berani menatap mata Dito dan tersenyum kepadanya. Dito hanya diam saja dan tetap menatap mata Rani. Sedangkan tangannya tetap berada ditangan Rani dan dagu Rani.


"Rani sudah bilang sama Kakak, kalau Rani bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dan Rani sadar diri jika dibandingkan dengan mantan Kakak. Rani..." belum sempat dia melanjutkan perkataannya Dito segera menarik dagunya untuk lebih mendekat kepadanya.


Dan dalam hitungan detik kedua bibir mereka bertemu, Rani pun kaget dibuatnya dia sempat menolak tetapi tenaganya tidak cukup kuat jika dibandingkan Dito karena Dito justru menahan tengkuk Rani. Untung saja kaca mobil Dito tidak terlihat dari luar sehingga tidak ada yang tahu jika mereka didalam mobil sedang bercumbu.


Awalnya kedua bibir mereka hanya menempel tetapi kemudian Dito menutup mata dan menyesapnya dengan lembut. Rani pun terbawa suasana dia juga ikut memejamkan mata merasakan sensasi yang baru kali ini dia rasakan.


Ya, ini adalah ciuman pertama Rani. Karena selama ini jangankan untuk berpacaran hanya mengenal laki-laki saja Rani tidak berani. Karena dia harus berjuang bekerja untuk membantu perekonomian orang tuanya sejak dulu.


Meskipun masih terbilang kaku, tetapi Dito tersenyum didalam ciumannya. Dia merass bersyukur mendapatkan Rani yang masih tersegel. Karena Dito bisa merasakan Rani yang tidak mahir sama sekali dalam berciuman.


"Terima kasih." ucap Dito tulus.


Seketika pipi Rani pun merona karena dia menyadari bahwa baru saja mereka berciuman. Dan entah kenapa Dito mengucapkan terima kasih.


Tetapi sebenarnya Dito mengucapkan terima kasih karena Rani bisa menjaga dirinya sampai sejauh ini sehingga Dito menjadi orang yang pertama dalam hidup Rani.


"Ihh Kakak." rengek Rani karena merasa malu.


"Kenapa? Mau minta lagi?" goda Dito, dia sampai mendekatkan kembali wajahnya.

__ADS_1


Tetapi Rani segera mendorong bahunya agar menjauh. Dan hal itu justru membuat Dito terkekeh dia merasa gemas dengan Rani.


"Ya uda ayo nanti lu terlambat." ucap Dito yang kembali menjalankan mobilnya untuk menuju ke cafe Kelvin.


"Salah sendiri siapa suruh minggir." gerutu Rani.


"Habisnya gue gak tahan sama bibir lu." jawab Dito asal sambil melirik ke arah Rani.


Rani yang mendengarnya seketika melotot tajam ke arah Dito. Tetapi Dito justru menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya.


"Ow ya nanti kalau kita uda nikah lu gak boleh kerja lagi di cafe Kelvin. Lu yang pegang cafe gue, soalnya Papa uda nyuruh gue ngurus perusahaan." ucap Dito serius ditengah-tengah perjalanan mereka.


Rani tidak menanggapi, dia hanya menoleh sekilas ke arah Dito.


"Serius Ran!" tegas Dito, yang melihat Rani tidak merespon sama sekali.


"Hemm..." Rani hanya menjawabnya dengan deheman saja.


...****************...


Akhirnya kena juga dehh 🥰


Tetap semangat 💪

__ADS_1


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2