
Keesokan harinya, Rani melakukan aktivitas seperti biasa. Bangun pagi, memasak dan berangkat kuliah dengan berjalan kaki seperti biasa. Seakan dia melupakan bahwa semalam Dito mengutarakan perasaannya kepadanya dan hari ini dia harus memberikan jawaban.
Begitu sampai dikampus Rani belajar seperti biasa dan fokus mendengarkan setiap pelajaran yang diberikan.
...----------------...
Dikediaman Pak Bagas dan Bu Anya.
Saat ini sepasang suami istri tersebut sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Bu Anya tetap melayani suaminya dengan menyiapkan sarapan tetapi Bu Anya masih terlihat cuek selama Pak Bagas belum bisa memenuhi keinginan Bu Anya.
"Ma, jangan diem aja donk. Gak mau bicara apa gitu?" tanya Pak Bagas.
Pak Bagas orang yang tidak bisa didiamkan oleh pasangannya. Jika pasangannya marah Pak Bagas lebih baik di marahi daripada harus didiamkan seperti ini.
"Kalau makan dilarang bicara!" jawab Bu Anya dengan ketus.
Pak Bagas menghela nafas pelan. Sebenarnya bukan alasan itu yang diberikan oleh istrinya, karena Pak Bagas jelas tahu bahwa istrinya masih terus menyuruh Pak Bagas untuk menjadikan Rani sebagai menantunya.
Akhirnya Pak Bagas pun menyerah, dia juga makan dengan diam sambil sesekali melirik istrinya yang tetap diam saja selama sarapan berlangsung.
Berbeda sekali dengan Dito. Dito pagi ini terlihat sangat bahagia. Dia sudah bersiap-siap akan berangkat ke cafenya. Dito sudah berdandan rapi dan saat ini sedang berada di ruang makan untuk sarapan bersama.
"Pagi Ma, Pa." ucap Dito menyapa kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Pagi." jawab mereka bersamaan.
Tetapi Dito merasa ada sesuatu diantara keduanya. Karena Dito melihat wajah keduanya yang tidak seperti biasa. Apalagi wajah sang Mama. Dan jika sang Nyonya sudah marah maka tidak ada yang berani melawan.
Dito pun menatap ke arah Pak Bagas yang saat itu juga sedang menatapnya. Dito menaikkan alisnya seakan bertanya kepada Papanya apa yang sedang terjadi tetapi Pak Bagas hanya menjawab dengan menggendikkan kedua bahunya.
Mereka bertiga pun makan dalam diam. Hingga makanan mereka habis dan Bu Anya lebih dulu pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Dan kesempatan itulah digunakan Dito untuk bertanya kepada Papanya. Karena Dito yakin pasti Papanya tahu sesuatu yang membuat sang Mama seperti itu.
"Mama kenapa Pa?" tanya Dito dengan lirih karena tidak mau Mamanya mendengar.
Sebelum menjawabnya, Pak Bagas menghela nafas pelan.
"Semua ini karena kamu. Dan kamu harus bisa memenuhi keinginan Mama kamu." jawab Pak Bagas dengan lirih juga.
"Maksud Papa?" tanya Dito.
"Mama ingin Rani jadi menantunya dan selama belum ada tanda-tanda itu Papa gak akan dapat jatah selama tiga bulan. Masa depan Papa jadi suram." jawab Pak Bagas sedih.
Pak Bagas tidak merasa malu membicarakan hal tersebut kepada Dito. Karena memang Dito sudah dewasa dan tentu saja dia tahu hal-hal seperti itu.
Bukannya merasa ikut kasihan, Dito justru tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi dia sedikit menahannya agar tidak terdengar sampai ke dapur dimana sang Mama berada.
"Kenapa kamu malah ketawa?" kesal Pak Bagas.
__ADS_1
Karena semua gara-gara Dito tetapi justru Dito tidak merasa kasihan kepadanya dan malah menertawakannya.
"Pokoknya kamu harus segera ngomong ke Rani kalau mau melamarnya. Kamu gak kasihan lihat Papa tersiksa selama itu?" tanya Pak Bagas memelas.
Seketika Dito pun mempunyai ide untuk menggoda sang Papa. Dia sengaja tidak memberitahukan tentang kejadian tadi malam dan hari ini Dito yang akan mendapatkan jawaban dari Rani.
"Dito gak janji Pa, kan kita baru saja kenal masa iya langsung main lamar aja." ucap Dito menahan tawanya.
"Ya, gimana caranya lah Dito." jawab Pak Bagas kembali memelas.
"Kayaknya Dito uda kesiangan Pa. Dito berangkat dulu ya." bukannya menjawab perkataan sang Papa, Dito justru berpamitan untuk berangkat ke cafe.
Sebelum benar-benar keluar dari rumah, Dito menghampiri Mamanya dulu untuk berpamitan dan sengaja menggoda Papanya.
"Daa... Papa!" seru Dito sambil berjalan menuju pintu.
"Dito! Dito!" panggil Pak Bagas dengan lirih karena takut istrinya akan mendengar.
Tetapi Dito sengaja tidak mendengar panggilan dari Pak Bagas. Dan Pak Bagas pun dengan pasrah menerima semua.
...****************...
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa ya kak 🙏