Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 31


__ADS_3

"Papa tahu sesuatu kan?" tanya Bu Anya lagi.


"Dito sedang jatuh cinta Ma." jawab Pak Bagas dengan tersenyum.


Tentu saja Pak Bagas bisa berkata seperti itu karena beliau pernah muda dan pernah mengalami hal tersebut. Meskipun Dito belum memahami hatinya, tetapi sebagai orang tua Pak Bagas bisa menilainya.


"Papa yakin? Sama siapa? Kog Mama gak tahu? Kenapa gak dibawa kerumah?" Bu Anya mengajukan banyak pertanyaan dengan antusias.


Ya, tentu saja Bu Anya bahagia karena akhirnya anaknya bisa move on kembali setelah terpuruk beberapa tahun akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan tunangannya. Dan reaksi inilah yang ditakutkan Pak Bagas ketika beliau tidak membicarakannya lewat telepon tidak secara langsung.


"Papa kog diem aja sih?" tanya Bu Anya dengan cemberut.


"Habisnya pertanyaan Mama banyak sekali, Papa bingung mau jawab yang mana dulu." jawab Pak Bagas.


Bu Anya hanya tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Pak Bagas menceritakan semua yang dia tahu. Dari hasil penyelidikan Andrew dan informasi yang didapatnya.


"Tapi kali ini Mama jangan berharap Dito mendapatkan wanita dari kalangan seperti kita. Karena Rani ini anaknya sangat sederhana tetapi meskipun begitu Papa bisa menilai jika hatinya baik dan tulus." ucap Pak Bagas.


"Iya Pa, Mama tahu. Untuk kali ini Mama akan menyetujui siapapun pilihan Dito. Karena Mama menyesal sudah memaksa Dito tunangan dengan Sherin padahal jelas-jelas Sherin sudah berkhianat." jawab Bu Anya menyesal.


"Ya sudah sekarang kita ke cafenya Kelvin dan berpura-pura menjadi pembeli disana. Nanti Mama bisa menilai secara langsung bagaimana Rani. Dan Mama harus janji jangan sampai Dito tahu jika kita mengetahui hal ini, biarkan saja dia nanti yang akan mengenalkan Rani kepada kita. Karena Papa sangat yakin tidak akan lama lagi pasti dikenalkan." ucap Pak Bagas dengan yakin.


"Iya Pa, Mama mengerti. Ya sudah ayo sekarang kita berangkat. Mama sudah gak sabar ketemu calon mantu." jawab Bu Anya sambil bangkit berdiri dan mengambil tas nya yang sudah dia siapkan sedari tadi.


Pak Bagas hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian segera mengikuti istrinya keluar.


Sedangkan Dito sendiri saat ini sudah berada diruangannya di cafe miliknya sendiri. Jika tidak, bisa dipastikan ketika kedua orang tuanya datang ke cafe Kelvin pasti akan bertemu dengan Dito.


Dia teringat akan ucapan Papanya semalam tentang dia harus memulai untuk mengurus perusahaan. Bukannya menolak tetapi sesungguhnya passion dia bukan di perusahaan tetapi di cafe miliknya sendiri.

__ADS_1


"Seandainya gue nemuin cewek yang uda biasa tahu tentang cafe gak bakal lama-lama mau langsung gue nikahin aja. Tar biar dia urus cafe gue kerja diperusahaan Papa." gumam Dito, dan secara tidak langsung itu menjadi nazar dia.


Dan tiba-tiba saja bayangan Rani lewat didepan mata dia. Bagaimana senyuman Rani, bagaimana tertawanya Rani semuanya seperti sebuah film yang diputar didepan matanya.


Dito kemudian menggelengkan kepalanya, seakan hal itu bisa mengusir bayangan-bayangan yang lewat itu.


"Ahh masa iya cewek plin plan itu. Kadang nyebelin kadang ngangenin." gumam Dito.


Akhirnya Dito memilih untuk keluar dari ruangannya. Dia pergi untuk sekedar melihat-lihat situasi di dalam cafenya tersebut.


Dengan interior ataupun eksterior yang tidak pernah membosankan dan bisa masuk bagi semua kalangan. Bukan hanya kalangan menengah ke atas tetapi juga menengah kebawah sekalipun.


...****************...


Aku kasih double up kakak 🥰

__ADS_1


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2