
Berbeda dengan Dito, justru Rani hari ini merasa badmood sekali. Dari pagi bangun tidur dia sudah merasa uring-uringan karena ada saja yang terjadi. Entah itu air yang tiba-tiba mati waktu dia mandi, gas elpiji yang habis waktu dia masak dan sepatu yang hilang satu karena lupa simpan.
Bukan hanya itu saja, ketika sampai di kampus yang sesuai jadwal hari ini adalah pengumuman pemenang kuis tetapi ternyata sesuai realita pengumumannya diundur bahkan tidak ada pemberitahuan sama sekali.
Rani yang sudah hilang semangat pun hanya duduk diam ditaman kampus. Karena seakan sia-sia dia datang ke kampus tanpa tujuan yang pasti.
"Huuhh.. Kenapa sih dengan hari ini?" gerutu Rani kesal sambil menendang-nendangkan sepatunya ke rumput disekitar taman.
"Langsung ke kerjaan aja lah mau pulang juga nanggung." gumam Rani sambil melihat jam ditangannya yang menunjukkan bahwa 1 jam lagi dia bekerja.
Akhirnya dengan setengah hati Rani pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari area kampus untuk menuju ke tempatnya bekerja.
Tidak lama Rani pun sudah sampai dan dia segera masuk dan menuju ke lokernya untuk berganti pakaian. Tetapi kali ini Rani tidak akan langsung bekerja karena jam kerja di shift sebelumnya belum habis. Dia hanya ingin ke pantry saja untuk sekedar menyapa teman-temannya yang shift pagi.
"Lhoh kog lu uda dateng Ran?" tanya Sasa yang kemarin bertukar shift dengan Rani.
"Iya ni, lagi males aja dikampus gak ada kegiatan. Mendingan langsung kesini mau minta makan siang hehe." jawab Rani dengan cengengesan.
"Huuu.. Kebiasaan lu!" ucap Sasa sambil mendorong pelan bahu Rani.
Memang sudah menjadi hal yang biasa jika karyawan meminta sisa makanan yang ada, karena memang dibebaskan asalkan ada aturan dan bisa saling berbagi. Dan tidak ada yang melarang juga jika Rani yang meminta, karena mereka tahu bahwa Rani memang sebatang kara dan hanya anak kost yang sederhana.
Dito masuk ke cafe dengan disambut Sasa yang shift pagi, karena memang sudah mengenal Dito maka mereka mempersilahkan Dito untuk duduk di kursi yang sudah biasa Dito dan Kelvin duduki.
"Pak Kelvin nya masih dijalan Pak." ucap Sasa yang sudah tahu bahwa kedatangan Dito untuk menemui Kelvin.
"Oh iya gak apa-apa gue tungguin." jawab Dito ramah dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Sasa sampai terheran-heran karena tidak biasanya Dito bersikap seperti itu kepada cewek. Karena biasanya Dito akan dingin dan cuek kepada seorang wanita. Tetapi tidak kali ini. Sehingga membuat Sasa tertegun dan melongo. Hingga suara Dito membuyarkan lamunannya.
"Lu boleh pergi." ucap Dito kembali, yang tentu saja masih dengan sikap ramahnya.
Sasa pun mundur perlahan dan masih fokus dengan Dito, karena ini sekalinya Dito bersikap seperti itu kepadanya selama Sasa bekerja di cafe tersebut. Hingga Sasa menghilang dibalik pintu pantry masih terasa shock atas kejadian yang baru saja dia alami.
"Lu kenapa Sa?" tanya temannya yang lain, yang merasa heran karena Sasa datang dengan mimik muka yang terlihat shock.
Sedangkan Rani yang masih menikmati makanannya pun hanya melirik saja.
"Sumpah! Bener-bener salah satu keajaiban dunia!" seru Sasa kegirangan.
"Maksud lu apaan?" tanya Tuti yang kebetulan saat itu ada disitu juga.
"Itu Pak Dito..." ucap Sasa.
"Kenapa sama Pak Dito?" tanya yang lain.
"Sumpah ganteng banget!" seru Sasa lagi.
"Kalau itu semua uda tahu kali." jawab Tuti sedikit kesal.
Karena memang sudah menjadi rahasia umum jika Dito memang tampan. Bahkan bisa dikatakan sebagai calon suami idaman.
"Bukan gitu. Gue baru aja disenyumin sama Pak Dito! Trus Pak Dito juga jawab perkataan gue dengan ramah." ucap Sasa dengan antusias.
"Ahh kalau itu gue gak percaya. Kayak gak tahu Pak Dito aja. Kayaknya gak doyan cewek tu orang." jawab Tuti menurut sepengetahuannya.
__ADS_1
"Huss! Hati-hati kalau ngomong lu." tegur teman yang lain.
"Lah beneran! Kemarin aja waktu Rani gak sengaja numpahin minuman ke bajunya dia marah-marah sampai nyuruh Rani buat cuciin bajunya kalau gak mau Rani disuruh ganti lima juta. Iya kan Ran?" tanya Tuti kepada Rani, untuk meminta pengakuan kepada Rani bahwa apa yang dikatakannya itu benar.
"Yang bener lu Tut?" tanya Sasa gak percaya.
Rani yang sedang fokus mendengarkan pun menjadi kaget karena tiba-tiba saja dia yang menjadi pembahasan teman-temannya.
"Ahh... I-iya bener." jawab Rani sedikit tergagap.
"Trus lu milih nyuciin apa gantiin lima juta?" tanya Sasa penasaran.
"Ya cuciin donk. Duit sapa coba cuma kena air gitu aja suruh bayar lima juta." justru Tuti yang menjawabnya dengan nada kesal.
Rani pun hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapan Tuti, karena mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Wah sadis juga ya." gumam Sasa lirih, tetapi masih bisa didengar yang lain.
"Uda-uda pada bubar sono tar Pak Kelvin datang berabe lu pada. Siap-siap sana bentar lagi pergantian shift." ucap salah satu teman mereka.
Dan mereka pun melakukan apa yang dikatakan olehnya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
__ADS_1