
Sherin mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Saat ini yang ada dipikirannya adalah mendatangi orang tua Dito. Meskipun mereka sudah batal bertunangan tetapi orang tua Dito sudah mengatakan kepada Sherin bahwa mereka akan tetap menganggap Sherin sebagai anaknya juga apalagi orang tuanya yang juga sudah meninggal semua.
"Gue harus bisa dapetin hati Mamanya Dito dulu, baru gue bisa dapetin anaknya." gumam Sherin dengan senyum smirknya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Sherin sudah sampai didepan pagar rumah Dito. Dia segera membunyikan klakson mobil dengan tidak sabar. Sehingga membuat Pak Kodir tergupuh untuk melihat keluar.
Begitu gerbang dibuka sedikit, Sherin segera mengeluarkan kepalanya untuk menyuruh Pak Kodir membuka pagar dengan lebar.
"Heh satpam! Buruan buka pagarnya! Gue mau masuk." teriak Sherin dengan tidak sopan.
Ya, begitulah Sherin dia tidak akan bisa menghargai orang yang dia anggap status ekonominya lebih rendah dari dia. Dan itulah salah satu hal yang membuat Dito semakin yakin untuk membatalkan pertunangan mereka.
"Haduh ulet bulu datang lagi." gumam Pak Kodir kesal.
Hampir seluruh pegawai dirumah Pak Bagas tidak suka jika Sherin datang, karena Sherin tidak bisa sopan sama sekali.
"Tunggu sebentar! Saya ijinkan dulu sama yang punya rumah." teriak Pak Kodir juga, kemudian segera menutup pagar dan menguncinya kembali.
Melihat hal itu emosi Sherin semakin memuncak.
"Dasar satpam kurang ajar!" marah Sherin dengan memukul setir mobilnya.
"Awas lu ya kalau gue uda jadi nyonya dirumah ini, bakal gue pecat lu semua!" lanjut Sherin yang masih misuh-misuh didalam mobilnya.
Mau tidak mau Sherin tetap menunggu sampai pagar dibuka, karena bagaimanapun dia harus menjalankan rencananya ini.
Pak Kodir pun masuk kembali ke dalam pos satpamnya untuk menghubungi orang didalam rumah dengan menggunakan telepon yang sudah diatur menghubung ke dalam rumah.
Kebetulan saat itu Bu Anya sendiri yang menerima telepon dari Pak Kodir.
"Ya Pak?" tanya Bu Anya begitu menerima telepon.
Tentu saja Bu Anya tahu jika yang menghubunginya adalah Pak Kodir karena itu adalah satu-satunya telepon yang terhubung dengan pos satpam.
"Itu Nyah ulet bulu dateng." jawab Pak Kodir dengan nada yang masih terdengar kesal.
"Ulet bulu?" tanya Bu Anya bingung.
Karena menurut pemikiran Bu Anya jika ada ulet bulu ya harus segera dibasmi biar tidak masuk ke dalam rumah dan tidak perlu melapor, pikirnya.
__ADS_1
"Itu maksud saya Non Sherin." jawab Pak Kodir yang tahu jika majikannya bingung.
"Owalah ada-ada saja tow Pak." ucap Bu Anya yang lega karena bukan ulet bulu sesungguhnya menurut pemikirannya.
"Ya sudah suruh masuk aja Pak." lanjut Bu Anya, kemudian segera menutup telepon.
Bu Anya menggelengkan kepala sambil tersenyum karena pegawainya yang memberi julukan ulet bulu kepada Sherin. Karena memang Sherin seperti ulet bulu yang menempel jika membutuhkan sesuatu. Bu Anya pun berjalan ke ruang tamu sambil menunggu Sherin masuk.
Pak Kodir segera membuka lebar pagar dan dengan segera mobil Sherin masuk. Tetapi dia berhenti sebentar didepan Pak Kodir yang masih berdiri di dekat pagar kemudian membuka kaca mobilnya.
"Dasar satpam!" ucap Sherin dengan meremehkan status pekerjaan Pak Kodir, kemudian segera masuk ke halaman rumah Dito.
"Huh dasar ulet bulu!" kesal Pak Kodir, tentu saja Sherin tidak mendengarnya.
Begitu turun dari mobil, terlihat Bu Anya yang sudah menunggu didepan pintu. Sherin pun segera menghambur ke pelukan Bu Anya.
"Mamaa....!" seru Sherin dengan nada yang tentu saja dibuat-buat.
Didalam pelukan Sherin terlihat tersenyum smirk karena korbannya sudah ada dipelukannya.
"Kamu gimana kabarnya?" tanya Bu Anya basa basi, ketika pelukan mereka terurai dan Bu Anya membawa Sherin untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Sebenarnya Bu Anya tidak membenci Sherin, tetapi sikap dan sifat Sherin yang manja dan kekanakan membuat Bu Anya tidak menyukai sosok Sherin. Padahal dulu sebelum tahu Sherin yang seperti itu Bu Anya sangat mendukung menjodohkan anaknya dengannya, maka dari itu dulu Bu Anya memaksa Dito untuk menikah dengan Sherin.
"Sherin kangen sama Dito Ma." ucap Sherin tanpa punya malu sama sekali.
Sebelum menjawab pertanyaan Sherin, Bu Anya memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuk Sherin.
"Kalau kangen ya ketemu donk." jawab Bu Anya, sebenarnya dalam hati Bu Anya tidak ingin Dito bertemu kembali dengan Sherin.
"Tadi Sherin uda ketemu Dito di cafe Ma." ucap Sherin.
"Ya sudah donk, kan sudah ketemu brarti uda gak kangen lagi." jawab Bu Anya yang masih menanggapi Sherin dengan baik.
"Tapi dia bawa cewek yang jelek, kumel bau lagi masa Dito ngaku-ngaku kalau itu calon istrinya. Gak mungkin kan Ma." gerutu Sherin kepada Bu Anya.
Bu Anya memutar bola matanya karena sedikit kesal mendengar apa yang dikatakan Sherin. Karena menurutnya Sherin tidak berubah sama sekali, dia masih tetap merendahkan orang-orang yang ada disekitarnya. Dan saat itu Bu Anya tidak tahu jika yang dimaksud Dito adalah Rani, Bu Anya hanya berpikir Dito melakukan itu hanya untuk membuat Sherin menjauhinya.
"Iya memang tadi Dito pergi sama calon istrinya kog dan mereka akan segera menikah makanya tadi mereka cari-cari referensi untuk pernikahan mereka." sekalian saja Bu Anya membumbui apa yang dikatakan oleh Sherin.
__ADS_1
"Kog secepat itu Ma?" rengek Sherin.
"Cepat gimana?" tanya Bu Anya mengerutkan keningnya.
"Secepat itu Dito mau nikah." jawab Sherin.
"Ya memang jodohnya sudah ada. Sudah makanya sekarang kamu juga segera menikah biar tidak kesepian lagi." ucap Bu Anya menasehati.
Tentu saja Bu Anya tahu pertunangan Dito yang batal disebabkan karena apa, tetapi Sherin mengatakan hal yang berbeda kepada kedua orang tua Dito, dia mengarang cerita seakan-akan dia yang disakiti oleh Dito.
"Tapi Ma..." belum selesai Sherin berbicara bersamaan dengan itu seorang asisten rumah tangga datang dan meletakkan minuman untuk Sherin diatas meja.
"Uda kamu minum dulu aja." ucap Bu Anya yang segera menyodorkan minuman kepada Sherin agar dia berhenti berbicara.
Sherin pun dengan terpaksa menurut dan meminumnya hingga hampir habis.
"Hmm maaf ya Sherin, Mama harus arisan. Ini sudah ditunggu sama teman-teman Mama." ucap Bu Anya sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Karena Bu Anya tidak mau menahan Sherin lebih lama dirumahnya, karena kalau tidak Sherin akan membicarakan hal-hal yang tidak penting menurutnya.
Sekali lagi dengan sangat terpaksa Sherin bangkit berdiri dan berpamitan kepada Bu Anya. Terlihat sangat jelas sekali diwajahnya bahwa dia menahan emosinya. Tetapi Bu Anya tidak peduli dengan hal itu.
Melihat Sherin yang seakan masih tidak ingin pergi, Bu Anya segera berakting kembali.
"Pak Kodir, siapkan mobil saya mau berangkat sekarang sudah terlambat ini." ucap Bu Anya dengan sengaja agar Sherin segera pergi.
Dan hal itu membuat Sherin percaya jika Bu Anya memang akan pergi. Dia pun segera menuju mobilnya dan keluar dari rumah Dito tanpa berpamitan kepada Pak Kodir bahkan melihatnya pun tidak.
Melihat kepergian Sherin, Bu Anya pun terkekeh sendiri.
"Hebat juga akting ku haha." ucap Bu Anya sambil menutup pintu.
"Memang ulet bulu." lanjutnya sambil berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
...****************...
Memang ulet bulu gak tu 😆😂
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
Uda 1000 kata lebih ini kak 🥰