Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 26


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada istrinya, Pak Bagas dan sopir yang setia pun segera berangkat menuju ke perusahaan tempat dimana selama ini Pak Bagas mengupayakan kesuksesannya.


30 menit berlalu akhirnya Pak Bagas pun sampai di perusahaannya. Beliau segera menuju ke ruangannya dan disana banyak karyawan yang menyapanya dan Pak Bagas pun menjawab dengan ramah.


Begitu sampai diruangan Pak Bagas disambut oleh sekretaris dan orang kepercayaannya yang selama ini setia disampingnya.


"Gimana kerjaanmu?" tanya Pak Bagas begitu beliau duduk dikursi kebesarannya dengan menyandarkan punggung.


Ya, Pak Bagas memang menyuruh orang tersebut untuk mencari tahu tentang Rani. Tentu saja itu semua tanpa sepengetahuan Dito karena Dito yang belum mau jujur kepadanya. Sehingga membuat Pak Bagas bergerak lebih dulu.


Andrew, orang kepercayaan Pak Bagas pun memberikan berkas yang berisi informasi tentang Rani. Pak Bagas menerimanya kemudian membaca isinya dan terlihat mengangguk-anggukkan kepala setelah itu.


"Bagus, kerja kamu. Ternyata dia ada disekitar kita dan gak susah buat menemukannya." ucap Pak Bagas begitu selesai membaca informasi tentang Rani.


"Sekarang tinggal atur strategi saja buat ketemuan sama dia." lanjutnya, kemudian menutup berkas dan menyimpannya.


"Baik Pak." jawab Andrew dengan sopan.


"Sekarang lanjutkan pekerjaan kamu." ucap Pak Bagas kepada Andrew dan akan memulai pekerjaannya.


"Saya permisi Pak." jawab Andrew yang kemudian keluar dari ruangan Pak Bagas.


Pak Bagas hanya menjawabnya dengan berdehem saja karena sudah mulai fokus dengan layar didepannya.


...----------------...

__ADS_1


Menjelang siang Dito keluar dari kamar dan tampak terlihat sudah rapi. Karena setelah Papanya keluar dari kamarnya Dito tidur kurang lebih 2 jam dan dia bangun karena terasa lapar. Tetapi pantang baginya jika keluar kamar dengan keadaan yang masih berantakan. Sehingga dia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Begitu turun ke lantai 1 disana sangat sepi dan hanya terlihat asisten rumah tangganya saja yang sedang membersihkan rumah.


"Mama kemana Mbak?" tanya Dito kepada Mbak Puji yang sedang mengepel lantai. Dan Dito yang mengambil minuman kaleng di lemari es.


"Ibu lagi di kebun Mas, mau tanam bunga." jawab Mbak Puji sesuai dengan apa yang dia tahu.


Dito hanya menjawab dengan anggukan kepala. Karena memang sudah tahu kesenangan Mamanya jika sudah menyangkut tentang tanam menanam.


"Minta tolong panasin makanan ya Mbak, aku mau makan sekarang." pinta Dito, kemudian Dito berjalan menuju ke kebun dimana Mamanya berada.


"Iya Mas." jawab Mbak Puji yang segera meletakkan alat pel ketempat semula dan dia segera melaksanakan perintah Dito.


Bu Anya melihat Dito dari kejauhan menghampirinya dan Dito memilih duduk dikursi yang berada tidak jauh dari Mamanya.


Dito hanya mengangguk dan ikut menatap apa yang Mamanya kerjakan.


"Gak pergi? Biasanya uda ngilang aja jam segini." tanya Bu Anya, yang sebenarnya mengarah ke sindiran.


"Nanti agak siangan, mau ketemu Kelvin di cafe nya." jawab Dito.


Sebenarnya jelas ada alasan kenapa Dito ingin pergi kesana, selain alasan investasi di cafe Kelvin, Dito memang sengaja ingin bertemu lagi dengan Rani. Wanita yang sejak semalam membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan sampai sekarang kepala Dito masih terasa pusing karena kurangnya jam tidur malamnya.


"Memangnya belum selesai urusan investasinya?" tanya Bu Anya.

__ADS_1


"Uda selesai sih, tapi masih ada yang perlu dibahas lagi." jawab Dito.


"Mama ngapain sih mesti ngerjain sendirian?" tanya Dito mengalihkan pembicaraan.


"Ya trus siapa yang kerjain?" tanya balik Bu Anya kepada Dito.


"Kan ada Pak kebun." jawab Dito.


"Nanti beda gak sesuai sama apa yang Mama mau." ucap Bu Anya menjelaskan.


"Ya kan Mama tinggal arahin aja." jawab Dito.


"Tetet aja beda. Seandainya uda menantu Mama pasti seneng nanti bisa berkebun bareng." ucap Bu Anya berandai-andai.


Dito pun memutar bola matanya malas karena Mamanya selalu saja membahas soal itu. Dito pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke dapur, karena dia berpikir pasti Mbak Puji sudah selesai menyiapkan makanannya.


"Mau kemana kamu!" seru Bu Anya yang melihat Dito beranjak pergi.


"Makan!" seru Dito yang sudah menjauh pergi.


"Selalu saja menghindar kalau diajak ngomong soal istri." gumam Bu Anya.


Kemudian Bu Anya pun kembali menyelesaikan pekerjaannya lagi.


...****************...

__ADS_1


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2