Dikira Kurir Paket

Dikira Kurir Paket
Bab 33


__ADS_3

Tidak berapa lama pesanan Pak Bagas dan Bu Anya sudah siap. Dan Rani pun segera mengantarkannya. Tidak banyak perbincangan saat itu. Pak Bagas dan Bu Anya pun segera menyantap makan siang mereka setelah mengucapkan terima kasih.


Keduanya makan dengan tenang dan sesekali memperhatikan Rani yang bekerja melayani pelanggan. Rani tidak merasa bahwa dia sedang diperhatikan. Dia bekerja seperti biasanya.


30 menit berlalu, Pak Bagas dan Bu Anya pun selesai menikmati makanan mereka. Dan mereka bersiap untuk segera pulang kerumah. Yang penting mereka sudah mengetahui seperti apa wanita yang sedang didekati oleh anaknya tersebut.


Bu Anya pun dengan sengaja meninggalkan dompet dan ponselnya diatas mejanya tanpa sepengetahuan suaminya. Karena ingin melihat kejujuran karyawan Kelvin atau bisa jadi Rani yang membereskan meja mereka nantinya.


Atau mungkin jika saja tidak ada yang jujur, Bu Anya akan mengikhlaskannya. Karena menurut beliau semua itu bisa dibelinya lagi.


Pak Bagas dan Bu Anya pun segera menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka. Setelah selesai melakukan transaksi mereka bersiap untuk keluar dari cafe tersebut. Dan bersamaan dengan itu Bu Anya sempat melirik ke arah meja tempat dia dan suaminya tadi duduk, dengan kebetulan Rani yang akan membersihkan meja tersebut. Bu Anya tersenyum dalam hati karena merasa yakin bahwa Rani akan sangat jujur dan akan mengejarnya untuk mengembalikan dompet dan ponselnya.


Pak Bagas dan Bu Anya berjalan perlahan menuju parkiran.


"Pa, lihat aja ya pasti sebentar lagi calon mantu kita bakalan ngejar kita sampai kesini." ucap Bu Anya dengan yakin dan dengan senyum yang terus mengembang.


Pak Bagas yang mendengar perkataan istrinya tersebut merasa heran. Beliau mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Maksud Mama apa?" tanya Pak Bagas.


Bu Anya tidak menjawab, beliau hanya memberikan senyuman saja.


Sedangkan didalam cafe ketika Rani menghampiri meja bekas tempat duduk Pak Bagas dan Bu Anya karena akan membersihkannya, dia melihat dompet dan ponsel yang tergeletak diatas meja.

__ADS_1


"Lhoh itu bukannya dompet dan ponsel punya Ibu tadi ya?" gumam Rani.


Rani pun melihat Pak Bagas dan Bu Anya yang sedang berjalan menuju parkiran. Dan berniat akan mengejarnya untuk mengembalikan barangnya yang tertinggal.


Tanpa berpikir panjang Rani segera mengambil dompet dan ponsel tersebut kemudian segera berlari menuju parkiran karena Rani takut kedua orang tersebut sudah pergi.


"Pak, Bu tunggu sebentar!" seru Rani sambil berlari karena mereka yang sudah membuka pintu mobil.


Keduanya pun kompak menoleh kearah Rani yang berlari menghampirinya. Bu Anya hanya tersenyum melihatnya sedangkan Pak Bagas melirik istrinya yang tengah tersenyum tersebut. Pak Bagas berpikir apa mungkin ini yang barusan dimaksud oleh istrinya.


"Maaf, apa ini dompet dan ponsel Bapak dan Ibu?" tanya Rani dengan sedikit terengah-engah begitu sudah sampai didepan kedua orang tersebut.


Bu Anya pun berpura-pura mengecek tas nya padahal sudah jelas kedua barang itu adalah miliknya.


"Ow iya sama-sama Ibu, ini tadi tertinggal dimeja." ucap Rani sopan.


"Untung kamu yang menemukan, Ibu gak bisa bayangkan kalau misalnya ditempat lain dan orang lain yang menemukan pasti tidak akan dikembalikan." jawab Bu Anya dengan sedikit sedih, dan tentu saja itu hanya akting.


Bu Anya pun membuka dompetnya kemudian mengambil kartu nama dan memberikan kepada Rani. Rani pun merasa heran kenapa dia diberi kartu nama. Kemudian Rani pun menerimanya.


"Itu nama dan alamat rumah saya. Besok malam datang kerumah saya karena saya mengundang kamu makan malam bersama." ucap Bu Anya ketika melihat Rani membacanya.


Rani pun akan membuka mulutnya untuk menjawab ajakan Bu Anya, tetapi Bu Anya segera mendahuluinya.

__ADS_1


"Tidak ada penolakan! Jadi kamu harus datang. Oke!" tegas Bu Anya.


"Nanti akan saya kenalkan dengan anak saya." lanjut Bu Anya dengan tersenyum.


Rani pun tidak bisa berkata apa-apa dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Pak Bagas dan Bu Anya pun berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Begitu mobil sudah berlalu, Rani segera kembali masuk ke dalam cafe dan melanjutkan pekerjaannya tetapi terlebih dahulu dia menyimpan kartu nama kedalam kantong kemejanya.


Sedangkan didalam mobil Pak Bagas terkekeh melihat tingkah istrinya.


"Istri ku ini memang sangat pintar." puji Pak Bagas kepada Bu Anya.


"Jelas donk Pa." jawab Bu Anya dengan bangga.


Keduanya pun saling pandang dan terkekeh bersama. Karena apapun akan mereka lakukan untuk membuat anaknya bahagia.


Sedangkan Rani pun berpikir bahwa mau tidak mau besok dia harus menghadiri undangan tersebut. Dan kebetulan besok adalah jatah libur bekerjanya.


...****************...


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏

__ADS_1


__ADS_2