
"Ya ampun, Ma. Kok bisa sampai drop sih? Kan aku udah bilang, kalau mama harus istirahat yang cukup. Jangan sampai banyak pikiran, gak baik buat mama."
Anggun bersikap layaknya dia sedang bicara dengan mama kandungnya sendiri. Dia memang tipe perempuan yang sedikit terlalu berlebihan jika memberi perhatian pada orang yang di sayang.
Sikap itulah yang membuat kedua orang tua angkat Dion ini mudah akrab dengan Anggun. Juga sangat menyayangi Anggun sebagai menantu mereka. Padahal, belum genap satu tahun usia pernikahan Anggun dan Dion saat ini. Tapi dia sudah berhasil dekat dengan orang tua itu.
Anggun terus menemani mama mertua angkatnya ngobrol. Sampai panggilan masuk dari Dirly dan Amelia datang. Wajah panik keduanya terlihat sangat jelas di dalam layar gawai yang papa mertua angkat Anggun berikan pada istrinya. Panggilan vidio call itupun berlangsung dengan sedikit ketegangan.
"Mama baik-baik saja kok, Dirly, Amel. Kalian gak perlu cemas. Ada Anggun kok di sini," ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum.
"Hanya ada Anggun saja, Ma? Di mana kak Dion? Apa dia tidak bisa datang juga sekarang?" tanya Dirly dengan nada kesal.
"Dion pasti datang kok, Dirl. Dia mungkin sedang dalam perjalanan. Harap maklum, dia itu tinggal di kota yang berbeda dengan kami sekarang. Tuntutan pekerjaan membuat kita terpisah. Sama seperti kamu dan Amelia."
"Ma, kita tidak pergi karena pekerjaan. Tapi, karena ingin hidup dengan mandiri di sini."
"Benarkah kita ingin hidup mandiri di sini, Pa? Aku rasa, kamu tidak bersikap begitu kok. Kamu bahkan sangat ingin mama dan papa ikut tinggal bersama kita di sini. Iya, kan?"
Amelia membantah apa yang suaminya katakan dengan candaan. Dirly langsung mencium pipi istrinya dengan lembut. Kemesraan yang membuat mama mereka jadi tersenyum lebar penuh dengan rasa bahagia. Juga membuat Anggun merasa sangat iri akan kemesraan yang sangat romantis yang sahabatnya perlihatkan.
Anggun terdiam dengan bibir yang tersenyum tipis.
'Syukurlah, Mel. Kamu bahagia sekali bersama suamimu sekarang. Kebahagiaanmu sungguh membuat aku merasa senang, juga merasa sangat iri. Karena rumah tangga yang aku jalani saat ini, berbanding terbalik dari yang kalian jalani.'
'Mel, aku ingat betul bagaimana Dirly melamar kamu waktu itu. Lamaran sederhana di dalam ruang kerja kamu. Hanya ada kalian berdua saja di sana. Hal itu berbeda dengan aku saat di lamar kak Dion. Aku dilamar di depan ribuan pasang mata tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan kamu yang megah. Saat itu, aku merasa kalau akulah yang paling istimewa di sana. Akulah ratu di antara ribuan pasang mata itu. Tapi sekarang, aku dicampakkan begitu saja oleh suamiku. Bagai debu yang tidak ada artinya bahkan tidak terlihat dan tidak ingin dilihat kehadirannya sama sekali.'
__ADS_1
'Sementara kamu ... kamu sekarang diperlakukan bak ratu yang paling agung oleh suamimu, Mel. Suamimu mencurahkan kasih sayang yang penuh dan cinta yang tanpa batas untuk kamu. Perhatian yang suamimu miliki, kamu tidak kekurangan itu sedikitpun.'
Mengatakan semua itu dalam hati, tanpa sadar, Anggun menjatuhkan buliran bening di pipinya. Namun, dengan cepat Anggun menghapus buliran bening itu. Tapi Amelia yang tahu akan apa yang terjadi, langsung mengubah pusat perhatiannya dari mama mertuanya beralih pada sahabatnya.
"Gun, kamu barusan menangis? Kenapa?"
"Ah! Si--siapa yang menangis? Aku nggak kok."
Anggun sangat gugup sekarang. Berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan, walah sebenarnya dia tahu, kalau apa yang dia lakukan tidak akan berhasil. Sahabatnya cukup peka akan hal itu meski tidak terlihat perhatian sejak mereka masih bersama.
"Jangan bohong padaku, Gun. Aku punya mata masih bagus lho ya. Lagian, kamu itu terlihat seperti bukan kamu akhir-akhir ini. Lebih banyak diam dari pada bar-barnya. Aku merasa ada yang salah dengan kamu deh, Gun."
"Dia mungkin rindu suaminya, Sayang. Jangan ganggu dia dengan tuduhan yang mungkin dia tidak suka, istriku yang cantik." Dirly bicara dengan nada yang sangat lembut.
"Ya Tuhan ... aku aduin mama kamu ya, sayang. Kamu bilang aku gak tahu soal perasaan perempuan."
Keduanya malah saling bercanda. Hal itu membuat Anggun dan mama mertuanya tersenyum lebar.
"Kalian nunjukin kemesraan kalian di depan aku. Ya jelas aku merasa iri dong dengan kemesraan itu," ucap Anggun berusaha masuk ke dalam suasana bahagia yang pasangan romantis itu ciptakan.
"Nah lho, salah siapa coba? Salah kalian berdua juga ini. Kalian yang menciptakan suasana romantis di tempat yang salah," ucap mama mertuanya pula menyambut.
Masalah Anggun yang Amelia lihat baru saja menangis tiba-tiba langsung terlupakan karena pengalihan barusan. Namun, itu tidak lama karena Amelia kembali mengungkit soal itu setelah beberapa saat kemudian.
"Gun, kamu barusan nangis, kan? Itu karena apa? Aku gak percaya kalau kamu bilang tidak lho ya. Karena aku tahu kamu. Kamu itu bukan tipe perempuan yang mudah menangis jika bukan karena masalah yang kamu rasa cukup berat."
__ADS_1
"Aku rindu kamu, Mel. Kita sudah lama tidak bertatap muka secara langsung. Saat lihat wajah kamu, aku merasa sangat merindukan kamu saat ini."
"Kamu rindu istriku, atau rindu sama suami kamu, Anggun Wijaya?"
"Dirly ah. Jangan gangguin Anggun kayak gitu. Kamu ini ya ... masih saja ada sifat usilnya. Masa kakak ipar sendiri digangguin."
"Tau nih Dirly, Ma. Gak bisa diajak ngomong baik-baik dia," ucap Amelia sambil memasang wajah cemberut.
"Kamu panggil aku Dirly? Sayang, kamu keterlaluan sama aku ya. Aku denda kamu."
"Eh ... udah dong main-mainnya. Amel mau ngomong serius itu sama Anggun. Kamu ini, Dirl-Dirl."
"Iya, mama. Gak usil lagi kok."
"Silahkan, Mel. Ngomong berdua ama Anggun."
Mama mertua Anggun langsung menyerahkan gawai yang sebelumnya dia pegang ke tangan Anggun. Anggun langsung menerimanya walau dengan hati yang berat karena ada rasa was-was saat ini.
"Gun, maaf ya. Karena aku kamu tidak bisa ikut Kak Dion ke kota sebelah."
"Gak kok, Mel. Bukan karena kamu. Lagian, kenapa kamu bisa bilang itu karena kamu, ha? Itu gak ada sangkut pautnya dengan kamu. Kamu lupa? Aku punya orang tua, mertua, juga semua masa depan aku di sini. Masa iya aku harus ikut-ikutan kak Dion mengungsi sih."
"Kamu itu ya ... lama-lama makin berasa kalau kamu itu semakin keras kepala, Gun. Tapi ... inilah kamu yang sebenarnya. Bar-bar, periang, juga keras kepala. Suka ngatur-ngatur orang juga."
"Beneran sayang? Anggun suka ngatur-ngatur orang?"
__ADS_1