
Anggun bicara dengan wajah serius dan nada yang penuh dengan keyakinan. Hal itu membuat Dirly langsung mengangkat satu alisnya karena kebingungan dengan tanggapan yang Anggun berikan.
"Bukan itu, Anggun. Aku tidak ingin bilang hal itu padamu. Karena orang tua kandung kak Dion sekarang, ya emang orang tua kandungnya yang sebenarnya."
"Hah? La--lalu? Apa yang ingin kamu katakan padaku, Dirl?"
"Tapi ... jika orang tua kandung kak Dion itu memang yang asli, tidak seperti yang aku bayangkan. Lalu kenapa mereka begitu jahat pada suamiku? Kenapa mereka tidak mirip seperti orang tua kandung pada umumnya. Yang sayang pada anak mereka dengan sepenuh hati."
"Kalau itu ... aku tidak tahu. Tidak mengerti kenapa keluarga mereka begitu pada kak Dion. Mungkin, karena mereka tidak merawat kak Dion dari kecil kali. Atau ... mungkin ada alasan yang lain yang tidak kita ketahui."
"Ah, ya sudah. Lupakan dulu soal itu. Mari bahas soal apa yang ingin aku katakan padamu sebelumnya. Ini soal kamu dan keluargamu. Orang tua kandung kak Dion ternyata punya dendam besar dengan keluarga Wijaya, Anggun."
"Apa! Ba--bagaimana bisa? Ke--kenapa mereka punya dendam dengan keluargaku? Apa salah kami, Dirly?"
Anggun sangat syok dengan kabar itu. Dia sampai bergetar karena kaget saat Dirly mengatakan soal dendam antara keluarga kandung suaminya, dengan keluarga dia.
"Ini sebenarnya bukan salah dari kedua orang tua kamu. Tapi, salah pamanmu yang membuat adik dari papa kak Dion mati dalam kebakaran yang pamanmu rencanakan. Karena cintanya ditolak oleh adik papa kak Dion, pamanmu dengan kejam merencanakan pembunuhan dengan cara kebakaran."
"Ti--tidak. Aku sungguh tidak percaya ini," ucap Anggun sambil terduduk lemas di atas kursinya kembali.
"Anggun, hati manusia tidak ada yang tahu bukan. Cinta itu hal tersulit untuk dipahami kebenarannya. Dengan cinta, orang bisa gila, bisa jahat, bisa kejam, juga bisa baik. Satu kata itu, bisa memicu semuanya."
__ADS_1
"Aku ... tahu itu."
"Tapi, kenapa orang tua kak Dion malah menaruh dendam pada keluarga Wijaya? Yang salah itu pamanku, bukan keluarga Wijaya, kan?"
"Nah, itulah manusia. Aku juga tidak mengerti akan hal itu. Pamanmu yang bikin ulah, semua keluarga Wijaya yang kena akibatnya. Termasuk, pernikahan kakakmu yang batal pun karena rencana dari papa kandung kak Dion."
Seketika, mata Anggun melepas. Dia bangun dari duduknya. Dengan tatapan tak percaya, dia tatap Dirly sekarang.
"Jangan bilang, kecelakaan mamaku juga karena mereka, Dirly. Jika iya, aku tidak akan memaafkan mereka sedikitpun. Karena itu, sungguh sangat keterlaluan. Balas dendam yang salah. Sangat-sangat menarik emosi."
"Tapi ... itulah kenyataannya, Gun. Kecelakaan mama kamu, juga semua kekacauan keluarga kalian, itu semua ulah dia. Dan, saat dia tahu kalau istri dari anaknya adalah orang dari keluarga Wijaya, dia bersikeras untuk memisahkan kalian. Menghancurkan hubungan kalian dengan segala cara. Termasuk, kecelakaan yang kalian alami itu juga karena ulah papanya kak Dion, Anggun."
"Ja--jadi ... ini semua ulahnya papa kandung dari suamiku sendiri? Membuat aku dan anaknya kecelakaan, sampai aku hampir kehilangan suami, dan aku kehilangan calon anakku yang baru saja aku tahu keberadaannya. Sungguh, aku tidak percaya akan kenyataan ini."
"Anggun. Aku harap kamu tetap tenang. Sabarlah dalam menghadapi semua ini."
"Aku sudah berusaha sabar, Dirly. Lebih dari satu tahun aku sabar. Tapi sekarang, aku tidak bisa sabar lagi. Saat aku tahu ini semua adalah ulahnya, maka aku sungguh tidak bisa sabar lagi. Aku tidak akan tinggal diam. Akan aku balas semuanya dengan semua kemampuan yang aku punya. Aku akan beri dia pelajaran, tidak perlu dia orang tua kandung dari suamiku sendiri. Karena sikapnya, sungguh sangat keterlaluan."
Anggun bicara dengan tangan yang mengepal, juga dengan tatapan yang tajam lurus ke depan. Semua keyakinan, terdengar jelas dari nada ucapan yang dia ucapkan barusan.
Dirly yang melihat semangat dari Anggun itu, memilih langsung bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Kamu yakin ingin memberikan pelajaran pada papa kandung kak Dion, Gun? Jika iya, maka aku akan membantunya."
"Aku yakin, Dirl. Sangat-sangat yakin dengan keputusan yang sudah aku ambil. Aku akan memberikan orang tua itu pelajaran agar dia sadar, yang dia lakukan selama ini adalah kesalahan besar. Kesalahan yang tidak pantas dia lakukan sama sekali."
"Baiklah, jika kamu benar-benar sudah yakin dan tekad mu sudah sangat bulat. Aku akan bantu kamu sekuat yang aku bisa. Jangan pernah menyerah dengan apapun halangan yang datang kelak. Dan, jangan pernah merasa bersalah pada kak Dion. Karena aku sangat yakin, kalau kak pasti akan mendukung kamu dengan sepenuh hatinya, Anggun."
"Terima kasih banyak, Dirl."
'Sejujurnya, perasaan bersalah itu pasti akan ada jika aku sebagai anak memberikan pelajaran pada orang tua. Aku akan dicap sebagai anak durhaka oleh orang tua. Tapi, aku tidak bisa diam saja. Dia orang tua yang sungguh sangat keterlaluan. Dendam pada pamanku, tapi malah melibatkan semua anggota keluarga Wijaya. Bukankah dia sudah membuat pamanku dapat hukumannya? Dia sudah membunuh pamanku dengan cara yang sadis pula. Tapi kenapa itu masih belum cukup buat dia?'
Anggun sibuk bicara dalam hati setelah kepergian Dirly. Dia memikirkan semuanya. Semua kejadian satu persatu yang selam ini dia lewatkan dengan susah payah. Mamanya meninggal karena kecelakaan yang di sengaja ternyata. Papanya kena serangan jantung. Dan sekarang, dia kehilangan anak. Sungguh manusia yang pantas dapat pelajaran.
Sementara itu, di sisi lain. Papa Dion sedang bicara dengan anak buahnya di ruang kerja. Dia marah besar karena setelah melakukan pencarian lebih dari satu minggu pun, anak buahnya masih tidak menemukan keberadaan Dion.
Istrinya yang penyakitan itu sekarang sedang berada di rumah sakit akibat drop karena anaknya yang pergi tak kunjung kembali. Papa Dion benar-benar pusing saat ini. Dia harus menemukan Dion karena jika tidak, istrinya pasti tidak akan tenang. Hal itu akan memperburuk keadaan istrinya.
"Cepat temukan anak durhaka itu! Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat wajahnya yang tidak tahu diri itu untuk aku beri pelajaran."
"Tapi, Tuan. Kami sudah berusaha keras untuk menemukan mereka. Sayangnya, sedikitpun tidak ada tanda-tanda dari keberadaan mereka. Mereka seperti hilang begitu saja, Tuan."
"Aku tidak percaya mereka menghilang begitu saja. Cepat selidiki dengan benar. Jangan ada sedikitpun yang terlewatkan. Mereka tidak mungkin menghilang jika tidak ada penyebabnya."
__ADS_1