
Malam harinya, Amelia bicara dengan Anggun semua yang dia lihat, dan semua yang dia bicarakan dengan dokter tadi sore. Anggun mendengarkan dengan serius. Tekad dalam hati dan semangat yang tiba-tiba muncul itu membuat Anggun tak sabar lagi untuk mencoba. Jadi, malam itu dia habiskan semua waktunya untuk bicara dengan Dion.
Sayangnya, apa yang Anggun harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Dion masih belum sadar dari komanya. Hal yang membuat Anggun sungguh sangat kecewa karena sudah menaruh harapan besar dari apa yang dia usahakan.
Hingga pada akhirnya, Anggun tidak kuat lagi menahan diri. Dia melepaskan rasa sedih karena kekecewaan itu dengan tangisan yang cukup kuat.
"Hiks. Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membangunkan mu, Kak? Aku sudah sangat merindukan dirimu. Senyuman mu, canda tawamu, dan, ketusnya kamu padaku. Aku rindu semuanya."
"Kamu sudah meninggalkan aku cukup lama. Sekarang, kau harus meninggalkan aku lagi? Apakah hubungan pernikahan ini hanya manis diawalnya saja, kak?"
Anggun berhenti untuk mengambil napas. Dia juga berusaha menahan air mata dengan menahan isak tangisnya.
"Kak Dion, aku pikir aku telah berhasil mengubah takdirku yang telah tertulis. Tapi sepertinya aku salah. Aku tetap ditakdirkan bahagia hanya diawal pernikahan kita saja. Aku tetap jadi wanita yang dilamar seperti ratu, dan dijatuhkan seperti debu pada akhirnya. Walau sekuat apapun aku berusaha mengubah takdir itu. Semuanya tetap tidak akan berubah."
Anggun benar-benar tidak kuat. Dia langsung menyembunyikan wajah di balik legan untuk menangis sejadi-jadinya.
Saat tangisan itu pecah dengan kuat, tangan Dion perlahan bergerak. Tapi sepertinya, Anggun tidak akan tahu hal itu. Karena dia sedang sibuk dengan kesedihannya. Sibuk meratapi dirinya yang terlalu malang saat ini. Berharap bahagia, tapi yang datang malah terus-terusan kesengsaraan.
Seperti yang dokter katakan, Dion akan bangun jika Dion benar-benar berusaha kuat untuk bangun. Karena tingkat kesadaran yang dia miliki, sebenarnya sudah ada pada tahap di mana dia bisa sadar dari komanya. Tapi, karena ada beberapa halangan, Dion malah tidak ingin sadar. Hal itu yang membuat Dion masih tetap koma sampai Anggun datang kembali dari tanah air.
"A--nggun." Suara yang cukup pelan dan berat itu membuat Anggun tersentak kaget. Dia langsung mengangkat wajahnya untuk memastikan, kalau yang dia dengar itu bukan hanya halusinasinya saja.
"Anggun."
"Kak ... kak Dion. Kamu sadar kak?"
__ADS_1
Bahagia luar biasa. Itulah yang Anggun rasakan saat ini. Dia langsung berteriak keras untuk memanggil kedua mertuanya agar datang ke kamar Dion.
"Anggun, aku minta maaf."
Seketika, Anggun yang bahagia langsung memasang wajah bingung. Dia langsung mendekat ke arah Dion.
"Minta maaf untuk apa, kak?"
"Untuk aku yang lagi-lagi membuat kamu merasa sedih. Aku tahu kamu pasti sangat sedih dengan keadaanku ini, bukan? Aku .... "
"Kak, tolong jangan pikirkan semua itu dulu. Yang terpenting adalah, kamu sudah sadar sekarang. Dan, kamu harus baik-baik saja demi aku."
Lalu, obrolan itu langsung terhenti karena kedatangan semua keluarga ke kamar tersebut. Mereka semua bersuka cita dengan sadarnya Dion dari koma.
***
Namun, berkat semangat yang Anggun berikan, Dion juga punya semangat untuk sembuh. Dia berusaha keras melewati berbagai macam terapi untuk pemulihan agar dia bisa berdiri tegak, dan jadi orang normal lagi.
Hingga satu tahun berlalu, Dion akhirnya bisa berjalan layaknya orang normal pada umumnya. Kebahagiaan tergambar sangat jelas di raut wajah mereka semua.
Namun, kebahagiaan Dion masih belum terasa utuh. Karena dia selalu melihat istrinya menitikkan air mata kala bermain dengan anak dari Amelia dan Dirly. Sepertinya, Anggun sangat merindukan calon anak mereka yang dulu pernah singgah ke rahim Anggun walau hanya sesaat.
Kesedihan Anggun semakin terlihat nyata saat tahu bahwa kakaknya yang menikah enam bulan yang lalu, sekarang sudah hamil dua bulan. Ya, Tina dan Dedy sudah menikah enam bulan yang lalu. Setelah melewati pahit manis pengejaran cinta yang Dedy lakukan tentunya. Akhirnya, Tina berhasil Dedy nikahi dengan pesta pernikahan yang cukup meriah.
Dion semakin merasa kasihan dengan istrinya. Meski istrinya bilang baik-baik saja, tapi dia tahu, kalau istrinya sangat sedih. Karena itu, dia curahkan semua perhatian dan kasih sayang pada Anggun. Dia turuti apa yang Anggun inginkan. Termasuk, tinggal di luar negeri dan menetap di sana.
__ADS_1
Usaha itu sedikit berhasil. Walau, itu hanya sedikit saja. Karena Anggun pasti akan tetap bersedih hati saat melihat anak Amelia yang tampan itu sedang bermain dengan mamanya. Atau, saat Dedy dan Tina sedang bermesraan sambil menyingung keadaan janin mereka.
Dan, kesedihan Anggun semakin bertambah ketika kabar kehamilan Siska terdengar olehnya. Siska yang baru saja menikah dengan Damar tiga bulan yang lalu, juga sudah hamil beberapa minggu sekarang.
Saat itulah, untuk pertama kalinya selama Anggun menyimpan rasa, dia langsung mencurahkan apa yang dia rasakan pada Dion.
"Kak ... mereka semua sudah punya anak. Aku ...." Anggun berucap sambil menangis.
"Sayang, bukankah kamu juga punya waktu itu? Jadi, kenapa kamu harus menangis sekarang?"
"Karena aku juga ingin punya. Tapi, aku ... aku bercanda kok."
Anggun sadar apa yang dia katakan itu tidak seharusnya dia katakan. Untuk itu, dia berusaha bersikap baik-baik saja dengan cepat.
"Anggun." Dion menatap Anggun dengan tatapan sedih.
"Iya."
"Ayo kita cek lagi ke dokter. Mana tahu kamu juga hamil sekarang, kan?"
"Nggak, kak. Tidak perlu. Aku yakin kalau aku masih belum hami sekarang. Sudahlah, jangan anggap serius apa yang aku katakan. Aku hanya bercanda. Aku hanya mengerjai kamu saja, kak."
Anggun berusaha tersenyum. Dia tidak ingin datang ke dokter lagi, karena setiap kali dia datang ke sana. Maka dia akan pulang dengan hati yang hampa. Karena pemeriksaan itu pasti akan sama. Dia masih belum hamil meski sudah hampir tiap bulan dia memeriksakan diri setelah suaminya sembuh dari lumpuh.
"Maafkan aku. Semuanya karena aku, Gun."
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf, kak. Orang aku hanya bercanda saja kok. Lagian, aku juga bahagia masih berduaan sama kamu. Karena aku masih bisa manja-manjaan sama kamu berdua saja."
Kata-kata itu hanya Dion sambut dengan tatapan sayu saja. Karena dia tahu apa yang Anggun rasakan sebenarnya. Anggun hanya berusaha kuat di depan. Sedangkan di belakangnya, istrinya terlalu rapuh dengan harapannya sendiri.