Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *24


__ADS_3

Sekuat tenaga Anggun berusaha agar terlihat biasa-biasa saja sekarang. Dia juga tidak ingin terlihat sedih di depan kedua orang tua yang juga merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan.


"Gak papa, Ma. Aku gak sedih kok. Aku hanya memikirkan saja. Ah, sudahlah. Mungkin jalan takdir kedepannya akan berubah. Siapa yang tahu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan?"


"Kamu benar, Nak. Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk itu, jalani saja dengan baik ya, Sayang. Apapun keputusan kamu kelak. Mama yakin kalau itulah yang terbaik buat kamu dan keluargamu. Mama percaya kamu, Gun."


Anggun langsung memeluk perempuan itu dengan lembut. Dia membenamkan kepalanya ke pelukan hangat kedua setelah mama yang telah melahirkan dia.


Perempuan yang terlihat masih sangat muda. Tapi sakit-sakitan setelah anak angkatnya pergi dan jarang kembali.


Anggun merasa, nasib mereka sama. Di buat kehilangan dan memendam rasa oleh satu orang yang sama. Hanya saja bedanya, mama ini masih punya satu anak lagi. Hal itu bisa membuat dia melarikan diri karena kerinduannya pada anak yang lain. Sedangkan dirinya, tidak punya yang lain jika kehilangan satu suami.


"Aku pasti akan merindukan mama nanti, Ma. Pasti."


"Mama juga, Gun. Mama juga pasti akan sangat merindukan kamu. Karena kamu sudah mama anggap seperti anak mama sendiri. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti ya, Nak."


***


Dua hari kemudian, kedua mertua angkat itupun akhirnya pergi meninggalkan tanah air. Anggun mengantarkan keberangkatan mereka sampai ke bandara.


Sementara Dion, dia tidak bisa datang. Alasannya tetap sama, karena dia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Makanya, dia tidak bisa datang ke bandara untuk mengantarkan kepergian orang tua angkatnya itu.

__ADS_1


Guratan sedih terlihat sangat jelas di wajah kedua orang tua tersebut. Terutama, mamanya yang sangat mengharapkan bisa melihat anak yang dia rawat dengan sepenuh hati sebelum dia meninggalkan tanah air.


Rasa marah kembali muncul dalam hati Anggun atas sikap Dion yang dia anggap sungguh sangat tidak punya hati. Dia juga menganggap Dion tidak tahu terima kasih sebagai manusia.


Rasa menyesal pun muncul dalam hati Anggun saat ini. Dia menyesal telah mengenal dan memilih menikah dengan Dion yang dia anggap tidak punya hati.


Tapi, ada hal lain yang tidak Anggun dan kedua orang tua angkatnya ketahui. Dion bukan tidak ingin datang untuk bertemu dengan kedua orang tua angkatnya. Melainkan, dia tidak bisa datang.


Dion sedang menjalani hukuman akibat telah melakukan kesalahan saat berada di kota tempat dia besar. Mama dan papanya tahu, kalau malam itu, dia tidak menjaga Sisil yang sedang sakit. Melainkan, mencari dan terus bersama dengan Anggun sepanjang malam.


Mamanya marah besar karena itu. Di tambah, laporan Sisil yang mengatakan kalau Anggun, istri Dion telah mencelakainya di kamar mandi rumah sakit. Sedangkan Dion tidak berbuat apa-apa untuk memperingati Anggun setelah melakukan kesalahan.


Kesepakatan yang mengatakan kalau keluarga kandungnya tidak bisa meminta Dion bercerai dengan apapun alasan. Sedangkan gantinya, Dion tidak bisa mengatakan apapun masalah yang sedang dia hadapi saat ini pada istrinya.


Orang tua kandung Dion juga mengatakan, kalau Anggun bertahan selama dua tahun dengan keadaan Dion saat ini, maka mereka akan menerima Anggun sebagai menantu. Tapi pada kenyataannya, mereka bukan orang yang baik. Melainkan, orang-orang licik yang hanya ingin menguasai dan mengambil keuntungan dari Dion saja.


Bahkan, papa kandung Dion yang terkenal keras dan kejam itu tak segan-segan menjadikan Anggun sebagai ancaman buat Dion. Karena dia tahu, Anggun adalah kelemahan Dion saat ini. Maka dia gunakan Anggun sebisa mungkin.


Dion masih menjalani hukuman, di kurung di kamarnya tanpa bisa ke mana-mana selama satu minggu. Sebelum itu, dia juga menerima cambukan dari papanya yang galak beberapa liang di punggungnya. Dan bekas cambukan itu masih ada dan masih terasa sangat sakit.


Itu dia terima demi menjaga istrinya agar tetap baik-baik saja di sana. Karena dia telah membuat mamanya masuk rumah sakit dengan ulah istrinya. Agar papanya tidak menyakiti Anggun, maka Dion siap menerima segala hukuman.

__ADS_1


Sampai-sampai, dia tidak bisa bertemu orang tua angkatnya karena hukuman itu. Dia pasrah dengan segala keadaan. Yang terpenting adalah keselamatan istrinya. Dia rela di benci asal istrinya baik-baik saja.


Pengorbanan Dion memang Anggun tidak tahu. Karena Dion tidak berterus terang pada istrinya Jelas saja Anggun hanya tahu apa yang dia lihat. Karena dia hanya manusia, bukan peramal yang tahu apa yang terjadi tanpa orang itu mengatakan yang sesungguhnya.


***


Hari-hari berlalu seperti sebelumnya. Kerinduan dan kehilangan juga masih ada dalam hati Anggun setelah kepergian mertua angkatnya itu. Tapi, dia semakin gencar untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Anggun bahkan sering lembur agar dirinya tetap sibuk dengan pekerjaan dan melupakan kehidupan pribadi. Bi Ina yang melihat hal itu, merasa cemas. Dia berusaha menghubungi Dion, tapi tidak bisa. Karena ponsel Dion telah di sadap keluarga kandungnya. Untuk berjaga-jaga, Dion memilih memakai ponsel yang lain dan mematikan ponsel yang biasa dia gunakan sebelumnya.


Demi keamanan, dia memilih untuk tidak ada hubungan terlebih dahulu dengan istri juga kehidupan di kota tempat dia besar. Dengan hati yang penuh harap, agar semuanya tetap baik-baik saja.


Anggun yang disibukkan oleh pekerjaan, otomatis memakan banyak waktu hanya untuk bekerja dan bekerja. Hal itu membuat kedekatan antara dia dengan Damar semakin tercipta.


Mereka jadi sering keluar makan, juga sering membahas hal-hal pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Hal itu membuat rasa yang berbeda dalam hati Damar untuk Anggun. Sedangkan Anggun, masih merasa biasa saja. Tidak ada yang berubah dengan hatinya. Meski sakit, hati itu masih tetap untuk Dion sang suami.


Seperti saat ini, Damar sedang berusaha menyenangkan hati perempuan yang dia sukai dengan berbagai cara yang dia punya. Salah satunya, selalu ada ketika Anggun butuhkan.


"Aku heran dengan pak Damar, Sis. Dia itu klien kita, atau sopirnya mbak Anggun ya? Selalu saja ada saat mbak Anggun butuhkan. Sampai-sampai, seperti jadi sopir buat mbak Anggun. Padahal awalnya, dia datang juga dengan sopirnya ke sini."


Salah satu pegawai berucap pada Siska si sekretaris Anggun. Dengan mata yang tertuju pada Anggun dan Damar yang berada di luar kantor tentunya.

__ADS_1


__ADS_2