
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Dion terus menatap Anggun dengan tatapan yang sangat mengharapkan sikap istrinya yang hangat. Tapi sepertinya, Anggun masih enggan bersikap seperti sebelumnya dengan Dion. Dia masih bersikap dingin. Hal itu membuat rasa canggung yang sangat besar diantara keduanya.
Dion ingin mencairkan suasana. Tapi sebelum dia melakukan hal itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya membuat niat itu langsung tertahan.
Dion merogoh saku celana untuk mengambil ponsel itu. Saat dia melihat ke arah layar, matanya membulat karena kesal dengan nama orang yang telah menghubungi sekarang.
Dion langsung saja mengabaikan panggilan itu. Karena dia tahu, panggilan itu pasti akan membuat dia dalam masalah besar.
Tapi sepertinya, orang yang menghubungi tidak akan membiarkan Dion mengabaikan dia. Orang itu langsung menghubungi kembali, dan mungkin juga akan terus melanjutkan menghubungi Dion sampai Dion menjawab panggilannya.
"Siapa? Kenapa tidak langsung di jawab saja, kak? Mungkin ada hal yang penting untuk dibicarakan."
"Tidak akan ada hal penting selain hal yang akan membuat aku berada dalam kesulitan. Orang tua kandungku sepertinya bukan orang tua kandung pada umumnya. Karena mereka tidak lebih baik dari orang tua angkat ku, Anggun."
Anggun tidak menjawab dengan kata-kata sekarang. Dia hanya memberikan Dion tatapan simpati saja. Karena sebenarnya, dia tahu apa yang Dion rasakan saat ini. Hanya saja, rasa egois masih ada.
"Kamu masih tidak percaya aku? Aku maklum dengan hal itu. Tapi, mari kita buktikan apa yang aku katakan barusan ini adalah kebenaran. Aku tidak bohong."
Dion langsung menjawab panggilan ketiga dari papanya. Dia membesarkan volume suara agar Anggun juga bisa mendengarkan apa yang papanya katakan.
"Halo, Pa."
"Di mana kamu? Kenapa tidak pulang juga setelah semalaman kamu pergi dari rumah, ha?Kamu ingin merusak nama baik keluarga ini? Dengan pergi tanpa bertanggung jawab, Dion?"
"Pulang sekarang, atau kamu akan menyesal?"
__ADS_1
"Apa maksud papa? Bertanggung jawab soal apa?"
"Heh! Jangan pura-pura bego kamu anak tidak tahu di untung. Kamu sudah merusak kehidupan anak gadis orang, lalu kamu mau lepas tangan begitu saja? Tidak akan aku biarkan kamu merusak nama baik keluarga ini, Dion. Tidak akan."
"Merusak anak gadis orang? Siapa yang aku rusak? Aku rasa, tidak ada."
"Enteng dan tenang sekali kamu sekarang. Sisil dan orang tuanya sudah datang ke rumah ini. Mereka ingin kamu bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan. Pulang sekarang, atau aku akan semakin gila lagi nantinya."
"Maaf, Pa. Aku tidak akan pulang. Untuk urusan Sisil, tolong selidiki lagi kebenaran dari apa yang mereka katakan. Aku yakin kalau papa bukan orang yang langsung percaya dengan apa yang orang lain katakan. Aku juga tahu kalau papa tidak mudah percaya dengan apa yang orang lain katakan tanpa bukti yang pasti, bukan?"
"Jangan mengajari aku soal itu, Dion! Aku tahu apa yang aku lakukan. Semua bukti sudah jelas, kau dan Sisil telah bersama. Aku tidak akan membiarkan kamu merusak nama baik keluarga. Pulang sekarang atau kau tahu apa akibatnya."
Panggilan itu langsung diputuskan secara sepihak. Dion langsung menarik napas panjang. Ada beban berat di dadanya, menghimpit, membuat dadanya terasa sesak sampai sulit untuk bernapas.
Perlahan tapi pasti, tangan Anggun yang kurus itu bergerak. Menyentuh lembut satu tangan Dion yang dia letakkan ke atas pangkuan karena satu tangannya yang lain sedang memijat tulang hidung.
Sontak, sentuhan itu membuat Dion tersadar kalau saat ini dia tidak sedang sendirian. Ada istrinya yang sedang duduk di sampingnya. Dengan tatapan sayu, mereka saling bertukar pandang selama beberapa saat.
"Apakah kamu akan kembali, kak? Orang tuamu sungguh menginginkan kamu bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak kamu perbuat. Mereka sungguh ingin bermenantukan perempuan itu sepertinya."
"Aku tidak akan kembali, Anggun. Tidak akan pernah."
"Yang menjalani hidup ini aku, bukan mereka. Jika mereka ingin bermenantukan Sisil yang licik itu, maka mereka harus cari anak lain untuk dinikahkan. Bukan aku."
"Lagian, aku sekarang tidak akan jadi boneka penurut lagi. Yang terpenting adalah, keselamatan kamu dan anak kita, aku akan melawan mereka dengan tegas. Dengan semua kemampuan yang tersisa. Tentunya, tidak dengan membuat kamu terluka, karena aku ingin melindungi kamu."
__ADS_1
"Aku sadar, selama ini aku salah. Demi menyelamatkan kamu, aku berusaha menjadi anak penurut. Tapi aku tidak tahu, aku berusaha keras menyelamatkan kamu, dengan aku berusaha keras menghancurkan hatimu."
"Aku juga tidak akan tertipu lagi sekarang. Mereka semua hidup penuh dengan kelicikan yang nyata. Aku tidak bisa mempercayai mereka sedikitpun lagi."
Setelah bicara panjang lebar tanpa henti, Dion langsung menggenggam erat tangan Anggun.
"Anggun, aku akan mengirim kamu keluar negeri di mana mama dan papa berada. Aku yakin, mereka akan menjaga kamu sebaik mungkin. Kita akan berkumpul lagi setelah semuanya selesai. Setelah semua yang di sini, baik-baik saja."
"Tidak. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini bersama kamu. Biarkan aku membantu kamu menyelesaikan semua masalah ini, kak Dion. Karena semua ini, penyebabnya adalah aku."
"Tidak Anggun. Kamu harus pergi agar aku bisa melindungi kamu, saat aku melawan mereka. Aku tidak akan bisa melawan mereka jika aku masih tidak bisa melindungi kamu."
"Aku tidak selemah yang kamu bayangkan, kak Dion. Aku tidak butuh kamu lindungi. Karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tidak perlu mencemaskan aku, kak."
"Anggun .... Inilah kamu, istriku. Aku tahu kamu akan bicara seperti ini padaku saat aku meminta kamu bersembunyi di luar negeri. Karena ini juga, aku tidak mau mengatakan semua masalah yang aku lalui selama ini. Aku tidak bisa .... "
"Kak. Ayo melawan mereka bersama," ucap Anggun cepat sambil memegang tangan Dion kembali.
Dion menatap kedua mata Anggun dengan penuh kasih sayang.
"Aku bukannya tidak ingin, tapi kamu tidak sedang sendirian, sayang. Ada calon anak kita dalam rahimmu. Dia mungkin tidak bisa kamu ajak berperang, untuk membantu aku."
"Aku yakin kalau dia bisa, kak Dion. Dia kuat, sama kiatnya seperti aku. Buktinya saja, dia masih bisa tumbuh dan berkembang selama aku sibuk dengan duniaku sendirian, tanpa ada kamu di sampingku. Jadi, aku yakin kalau kita mampu untuk menyelesaikan masalah ini secara bersama-sama."
Dion tidak punya kata-kata lagi sekarang. Dia hanya bisa pasrah, menerima dan mengikuti apa yang Anggun katakan. Meskipun sebenarnya sangat berat untuk Dion menerima semua itu.
__ADS_1