Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *48


__ADS_3

"Dasar biadab semuanya! Satupun tidak bisa aku handal kan untuk menyelesaikan masalah. Di suruh mengawasi keluarga Prayoga saja tidak bisa. Mana dia yang hilang entah ke mana tanpa ada berita."


Papa Dion terus menggerutu kesal. Dia kesal dengan anak buah yang dia tugaskan untuk mengawasi keluarga Prayoga di luar negeri. Tapi bukannya info yang dia dapatkan, eh malah anak buah itu sendiri yang ikut lenyap bak di telan alam.


Beberapa jam kemudian, rapat yang papa Dion inginkan berjalan menegangkan. Semua pemilih saham, juga klien yang sudah membatalkan kontrak secara sepihak ada di ruangan tersebut. Mereka semua terlihat sedikit tidak bersahabat. Wajah mereka terlihat cukup tegang.


Seseorang di belakang layar, memang cukup berpengaruh besar ternyata. Semakin kuat penyokong yang ada di belakang, maka semakin kuat pula orang yang berdiri di depan.


Begitulah yang terjadi dengan Anggun saat ini. Dia yang punya penyokong kuat, sepertinya bisa bertingkah leluasa mengacak-acak dunia bisnis dengan sesuka hati.


Buktinya saja, rapat yang papa Dion lakukan ternyata tidak membuahkan hasil sedikitpun. Keputusan mereka semua sudah bulat, bahkan, sedikitpun tidak goyang. Mereka yang memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu, tidak mempan dengan iming-iming janji manis, dan juga tidak ada yang takut dengan ancaman.


Hal itu semakin membuat papa Dion merasa frustasi. Dia yang tidak pernah mengalami hal seperti ini, rasanya ingin sekali membunuh mereka semua dengan tangannya sendiri. Karena mereka semua sudah berani membuat dia kehilangan muka dan kehilangan kendali.


"Sialan! Biadab kalian semua! Aku akan bikin perhitungan dengan kalian nanti satu persatu!"


Papa Dion berteriak keras saat dia sudah berada di ruangannya. Si asisten yang ada di sana, langsung bergetar karena menahan takut.


"Tu--tuan. Sebaiknya, kita pikirkan cara untuk mempertahankan perusahaan tuan terlebih dahulu. Bagaimana kalau kita undang pemicu masalahnya sendiri yang datang ke sini. Setelah itu, baru kita bisa melangkah ke langkah berikutnya."


Papa Dion terdiam untuk memikirkan kata-kata yang asistennya ucapkan barusan. Dia memahami apa yang asistennya katakan.


"Ya. Itu ide yang bagus. Aku penasaran dengan si pembuat onar itu. Seperti apa wajah sebenarnya. Apakah dia sudah sangat tua sampai bosan hidup?"


"Ee ... dari kabar yang saya dengar, dia seorang wanita muda, Tuan. Hanya saja, saya belum pernah melihatnya secara langsung."


"Wanita muda? Tidak mungkin."

__ADS_1


Hal yang sangat tidak masuk akal bagi papa Dion. Jelas saja dia tidak akan percaya dengan apa yang asistennya katakan. Mana mungkin ada wanita muda yang bisa naik tinggi seperti ini. Merusak perusahaannya yang terbilang paling besar begitu saja.


"Aku yakin kalau dia hanya wayangnya saja. Pasti ada dalang di balik layar yang menggerakkan perempuan itu. Aku yakin itu," ucap papa Dion dengan tatapan lurus ke depan.


"Baiklah. Tidak perlu siapa dalang di belakang layar itu untuk saat ini. Yang penting, aku ingin bertemu dengan orang itu untuk melihat, apakah dia pantas untuk kita lawan, atau kita abaikan begitu saja."


Janji pertemuan sudah dibuat. Asisten Anggun yang Dirly pilih sendiri ternyata juga bukan orang sembarangan. Dia adalah asisten terbaik kelas atas yang biasa mengurus hal-hal berat sebelumnya.


"Nona, semua sudah siap. Janji pertemuan sudah saya atur dengan sangat baik."


"Terima kasih. Kamu bisa pergi sekarang. Aku ada hal yang ingin dibahas dengan Dirly."


"Baik, nona. Saya permisi."


Setelah asisten itu pergi, Anggun langsung menghubungi Dirly untuk bicara. Respon dari panggilan vidio call yang dia lakukan ternyata cukup cepat. Dirly langsung menjawab tanpa menunggu lama lagi.


"Ada apa, Gun? Apa kamu menemukan kesulitan dalam menjalankan misi mu sekarang?"


"Kenapa harus cemas? Bukankah itu bagus?"


"Aku takut kalau orang tua itu sedang menyusun hal besar yang tidak bisa aku tebak. Karena menurut firasat ini, dia orang yang sangat keras. Dengan anaknya saja dia bisa berbuat tega. Apalagi dengan aku yang jelas-jelas adalah musuh besarnya."


"Anggun. Kamu jangan cemas. Untuk keselamatan kamu, aku sangat hati-hati. Ada banyak penjaga yang aku tempatkan di sisimu.


Hanya saja, mereka tidak terlihat oleh kamu. Atau paling tepatnya, kamu tidak menyadari keberadaan mereka."


"Dan juga ... ada Dedy di sana. Dedy siap membantu kamu. Bahkan, dia juga siap melindungi kamu secara diam-diam. Yang jelas, keselamatan kamu akan aku jaga sebaik mungkin."

__ADS_1


"Dedy? Dia juga ada di tanah air sekarang? Kapan dia kembali?"


"Dua hari yang lalu. Dia kembali karena permintaanku. Karena aku lebih percaya dengan dia dibandingkan hanya kamu sendiri di sana."


"Aku tidak butuh dia, Dirly. Kenapa kamu tidak mempercayai aku sepenuhnya saja, ha?"


"Kamu tidak butuh dia? Atau kamu inginkan dia tetap berada di samping kakakmu, Anggun?"


Anggun terdiam dengan pertanyaan itu. Wajahnya juga berubah drastis sekarang. Wajah bingung, bercampur takut.


Dirly menyadari hal tersebut.


"Kamu tidak perlu memikirkan mereka, Gun. Aku yakin, mereka pasti akan bersama. Karena sepertinya, Dedy juga sudah menyimpan rasa buat kakakmu."


"Bukan itu yang sedang aku pikirkan, Dirl. Tepatnya, bukan soal Dedy, tapi soal kak Tina. Tidak mudah untuk dia memberikan hatinya untuk orang lain setelah hati yang dia berikan sebelumnya dijatuhkan begitu saja."


"Sejujurnya, aku juga berharap mereka bersama. Aku ingin Dedy tetap berada di sana agar kakakku bisa terbiasa dengan kehadiran laki-laki lagi. Karena dengan terbiasa, mungkin dia akan membuka hatinya untuk yang kedua kali."


"Aku tahu. Untuk itu, jalankan misi mu dengan cepat. Maka kamu akan bisa melihat kakakmu bersama dengan orang yang tepat secepatnya."


Anggun hanya bisa melepas napas kesal secara perlahan saja. Harapannya, Dirly menarik Dedy untuk kembali agar kakaknya bisa dijaga oleh Dedy dengan baik selama dia tidak ada di sana. Tapi, Dirly malah meminta dia melakukan misi dengan cepat. Hal yang memang seharusnya dia lakukan tanpa Dirly minta terlebih dahulu.


***


Waktu pertemuan yang sudah dijanjikan, kini telah tiba. Anggun datang dengan didampingi asisten pribadinya yang handal.


Saat dia berjalan memasuki kantor papa Dion, semua mata tertuju padanya. Bukan kagum dengan kecantikan yang dia miliki. Tapi, sangat tak percaya dengan apa yang mata mereka lihat.

__ADS_1


Orang besar yang mereka bayangkan itu sangat anggun dan elegan. Dipolesi bedak tebal yang menor dan terlihat cantik aduhai. Namun, yang datang malah perempuan dengan kata mata besar dan rambut diikat satu.


Sempat salah tebak mereka semuanya. Jika saja asisten itu tidak memanggil namanya dengan sebutan pemimpin, mungkin dia sama sekali tak diketahui oleh yang lain. Kalau orang besar yang dinanti-nantikan itu adalah dia.


__ADS_2