
Anggun tersenyum. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan laki-laki yang begitu lembut. Tidak menyalahkan orang lain, tapi malah menyalahkan dirinya sendiri. Padahal jelas-jelas kalau dia tidak salah.
Anggun langsung memaksakan langkah kakinya untuk meninggalkan rumah sakit dengan cepat. Rasanya, sangat sulit untuk dia mengendarai mobil dengan kondisi seperti sekarang. Tapi, dia paksakan juga karena dia tidak punya sopir pribadi.
Sementara laki-laki itu terus melihat Anggun yang beranjak menjauh dengan tatapan prihatin juga cemas. Dia tahu kalau Anggun sedang tidak baik-baik saja. Tapi tetap memaksakan diri untuk pergi.
Sekilas, terbesit rasa kagum dalam hati laki-laki itu pada Anggun. Dia kagum dengan sifat Anggun yang begitu memegang penting tanggung jawab yang sedang dia emban.
Satu kata tiba-tiba saja meluncur dari bibir laki-laki tersebut.
"Spesial." Dia berucap sambil mengukir senyum manis di bibirnya.
Setelah mengendarai mobil hampir dua puluh lima menit, akhirnya Anggun sampai ke kantor. Dengan langkah yang masih terlihat dipaksakan, dia berjalan memasuki kantornya.
Sekretaris Anggun yang bernama Siska itu segera menghampiri Anggun dengan cepat.
Dia yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Anggun, tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Mbak Anggun kenapa, mbak? Kok seperti sedang menahan sakit?"
"Aku gak papa, Sis. Hanya sedikit pegal di bagian pinggangku saja."
"Lho kenapa, mbak? Mbak Anggun jatuh?"
"Mm ... iya. Aku jatuh tadi. Karena terburu-buru untuk datang ke sini. Oh iya, rapatnya gimana, Sis? Aku datang terlambat? Kliennya mana? Apa mereka sudah pergi karena tidak mau menunggu sampai aku datang?"
Anggun langsung memasang wajah cemas. Rasa kecewa juga terlihat di raut wajah Anggun yang sedang lelah.
"Nggak, Mbak. Mereka belum datang kok. Aku sudah kabari mbak Anggun soal klien kita yang minta izin mengundur rapat lebih kurang dua puluh menit. Tapi sayangnya, nomor mbak kembali gak aktif saat aku hubungi."
"Ya Tuhan ... tau gitu aku gak akan buru-buru kek gini, Siska. Ah, ponsel aku mati karena aku jatuh tadi. Aku mengabaikannya karena ingin segera sampai ke sini."
"Maafkan aku, mbak. Aku gak sigap jadi sekretaris mbak Anggun." Siska berucap dengan nada bersalah.
__ADS_1
"Ah, itu bukan salah kamu, Sis. Aku yang salah. Akibat dari tergesa-gesa. Aku menerima konsekuensinya sendiri."
"Ah tapi gak papa. Mereka mengundurkan rapat, itu artinya, aku bisa istirahat sejenak. Dan, yang paling penting, aku gak akan terlambat dan tidak membuat kesalahan dalam menjalankan pekerjaanku."
"Mbak Anggun tidak pernah melakukan kesalahan dalam menjalankan pekerjaan, mbak. Jadi, kenapa harus begitu takut. Jikapun ada, itu sudah lumrahnya manusia kok mbak. Jadi tidak perlu terlalu takut."
"Apa yang kamu katakan benar adanya, Siska. Hanya saja, sebagai manusia yang memang tempatnya kesalahan jatuh, aku harus bersikap sebaik mungkin agar kesalahan yang jatuh itu tidak menimbulkan masalah besar untuk hidupku ini. Tanggung jawab yang aku emban, itu adalah tugas besar yang harus aku laksanakan. Untuk itu, aku tidak boleh lengah."
'Meskipun pada kenyataannya, aku sudah lengah selama ini,' kata Anggun dalam hati.
"Mbak Anggun memang tipe perempuan yang patut aku contohi, mbak. Benar-benar luar biasa dalam menjalankan amanah pekerjaan yang mbak pikul."
"Kamu bisa aja, Sis. Oh iya, alasan apa yang membuat klien kita mengundurkan diri dari waktu rapat yang telah sama-sama kita sepakati? Apa mereka masih belum sampai juga? Atau ... ada masalah apa?"
"Mm ... mereka udah sampai kok, mbak. Cuman, kata pimpinan itu, sopirnya sakit perut. Jadi dia harus mengantarkan sopirnya ke rumah sakit terlebih dahulu."
"Oh, itu alasannya."
"Iya, mbak."
Beberapa waktu berlalu. Akhirnya, jadwal rapat mereka tiba juga. Siska mengingatkan pada Anggun kalau klien mereka sudah sampai dan sedang menuju ke ruang rapat.
Mendengar hal itu, Anggun segera bangun dari duduknya. Pinggang juga pantat yang tadinya sakit, kini dia sudah merasa baikan. Merekapun langsung menuju ke ruang rapat sekarang juga.
Pintu ruang rapat terbuka. Anggun dan orang yang ada di dalam ruang tersebut saling pandang. Dengan tatapan yang tidak percaya, Anggun berjalan masuk.
"Kamu? Laki-laki yang tadi?" tanya Anggun dengan nada sangat tidak percaya.
"Mbak. Perempuan tadi? Sungguh hal yang luar biasa. Kita bisa bertemu lagi setelah pertemuan sebelumnya. Oh iya, apa mbak sudah baik-baik saja sekarang? Atau masih sakit?"
"Ah, sudah-sudah. Saya sudah baik-baik saja saat ini, Mas. Tidak ada yang sakit lagi."
"Oh, syukurlah kalau seperti itu. Oh ya, kita belum kenalan, bukan. Nama saya, Damar. Mbak?" Laki-laki itu langsung mengulur tangannya.
__ADS_1
"Aku ... ah, harusnya kamu siapa namaku, bukan?"
"Aku tahu. Tapi, itu berkenalan tidak secara langsung, mbak. Aku ingin berkenalan secara langsung dengan orang yang sudah menabrak punggungku." Damar bicara sambil mengukir senyum.
Anggun mau tidak mau juga terpaksa menyunggingkan bibirnya untuk mengukir senyum. Dengan rasa agak berat, dia angkat tangannya untuk menerima jabatan tangan Damar.
"Aku Anggun. Salam kenal mas Damar. Maaf untuk kesalahan aku yang sudah menabrak kamu."
"Sudah aku bilang, gak papa. Itu bukan salah mbak kok. Oh iya, mari kita mulai langsung saja rapatnya."
"Eh, iy--iya. Ayo silahkan. Silahkan duduk."
Anggun berucap pelan.
Tiba-tiba saja dia merasakan kecanggungan yang entah bagaimana bisa tercipta. Mungkin karena tahu kalau orang yang dia tabrak ini adalah klien luar kota yang ingin dia temui sebelumnya. Atau bahkan sebaliknya. Yang jelas, Anggun merasa tiba-tiba tidak enak hati begitu saja.
Pada akhirnya, rapat berjalan sesuai keinginan juga. Mereka membahas dengan tenang dan lancar tanpa ada halangan dan hambatan sedikitpun. Kesepakatan pun terjalin dengan baik.
"Selamat untuk kesepakatan yang sudah kita buat. Oh iya. Bisakah kita merayakan kontrak kerja sama ini sekarang, mbak Anggun?"
"Me--merayakan? Maksud mas Damar?"
"Saya ingin mengundang mbak Anggun untuk makan siang bersama-sama. Apakah mbak bersedia?"
"Aku akan ikut jika Siska juga ikut. Karena dia juga yang berperan sangat penting dalam kerja sama kita kali ini."
"Tentu saja dia bisa ikut. Karena tema kita kan merayakan kontrak kerja sama yang baru saja terjalin. Tidak ada masalah kok, mbak Anggun."
"Mm ... tapi maaf, mbak. Saya sepertinya tidak bisa ikut mbak dan pak Damar makan siang kali ini. Karena saya sebelumnya sudah izin masuk setengah hari pada mbak Anggun kemarin, bukan?"
"Ah, iya. Ya ampun, maafkan aku, Sis. Aku lupa soal izin kamu kemarin. Ya sudah, gak papa. Kamu pulang sekarang saja."
"Iya, mbak. Gak papa. Saya pamit dulu ya, mbak. Selamat bersenang-senang."
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu, Siska. Udah pulang sana. Tar telat lagi."
"Iya, mbak."