
Baru juga Anggun ingin mengangkat gelas sampai ke bibir. Dedy tiba-tiba langsung menahan tangannya. Hal itu membuat gerakan Anggun langsung tertahan.
"Ada apa sih, Mas? Kenapa kamu ganggu aku lagi? Kau tahu, aku sudah memikirkan kalau aku langsung lupa ingatan setelah meminum minuman ini? Tapi kamu malah merusaknya. Kau merusak kebahagiaan aku lagi. Kau tahu itu."
Anggun ngerocos dengan nada kesal. Aneh, bukannya marah, Dedy malah tersenyum melihat perempuan yang sedang mengomeli dirinya saat ini.
"Dia masih sama. Masih ada sifat bar-barnya."
"Apa kamu bilang? Aku? Aku bar-bar? Hah?"
"Ya Tuhan, mbak. Kamu belum mabuk, bukan? Tolong jangan lanjutkan lagi niat kamu untuk mencoba. Kamu belum mabuk saja sudah ribet seperti ini. Bagaimana jika kamu beneran mabuk sih, mbak? Mungkin, satu klab malam ini akan kamu bikin rusuh."
"Lagian ini ya, mbak. Minuman itu tidak akan menyelesaikan masalah yang kamu miliki. Yang ada, akan menambah masalah buat kamu. Karena saat kamu minum minuman itu, kamu gak akan lupa ingatan dalam waktu yang lama. Palingan juga akan hilang ingatan sebentar saja dengan efek samping lainnya yang akan mengikuti kamu saat kamu sadar kelak."
"Itu juga bagus. Setidaknya aku bisa lupa sedikit saja tentang semua sakit yang aku rasakan saat ini."
"Lupa sedikit saja? Apa sakit itu .... "
Ucapan Dedy langsung tertahan karena kedatangan seseorang. Itu seperti petugas keamanan. Dia datang langsung berbisik ke kuping Dedy. Hal itu membuat Dedy yang sedang memasang wajah tenang, jadi kaget.
"Baiklah. Kamu bisa pergi duluan. Aku akan menyusul kamu sebentar lagi."
"Baik, Mas."
"Mbak Anggun. Maaf, ada sedikit masalah. Aku harus pergi untuk melihat keadaan sekarang. Tolong pertimbangkan lagi apa yang aku katakan tadi. Karena aku tidak ingin mbak salah dalam memilih."
__ADS_1
"Terima kasih untuk perhatiannya, Mas. Mas tidak perlu cemas, karena aku sudah pernah salah dalam memilih. Jadi, tidak ada masalah jika aku salah lagi sekarang."
"Jika sudah pernah salah, sebaiknya berusaha supaya jangan salah lagi kedepannya. Karena tidak mungkin ada orang yang ingin jatuh ke tempat yang sama untuk yang kedua kalinya, bukan?"
Setelah berucap kata-kata itu, Dedy langsung beranjak meninggalkan Anggun. Dia tidak menunggu Anggun menjawab apa yang dia katakan terlebih dahulu. Karena masalah yang harus dia selesaikan mungkin tidak bisa menunggu terlalu lama.
Sementara Anggun yang tidak bisa memikirkan apa yang laki-laki itu katakan dengan baik, ditambah tekad yang sudah bulat untuk melupakan masalah walau sejenak. Dia langsung meneguk minuman tersebut setelah kepergian Dedy.
Dua tegukan. Anggun langsung menghentikan kegiatan minumnya dengan cepat. Dia tidak berniat melanjutkannya lagi karena rasa minuman yang dia minum ternyata tidak seenak yang dia bayangkan.
"Cih! Minuman apaan sih ini? Gak ada enak-enaknya sedikitpun. Mana bisa bikin masalah yang aku hadapi hilang kalau minumannya seperti ini."
Namun, Anggun yang tidak pernah meneguk minuman tersebut tentu saja langsung pusing akibat kandungan alkohol yang tinggi dari minuman itu. Dia langsung merasa pandangannya mulai buram.
"Aduh, apa-apaan sih ini? Ada yang salah dengan minuman ini sepertinya."
Setengah gelas masuk ke dalam perutnya. Anggun benar-benar sudah mabuk berat karena minuman itu.
Sementara itu, Dedy yang sudah selesai mengurus masalah di luar sana. Memilih langsung kembali untuk memastikan keadaan Anggun.
Seperti yang sudah dia bayangkan sebelumnya. Anggun tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan. Dedy langsung melepas napas kesal saat melihat Anggun yang sedang berbaring lemas di atas tempat duduk yang dia duduki sebelumnya.
"Ya Tuhan ... apakah terlalu berat masalah yang kamu hadapi, mbak? Sampai-sampai, kamu tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Untung kamu berada di tempat khusus tamu kelas atas, jadi kamu masih aman sendirian saat mabuk. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu setelah aku tinggalkan."
Dedy langsung mengambil posisi duduk kembali di tempat dia duduk sebelumnya. Anggun yang menyadari kalau ada orang yang datang, langsung mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Dia tatap Dedy dengan tatapan kesal. Lalu, dia pukul dada Dedy dengan keras. Tentu saja Dedy kaget, tapi dia menahan rasa kaget itu karena ingin mendengar kata-kata yang Anggun ucapkan.
"Ke--kenapa kamu datang, ha? Apa kamu tidak menjaga selir manja kamu itu? Dia sakit, bukan? Dia terluka, karena aku. Itu yang kamu katakan. Kamu menyalahkan aku atas semau yang terjadi. Kamu laki-laki yang tidak tahu malu, kak Dion."
"Dion?" Dedy berucap dengan wajah penasaran.
"Ternyata urusan cinta kamu bisa seperti ini, mbak. Aku pikir, gadis kuat seperti kamu tidak bisa sakit hanya karena urusan cinta. Ternyata aku salah sepertinya."
Sementara itu, Dion yang sibuk mencari Anggun, kini sudah tiba di klab tersebut. Awalnya dia ragu untuk berhenti, karena hatinya sungguh tidak percaya kalau Anggun akan mampir ke tempat seperti itu. Namun, saat melihat mobil Anggun ada diparkiran klab tersebut, dia langsung masuk untuk memastikan keberadaan istrinya.
"Aku kecewa sama kamu! Aku kecewa ...! huhuhu .... " Kini Anggun yang mabuk malah berteriak sambil menangis.
Teriakan itu membuat semua yang mendengar langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Anggun dan Dedy. Termasuk, Dion yang baru saja menginjakkan kakinya ke dalam bar ini. Dia langsung membulatkan matanya saat melihat Anggun yang sedang menangis di samping seorang laki-laki.
Dengan perasan kesal karena cemburu, Dion langsung menghampiri Anggun dan Dedy. Sementara Dedy yang dapat tatapan tak sedang dari para pengunjung yang lain, berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
"Maaf semuanya. Tidak ada yang aku lakukan padanya. Dia mabuk dan bertingkah seperti itu. Mohon kalian mengerti akan apa yang sedang terjadi."
Yang lain bisa mengerti. Tapi tidak dengan Dion. Dia yang sangat cemburu saat melihat Anggun duduk di samping Dedy, kini rasa cemburunya makin bertambah ketika melihat Dedy yang merangkul pundak istrinya yang hampir saja jatuh karena sempoyongan.
"Hati-hati, mbak."
"Singkirkan tanganmu dari istriku!"
Dion langsung berteriak dengan suara tinggi. Dia sungguh merasa sangat marah dengan apa yang dia lihat. Jalan menuju ke tempat di mana istrinya berada terasa sangat panjang karena kemarahan yang dia pendam. Dan akhirnya, dia berhasil sampai.
__ADS_1
Dia langsung menarik tubuh Anggun dari Dedy dengan cepat. Sementara Dedy yang kaget, hanya bisa memberikan tatapan tak percaya tanpa bisa berkata-kata sepatah pun.