
Plak! Sebuah tamparan keras terdengar. Dua anak buah yang ada di sana, ikut terdiam dengan memasang wajah ketakutan.
"Bodoh! Kalian semua benar-benar tidak berguna. Tidak ada gunanya aku bayar kalian dengan bayaran yang besar, mencari Dion saja kalian tidak bisa."
"Maaf, tuan. Kami sudah berusaha mencarinya. Mobil tuan Dion juga sudah kami temukan. Tapi, jejak keberadaan tuan Dion sama sekali tidak bisa kami lacak. Kami sudah melakukan segala cara untuk mencarinya. Tapi .... "
"Itu karena kalian sekelompok orang-orang bodoh! Menemukan dua orang saja tidak bisa. Cih! Tidak berguna."
"Maaf tuan, sebenarnya, kecelakaan itu .... "
"Itu juga karena kalian terlalu tidak berguna. Aku minta kalian melakukan kecelakaan kecil sebagai pelajaran saja. Tapi, kenapa anak buah mu yang tidak berguna itu benar-benar melakukan tabrakan besar yang sesungguhnya."
"Aku tidak mau tau. Cari Dion sampai ketemu sekarang juga! Telusuri semua rumah sakit yang ada di kota itu. Juga, telusuri semua penerbangan untuk menemukan mereka. Kita harus memikirkan setiap kemungkinan walau sekecil apapun."
"Baik, tuan. Anak kami laksanakan sekarang juga."
"Pergi! Jangan kembali jika kalian tidak menemukan Dion dan membawanya pulang kembali ke rumah ini."
Anak buah itu langsung beranjak dengan cepat meninggalkan ruangan yang terasa sangat mencekam seperti kandang singa yang sedang kelaparan. Papa kandung Dion sedang marah besar karena rencananya yang gagal.
Setelah kepergian anak buahnya, papa Dion langsung memukul meja, juga membuang semua yang ada di atas meja dengan brutal.
"Agh!"
"Awas saja kalau aku temukan dia dengan kondisi yang baik-baik saja. Akan aku bikin dia tahu, siapa papanya ini yang sebenarnya."
"Pa. Apa maksud kamu barusan? Apa Dion sudah ada kabarnya sekarang? Dia sudah tidak pulang dua hari, Pa. Mama yakin, dia sedang berusaha menghindar dari kita sekarang, bukan?"
"Iya, Ma. Mama tidak perlu memikirkan Dion sekarang. Dia pasti akan pulang. Mama harus jaga kesehatan mama ya. Jangan pikirkan anak yang tidak tahu diri itu dulu. Biar papa yang mengurusnya."
__ADS_1
"Pa, mama merasa sangat tidak tenang. Bagaimana jika dia memang tidak ingin pulang karena dia tahu, kita sudah memindahkan Sisil ke rumah kita? Dan, kita ingin dia menikah dengan Sisil bagaimanapun caranya. Apa yang harus kita lakukan kalau Dion berani menolak kita, Pa?"
"Mama. Sudah papa katakan, kalau semua itu, biar papa yang urus. Papa tahu apa yang harus papa lakukan. Mama tenang saja. Tunggu kabar baik dari papa ya, Ma. Tidak akan mengecewakan mama nantinya. Papa janji."
Sara berusaha mempercayai apa yang suaminya katakan. Dengan wajah lesu, dia mengangguk pelan. Lalu, meninggalkan suaminya untuk menenangkan pikiran.
Di sisi lain, Anggun sedang memegang tangan suaminya dengan penuh kasih sayang. Dia cium tangan itu dengan lembut. Ada rasa bersalah dari tatapan Anggun saat ini. Dia sungguh sangat menyesal atas apa yang terjadi dengan Dion sekarang.
"Kak ... maafkan aku. Kamu begini karena aku. Aku .... "
Anggun langsung menundukkan kepalanya. Sebuah tangan menyentuh lembut pundak Anggun yang sedang bergetar karena menahan tangis.
Sontak saja, sentuhan itu langsung membuat Anggun mengangkat kepala untuk melihat siapa orangnya. Dengan tatapan yang penuh kesedihan, Anggun langsung bangun untuk memeluk orang tersebut.
"Amel."
"Gun."
"Aku juga."
Keduanya saling melepas rindu. Karena sejak Amelia meninggalkan tanah air, sedikitpun belum pernah bertatap muka secara langsung. Hanya komunikasi lewat udara saja.
"Gun, kamu yang kuat ya. Aku tahu kamu adalah perempuan paling kuat selama ini, bukan?"
"Kau bisa saja. Pada dasarnya, aku bukan perempuan paling kuat. Melainkan, paling rapuh. Aku yakin kamu tahu itu, Mel."
"Iya ... aku tahu sih seperti apa kamu. Mm ... sayang, suamimu akan baik-baik saja. Kak Dion orang yang kuat. Aku yakin kalau dia pasti akan sembuh dan kembali normal lagi seperti sebelumnya. Buktinya saja, sekarang dia sudah bisa melewati masa kritisnya itu, bukan?"
"Kamu selalu bisa memberikan aku semangat, Amelia. Oh iya, maaf untuk aku yang tidak bisa mengemban tugas yang kamu berikan dengan baik. Aku .... "
__ADS_1
"Anggun. Tolong jangan bahas soal itu dulu. Kita tidak akan membahas soal pekerjaan sekarang. Karena aku, hanya ingin membahas soal perjalanan rumah tangga kita saja mulai saat ini."
"Mm ... terserah padamu lah. Aku juga tidak ada bahasan untuk itu selain kata maaf karena aku tidak bisa menjalankan tugas dengan baik."
"Tidak perlu minta maaf. Sekarang, perusahaan sedang papa ambil alih, jadi jangan cemas dan jangan merasa bersalah. Dan yang paling penting, jangan dipikirkan."
Begitulah semangat demi semangat yang Anggun terima dari orang-orang terdekat yang cukup peduli dengan keadaannya saat ini. Keluarga angkat Dion memang lebih pantas untuk di sebut dengan keluarga kandung yang sesungguhnya. Karena mereka lebih peduli, juga lebih punya kasih sayang yang tulus untuk Dion dan Anggun.
Di sinilah kondisi kesehatan dan juga kondisi mental Anggun dipulihkan dengan cepat. Kasih sayang yang tulus, perhatian yang tak pernah putus, juga kelembutan yang selalu membuat hati bahagia. Hal itu bisa membuat batinnya yang pernah terluka segera dipulihkan.
Satu minggu sudah pun berlalu. Dirly kini datang untuk bicara empat mata dengan Anggun. Kebetulan, Anggun sedang ada di kamar Dion saat ini. Menemani suaminya yang dinyatakan koma, yang entah kapan akan bangun.
"Gun, apa aku bisa bicara dengan kamu sekarang?"
"Dirly." Anggun segera mengusap buliran bening yang tadinya tumpah di pipi.
"Mau bicara apa? Katakan saja, Dirl. Aku akan dengarkan."
"Tidak di sini. Tapi di luar. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya kak Dion."
"Oh, iya baiklah. Kita akan keluar," ucap Anggun sambil menoleh ke arah Dion yang masih tidur dengan nyenyak dengan beberapa alat medis masih melekat dengan baik di sekitar tubuhnya.
Dirly berjalan duluan meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Anggun mengikuti dari belakang. Mereka keluar ke arah taman untuk bicara lebih leluasa.
"Anggun. Aku punya berita yang mungkin akan membuat kamu sangat kaget ketika mendengarkannya."
"Berita apa? Katakan saja langsung! Jangan bikin aku semakin merasa penasaran."
"Baiklah. Semoga kamu tidak terlalu kaget dengan berita ini. Ini soal keluarga kandung kak Dion."
__ADS_1
"Apa keluarga kandung kak Dion itu hanya keluarga kandung yang palsu, Dirly? Sudah aku duga, kalau mereka bukan keluarga kandung yang asli. Karena sikap mereka pada kak Dion sungguh tidak wajar."
Anggun bicara dengan wajah serius dan nada yang penuh dengan keyakinan. Hal itu membuat Dirly langsung mengangkat satu alisnya karena kebingungan dengan tanggapan yang Anggun berikan.