
Damar hanya terdiam sambil mengukir senyum melihat kedekatan antara Anggun dengan sekretarisnya. Satu lagi yang buat dia merasa kagum dengan perempuan yang baru dia kenali ini. Tidak membatasi antara bawahan dengan atasan. Bergaul seperti teman. Hal itu sungguh menarik perhatian Damar akan Anggun.
"Mbak Anggun ternyata cukup dengan dengan bawahannya mbak yah. Pasti dia yang bekerja dengan mbak Anggun merasa sangat bahagia deh."
"Saya dekat dengan mereka karena saya juga diperlakukan sama oleh bos saya. Dari situ saya belajar, mas. Kalau jabatan itu tidak bisa kita banggakan. Karena kita ini sama saja, sama-sama manusia, bukan?"
"Mbak benar. Sangat-sangat benar. Salut deh saya sama mbak. Jadi makin yakin untuk menjadikan mbak sebagai rekan kerja buat perusahaan kami ke depannya."
"Mas bisa aja."
"Ah iya. Ayo kita ke restoran terdekat. Saya sudah sangat lapar sekarang. Mm ... tempatnya, mbak Anggun yang tentukan. Karena saya bukan orang sini, jadi saya tidak tahu mana yang enak untuk kita makan siang."
"Semuanya enak, mas. Janji udah masak, dan sedang lapar. Jika perut kenyang, mana enak untuk di makan. Dan, jika masih mentah juga sama. Gak akan enak."
"Hehe ... mbak ini bisa saja. Punya selera humor yang baik juga ternyata."
Keduanya terus ngobrol. Saling bertukar obrolan juga sesekali terdengar tawa lepas dari mulut Damar. Sementara Anggun hanya tersenyum tipis saja sesekali.
Mereka tidak pergi jauh-jauh. Hanya makan di restoran yang ada di sebelah kantor Anggun saja. Tempat yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Juga, tempat favorit Anggun selama dia bekerja di perusahaan keluarga sahabatnya. Dan yang paling penting, tempat dia dan Dion dulunya selalu makan bersama saat jam makan siang tiba.
***
Perjalanan hidup terkadang memang sulit untuk di tebak. Amelia yang ingin pulang ke tanah air terpaksa harus membatalkan niatnya. Karena tepat satu hari sebelum keberangkatan Amelia untuk pulang. Dia mendapat kabar yang bahagia.
__ADS_1
Amelia ternyata sedang hamil dua bulan. Dokter kandungan tidak memperbolehkan Amel untuk pulang.
Kabar bahagia itupun cukup membuat gempar keluarga Prayoga. Tentunya, kedua orang tua Dirly sangat bahagia. Sangking bahagianya mereka, mereka menerima permintaan Dirly yang selama ini mereka tolak. Yaitu, ikut tinggal di luar negeri agar mereka dekat dan selalu bersama.
"Mama sama papa yakin untuk pindah?" tanya Anggun dengan berat hati ketika kabar kepindahan mertua angkatnya itu sampai ke telinga dia.
"Mama sama papa juga awalnya tidak mau, Gun. Kamu kan tahu sendiri, papamu tidak ingin meninggalkan tanah air karena banyak kenangan di sini. Tapi ... Amel sedang hamil. Jadi mama memutuskan untuk tinggal di sana agar bisa menjaga Amelia dan calon cucu mama."
"Iya, Gun. Mama kamu ini paling bersemangat saat tahu Amel sedang hamil. Tidak memikirkan ulang permintaan Dirly, dia malah langsung menyanggupinya." Papa mertua ikut bicara.
Anggun tidak bisa berucap lagi. Karena dia tidak punya alasan untuk tetap meminta mereka tinggal di sini. Dia bukan siapa-siapa. Hanya sebatas menantu. Itupun, cuma menantu angkat saja.
Meskipun dia sangat sayang, juga tidak ingin berpisah. Tetap saja dia tidak punya kekuatan untuk menahan kedua orang tua itu.
Melihat Anggun yang sedang memasang wajah murung. Kedua orang tua tersebut saling bertukar pandang. Mereka tahu apa yang menantu angkat mereka rasakan. Karena apa yang Anggun rasakan itu, mereka juga merasakannya.
Papa mertua langsung berjalan beberapa langkah. Dia letakkan tangannya di atas bahu langsing menantu angkatnya dengan lembut.
"Kamu jangan sedih gitu dong, Gun. Meskipun kita berjauhan nanti, tapi kita tetap dekat. Kamu tetap menantu kami meskipun kami sudah tidak ada di tanah air lagi."
"Iya, Nak. Meskipun mama sama papa sudah tidak tinggal di sini lagi, kita juga masih bisa bertemu, bukan? Nah lho sekarang jaman canggih sayang. Bisa vidio call jika kangen dengan mama sama papa, kan ya, Pa?"
"Iya, Gun. Mama benar. Kamu bisa vidio call nanti jika kangen. Lah kamu juga bisa datang ke tempat kami jika kamu punya waktu luang."
__ADS_1
"Iya. Kamu datang saja ke sana. Bukan hanya mama yang akan bahagia. Tapi Amel juga pasti akan sangat bahagia, Gun."
"Rasanya tidak akan sama, Ma, Pa. Kalian sudah tidak lagi bersama aku. Kita sudah berada di tempat yang berbeda. Aku tidak akan bisa mengadu apapun keluh kesah ku lagi pada kalian," ucap Anggun dengan nada sedih setelah lama terdiam.
"Sayang ... mama paham kok apa yang kamu rasakan. Karena apa yang kamu rasakan itu, mama sudah merasakannya. Mama berjauhan dengan dua anak berharga yang paling mama sayangi sekaligus."
"Andai saja Dion masih ada di sini. Tinggal di rumah ini bersama kami. Atau paling tidak, tinggal di kota ini dan bisa mama lihat setiap saat mama inginkan. Mungkin keputusan mama untuk pindah setelah permintaan Dirly, akan mama pertimbangkan berulang kali. Tapi sayangnya, dia tidak ada di sini bersama kita."
"Mama bicara apa sih ah. Jangan ngomong gitu. Dia jauh dari kita juga karena dia punya tanggung jawab yang lainnya, bukan? Lagipula, kita pindah bukan karena dia, tapi karena Amelia yang sedang hamil, bukan? Kita gak lama lagi akan dapat cucu. Ingat itu."
"Ah iya, mungkin jika Anggun hamil, kami juga akan kembali lagi ke sini."
Anggun langsung membulatkan matanya karena ucapan papa mertua barusan.
"Ha--hamil?"
Tanpa sadar, pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Anggun. Pertanyaan yang sebenarnya tidak dia inginkan keluar. Karena ucapan papa mertuanya itu adalah hal yang wajar. Pernikahan mereka sudah berjalan cukup lama. Tapi masih tidak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali pada dirinya.
Dengan wajah sedih, Anggun berusaha tetap tegar. Dia memikirkan kata-kata yang mertuanya ucapkan barusan.
'Hamil? Apa mungkin aku bisa hamil setelah semua yang kami lalui seperti aku yang tidak punya suami ini? Aku tidak bersama dengan kak Dion cukup lama. Mana bisa aku hamil.'
Anggun terus terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara mama mertua angkatnya itu, langsung memberikan cubitan kecil ke perut sang suami.
__ADS_1
Mama mertuanya merasa kesal karena sang suami salah dalam berucap. Tidak memikirkan terlebih dahulu apa yang ingin dia katakan pada menantu mereka.
"Nak, jangan bersedih seperti itu. Mama yakin kalau hubungan kalian berdua pasti akan baik-baik saja kelak. Mama tahu siapa anak mama. Meski mama tidak melahirkannya, tapi mama yang sudah merawatnya dari bayi hingga dewasa. Jadi, mama tahu seperti apa sifat Dion yang sesungguhnya."