Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *52


__ADS_3

Setelah sedikit menyinggung hal pribadi, Anggun kembali mengajak asisten tersebut bicara hal serius. Mereka kembali menjalankan rencana selanjutnya untuk merebut perusahaan papa Dion dalam waktu dekat.


Sementara itu, di rumah sakit. Papa Dion sedang gelisah. Dia sangat cemas dengan keadaan istrinya yang drop tadi. Karena sebelumnya, dia sudah diperingati, kalau wanita itu tidak boleh drop lagi atau akibatnya akan sangat fatal.


Tapi apa boleh buat. Penjagaan manusia itu tidaklah sebaik penjagaan sang pencipta. Tidak akab bisa berbuat banyak, tanpa restu dari yang maha kuasa.


Kurang dari dua puluh menit berlalu, akhirnya, ruangan yang dia jaga dengan tatapan itu terbuka juga. Dari sana, seorang dokter keluar dengan wajah yang membuat hati takut luar biasa.


Papa Dion langsung menghampiri dokter tersebut dengan cepat.


"Bagaimana, Dok? Apa istri saya baik-baik saja?"


Dokter tersebut semakin memasang wajah cemas. Dia menggelengkan kepala dengan gerakan yang cukup pelan.


"Maaf, kami tidak bisa menolong istri anda, Tuan. Istri anda sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dia sudah meninggal sekarang."


"Ap--apa? Ti--dak! Dia tidak mungkin meninggal. Dia tidak mungkin meninggalkan aku dalam kondisi yang seperti saat ini. Dia tidak .... "


"Tenang, om. Jangan tambah masalah yang sudah ada."


"Jangan bicara lagi kamu, bangsat! Semua ini karena kamu. Kau yang sudah membuat istriku kehilangan nyawanya. Kau juga harus mati di tanganku sekarang."


Papa Dion ngamuk tak karuan. Hal itu harus membuat pihak keamanan datang untuk menenangkannya. Namun, belum juga sempat tenang, sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke dalam ponsel papa Dion. Awalnya, orang tua itu mengabaikan panggilan tersebut, namun panggilan itu datang lagi. Hal itu membuat papa Dion langsung mengangkat tanpa melihat lagi siapa yang sedang menghubunginya.


Ternyata, panggilan itu dari asistennya. Asisten tersebut menghubungi untuk mengabarkan, kalau perusahaan benar-benar dalam keadaan sulit. Para pekerja sedang melakukan demo besar menuntut hak mereka.


Keadaan kantor sedang cukup kalau akibat demo itu. Fasilitas kantor banyak yang rusak. Jika pemimpin perusahan tidak kunjung datang, maka kantor benar-benar akan mereka hancurkan.

__ADS_1


"Bodoh! Kenapa mengurus itu saja kamu tidak bisa, ha? Sia-sia aku bayar kamu mahal-mahal selama ini."


"Tuan, jika tidak datang, maka aku juga tidak bisa apa-apa. Kantor anda yang akan hancur. Selama ini, aku sudah bekerja sebaik yang aku bisa. Tolong hargai apa yang sudah aku lakukan untuk anda selama ini."


"Minta aku hargai. Kamu sendiri tidak berguna! Pergi sana pergi! Aku tidak butuh asisten tidak berguna seperti kamu."


Setelah berucap kata-kata itu, papa Dion langsung memutuskan sambungan panggilan dengan asistennya. Dia yang kesal, marah, dan juga sedih itu, tidak tahu harua apa. Semua masalah yang datang terus-terus terasa sangat berat.


Hukuman atas kejahatan yang dia lakukan ternyata sungguh luar biasa. Dia sudah membuat keluarga Anggun menderita hanya karena kesalahan satu orang, tapi menyakiti semua anggota keluarga. Sekarang, dia yang menerima balasan dari apa yang dia lakukan dulu.


Hidup dalam masalah besar yang sepertinya sedang terus menerus menyerang. Perusahaan yang dia bangga-banggakan, kini sedang ada diambang kehancuran. Bukan hanya hancur tempat, tapi juga hancur modal yang mengantar pada kebangkrutan saat ini.


___


Setelah pemakaman istrinya, papa Dion baru datang ke perusahaan. Dia sungguh tidak sanggup melihat perusahaan itu yang sekarang tidak mirip perusahaan lagi. Karena hampir semuanya rusak. Semua alat-alat kantor berantakan bak kapal pecah yang hancur tak karuan.


Namun, saat sedang terburu-buru keluar dari gerbang kantor, dia tidak memperhatikan sebuah truk yang sedang melintas. Hal itu membuat mobilnya langsung ditabrak truk tersebut.


Mobil papa Dion langsung dihimpit gerbang oleh truk tersebut. Seketika, semua ramai akibat kejadian itu. Ambulance datang, mobil polisi juga ada di sana. Sayangnya, papa Dion dinyatakan tidak bernyawa akibat kecelakaan fatal yang dia alami barusan.


(Ketika bikin bab ini, aku berasa ada di sinetron ikan terbang. Rasanya ... uuuuaaaaa ... pengen kabur, tapi gak bisa. Ya tetap harus di jalani walau kaki gak sanggup melangkah. Huahahaha ....)


____


Satu minggu setelah kejadian itu, Anggun kembali ke luar negeri. Perusahaan papa Dion yang sudah murni tertulis atas nama Dion saat ini, dia titipkan pada asisten pribadinya dengan persetujuan Dirly.


Sementara Damar yang sudah tahu hal itu, dia setuju dan berniat akan membantu dalam mengurus perbaikan perusahaan agar bisa seperti semula. Damar juga sudah membantu meredam para pekerja yang melakukan demo dengan memberikan hak mereka.

__ADS_1


Kantor yang rusak di perbaiki secara perlahan. Sedangkan hubungan antara Damar dan Siska juga terlihat berjalan dengan sangat baik. Mereka selalu bersama meski tidak sedang membahas soal pekerjaan.


Sementara untuk hubungan Damar dan Anggun, sepertinya sudah tidak seperti dulu lagi. Karena Damar sadar, kalau Anggun tidak akan menerima cinta yang dia punya. Ada Dion yang lebih pantas mencintai Anggun dari pada dirinya. Karena Dion rela melakukan segala hal demi kebahagiaan Anggun yang dia cintai. Untuk itu, Damar memilih mengalah atas nama cinta.


Anggun kini sudah kembali ke tempat suaminya berada. Rasa rindu itu sangat tidak kuat dia tahan. Saat sampai ke rumah, Anggun langsung masuk ke kamar suaminya untuk melihat wajah tampan yang sedang terlelap entah kapan akan bangun lagi.


"Kak, aku kembali."


"Aku sangat merindukan kamu. Apa kamu juga rindu padaku, kak Dion?"


"Ah, aku yakin kalau kamu tidak rindu padaku. Buktinya saja, kamu tidak juga bangun saat aku sudah kembali setelah lama meninggalkan kamu di sini."


Anggun terus mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Dion yang sedang koma. Hal itu membuat dia kelelahan sampai tertidur dengan memeluk tangan Dion dengan erat.


Saat Anggun terlelap, air mata Dion perlahan mengalir dari sudut matanya yang sedang tertutup. Dia menangis, tapi Anggun tidak menyadari hal tersebut.


Ketika Amelia masuk ke dalam kamar tersebut untuk bertemu Anggun, Amelia melihat air mata itu. Dia langsung keluar lagi dengan cepat untuk mengatakan apa yang dia lihat pada dokter yang merawat Dion selama ini.


"Sebenarnya, dia bisa saja bangun dalam waktu yang cepat. Hanya saja, ada alasan yang dia pikirkan sampai membuat dia tidak ingin bangun sekarang."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk membuat kak Dion bangun, Dok?"


"Pancing dia merubah keputusan yang sedang dia pikirkan. Buat dia berusaha keras untuk bangun, bukan malah sebaliknya."


"Aku paham. Hanya istrinya yang bisa melakukan hal ini."


"Ya. Memang hanya istrinya yang mungkin bisa memancing dia untuk sadar."

__ADS_1


__ADS_2