
"Terserah kamu. Jika kamu ingin aku mengikuti apa yang kamu katakan, maka jangan pernah datang lagi padaku nanti. Jika tidak, aku akan bikin ulah di sini sekarang. Ulah yang akan bikin kamu malu selama-lamanya."
Sisil lalu menatap kesal ke arah Dion. Sementara Dion tidak menanggapi tatapan itu. Dia mengabaikannya begitu saja.
Sisil yang merasa semakin kesal lalu menggenggam erat tangannya. Dalam hati dia berkata.
'Aku akan bikin kamu tidak bisa meninggalkan aku mulai dari malam ini. Jika kamu anggap kamu menang sekarang, sayang kamu salah, kak Dion. Karena sekarang adalah permulaan saja. Selanjutnya, kita lihat apa yang akan terjadi dengan kamu.'
"Baiklah. Aku tidak akan datang lagi padamu nanti. Tapi tolong, jangan bikin aku malu malam ini. Karena malam ini, semua sahabatku ada di sini. Aku tidak bisa malu di depan mereka semua, kak."
"Baik kalau begitu. Kita sepakat sekarang. Awas saja jika kamu mencoba mengingkari apa yang telah kamu katakan. Kamu akan tahu apa akibatnya, Sisil. Aku tidak main-main dengan kamu."
'Sialan! Berani banget dia ngancam aku seperti itu. Untung saja kamu anak orang kaya yang punya kuasa besar, kak Dion. Jika tidak, aku juga tidak akan sudi menjadikan kamu barang rebutan. Karena aku sangat tidak suka dengan bekas orang.'
"Aku tidak akan mengingkari apa yang telah aku katakan. Kamu tenang saja, kak Dion."
"Ya udah deh, tunggu di sini sebentar. Aku akan menyapa teman-temanku yang lainnya."
"Hm." Dion hanya berucap pelan.
Sementara Sisil langsung beranjak meninggalkan Dion dengan cepat. Dia menuju ke arah teman-temannya berada. Di sana, dia terlihat sedang bicara hal serius dengan salah satu teman yang dia sapa sebelumnya.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah kamu siapkan dengan baik?" tanya Sisil pada temannya tersebut.
"Sudah dong. Kamu tidak perlu cemas. Semua sudah aku atur sebaik mungkin. Kamu tinggal menikmati hasilnya saja lagi."
"Bagus. Aku suka dengan cara kerja kamu. Kamu memang bisa aku andalkan. Semoga hasilnya tidak akan mengecewakan aku."
"Tidak akan. Aku jamin itu."
Sementara Sisil sedang sibuk bicara dengan temannya. Seorang pelayan datang ke arah Dion. Pelayan itu mengantarkan minuman untuk Dion.
__ADS_1
"Silahkan, Mas."
"Tidak. Terima kasih."
"Ah, baiklah."
Pelayan itu ingin pergi. Tapi Dion yang sedang waspada langsung menahan pelayan itu untuk mengambil minumannya kembali.
"Tunggu!"
"Ya, Mas."
"Apa minuman ini ada alkoholnya?"
"Oh, tidak Mas. Ini hanya air soda. Yang ada alkoholnya di sebelah sana. Jika mas mau, saya bisa ambilkan untuk Mas."
"Ah, tidak perlu. Saya tidak suka dengan minuman yang mengandung alkohol. Saya minta minuman yang ini saja."
memang hanya ada satu gelas di atas napan yang dia bawa. Selanjutnya, pelayan laki-laki itu langsung meninggalkan Dion dengan cepat.
'Aku harus hati-hati. Sisil sepertinya bukan gadis yang gampang untuk aku tebak. Buktinya saja malam ini dia berbanding terbalik dari Sisil yang biasa bertemu dengan aku. Gadis yang selalu bersikap manja, dalam hitungan jam bisa berubah jadi dewasa. Benar-benar permainan yang luar biasa.'
Dion terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sambil melihat gelas yang ada di tangannya, dia terus sibuk dengan pikiran soal Sisil. Sementara Sisil yang melihat dari kejauhan, langsung tersenyum menyeringai.
Tekat untuk membuat Dion menjadi milik dia sudah bulat. Dia tidak ingin gagal sedikitpun. Semua rencana yang sudah dia jalankan, harus berhasil dengan hasil yang memuaskan. Maka dari itu, dia harus berjalan perlahan selangkah demi selangkah.
Sisil langsung kembali menemui Dion. Dia membawa dua gelas minuman beralkohol ringan di tangannya.
"Kak Dion. Ini minum," ucap Sisil sambil menyodorkan satu gelas minuman yang ada di tangan kanannya.
"Tidak usah. Aku sudah ada minuman sekarang. Kamu gak lihat kalau aku sudah punya minuman ini?"
__ADS_1
"Itu air soda. Mana enak, kak. Lagian, pesta kek gini gak enak minum air soda. Cobain ini nih, gak tinggi kok alkoholnya. Gak akan bikin kamu mabuk kok, kak."
"Jangan paksa aku untuk melakukan apa yang tidak aku suka, Sisil. Aku tidak minum minuman beralkohol. Baik sedang, ringan atau apapun itu. Yang jelas, aku tidak suka. Jangan bikin aku kesal atau kamu akan dapat masalah."
"Kamu kok gitu sih, kak? Aku cuma menawarkan minuman secara baik-baik. Kamu gak suka, ya udah gak usah minum. Lagian, kamu punya minuman punya buat kamu lihatin doang. Ya makanya aku tawarkan yang lain. Mana tahu kamu suka."
"Siapa bilang aku tidak minum? Aku mungkin sudah menghabiskan minumanku jika kamu tidak datang."
Selesai berucap kata-kata itu, Dion langsung meneguk habis air soda yang sedang tadi dia tatap. Sisil yang melihat hal itu langsung tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
"Kamu yang sudah memilih sendiri hal ini, kak Dion. Bukan aku, ya. Jadi, jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi padamu malam ini."
Beberapa detik setelah ucapan itu dia dengar, matanya tiba-tiba terasa berkunang-kunang. Kepalanya juga mendadak pusing. Dia yang awalnya terlalu waspada, ternyata salah langkah juga.
Ternyata, minuman yang pelayan laki-laki itu berikan sudah di campur dengan obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi. Karena itu, Dion yang meminumnya langsung tidak sadarkan diri.
Dion yang sudah tidak sadarkan diri itu, Sisil pindahkan ke kamar hotel yang sudah dia siapkan sebelumnya. Tentunya, dengan bantuan beberapa teman Sisil yang ikut bekerja sama sejak awal.
Mulai dari awal mula memancing permasalahan, hingga mengantarkan minuman untuk Dion. Semua sudah Sisil atur dengan sebaik mungkin. Dia tahu kalau Dion pasti tidak akan memilih minuman yang dia bawa. Karena dia cukup memahami sifat Dion sekarang.
Sisil tersenyum menyeringai sambil menatap wajah Dion yang sedang gelisah. Dia mendekati laki-laki itu, lalu membelai wajahnya.
"Bukan salah aku ya, kak. Tapi salah kamu. Kamu yang jadi laki-laki terlalu bodoh. Masa tingkat waspada yang kamu miliki yang membawa kamu masuk ke dalam jebakan ku."
"Ah, tunggu deh. Kamu yang terlalu bodoh, atau aku yang terlalu pandai ya, kak Dion?"
"Mm ... tapi bodoh amat dengan pertanyaan itu. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Yang terpenting sekarang adalah, kamu sudah berada dalam genggaman aku. Dan malam ini juga, kamu akan menjadi milik aku selamanya, Dion."
Dion semakin terlihat gelisah. Tubuhnya kini sudah di penuhi oleh keringat yang mengucur karena efek obat yang semakin lama semakin kuat.
"Uh ... sabar dulu ya, kak. Aku akan menolong kamu secepatnya. Tapi, tunggu aku mengambil foto sebagai bukti kalau kamu adalah milik aku, bukan milik istrimu lagi."
__ADS_1