
Ada seperti luka yang terbuka dalam hatinya saat ini. Perih itu sungguh nyata ketika kata-kata Anggun menyentuh telinganya. Dia merasa cukup sakit saat istrinya bicara dengan nada tinggi seperti barusan. Bahkan, dia juga di katakan buta mata juga buta hati. Itu sungguh menyakitkan buat Dion saat ini.
Ingin rasanya dia mengejar Anggun untuk bicara kalau dia tidak buta mata, apalagi buta hati. Dia bisa merasakan kalau Anggun tidak berbohong. Tapi apa yang terjadi saat ini, sungguh sulit untuk dia simpulkan.
Dia percaya kalau Sisil yang manja tidak mungkin akan mencari masalah dengan Anggun duluan. Karena selama ini, Sisil hanya akan manja, tapi tidak liar. Itu sebab dia percaya kalau apa yang terjadi mungkin karena kesalahan Anggun yang tidak sengaja menyakiti Sisil karena terlalu kesal pada perempuan itu.
Sayangnya, Dion yang malang tidak tahu bagaimana sikap Sisil yang sebenarnya. Sisil yang licik sangat pintar bermain peran untuk mengelabui dirinya. Bersikap manja hanya untuk mencari perhatian dari dirinya saja. Tapi sungguh sangat liar di saat berhadapan dengan orang lain. Apalagi dengan orang yang dia anggap musuh. Sisil lebih berbahaya dari ular yang paling berbisa.
Dion masih terdiam mematung sambil menatap ke arah depan. Anggun sudah tidak terlihat lagi, tapi rasa bersalah karena kata-kata yang dia ucapkan tadi masih terasa sangat kuat.
Di tambah dengan kata-kata Anggun dengan nada tinggi yang membuat dia semakin merasa bersalah. Sampai dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Posisi yang cukup sulit membuat dirinya benar-benar berada dalam dilema yang akut
Sementara itu, Sisil yang melihat Dion hanya terdiam saja. Langsung merasa sangat kesal. Dia menggenggam erat tangannya untuk menyalurkan emosi yang tidak bisa dia umbar kan secara terang-terangan.
'Dasar kurang ajar perempuan itu. Aku pikir dia sangat lemah sampai tidak berani berucap satu patah katapun saat berhadapan dengan kak Dion. Eh tahunya ... dia begitu berani bicara dengan nada tinggi pada kak Dion. Sangat jauh dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya.'
'Tidak bisa seperti ini. Aku tidak boleh kalah dengan perempuan seperti dia. Aku harus lebih kuat dari dia agar kak Dion bisa jatuh ke tangan aku. Karena sejak awal, hanya aku yang cocok dengan kak Dion. Karena dia terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tidak seperti perempuan miskin yang hanya bisa bekerja di perusahaan sahabatnya itu.'
"Auh .... Kak ... ke--kepalaku sangat pusing sekarang. Aku ... rasanya sudah tidak kuat lagi."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Dion yang awalnya masih diam, langsung mendadak jadi panik kembali. Dia langsung menghampiri Sisil untuk membawa gadis manja tersebut ke ruang pengobatan.
"Maafkan aku, Sil. Aku .... "
"Bukan salah kak Dion kok. Aku aja yang tidak bisa jaga diri dengan baik," ucap Sisil semakin menjadi-jadi bersandiwara nya.
Dion tidak berucap lagi. Dia langsung membawa Sisil meninggalkan tempat tersebut dengan cara menggendongnya.
Sikap Dion yang tidak memikirkan ulang apa yang dia lakukan itu membuat dia kembali berada dalam masalah. Karena ketika dia membawa Sisil dengan cara menggendong perempuan tersebut, Anggun yang bersembunyi di balik tembok pembatas kamar mandi dengan ruangan lainnya di rumah sakit itu melihat apa yang Dion lakukan.
Tidak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang penuh dengan rasa kecewa itu mengalir sendirinya tanpa bisa Anggun tahan sedikitpun.
Anggun beranjak meninggalkan rumah sakit setelah dia tidak melihat Dion lagi. Dia pergi tanpa mengatakan pada siapapun terlebih dahulu.
Tidak tahu di mana tujuan akan melangkah. Anggun terus menjalankan mobilnya hingga dia sampai di depan bar tempat di mana dia dan Amelia dulu pernah datangi jika mereka punya waktu luang.
Anggun terdiam menatap bar tersebut. Semua kenangan antara dia dan sahabatnya kini langsung tergambar dengan jelas. Semua kebahagiaan saat itu, hidup tanpa beban berat rumah tangga yang menghimpit.
"Amel. Ternyata, hidup tanpa cinta akan lebih baik buat aku. Karena saat sendiri, jauh lebih tenang dari pada kehidupan yang aku jalani sekarang. Hidup sebagai istri dari laki-laki yang aku cintai. Tapi dia malah tidak bisa aku kuasai sebagai suami. Dia seperti milik orang lain, Mel. Bukan milik aku," ucap Anggun sambil terus menatap pintu bar tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa detik selesai berucap. Anggun langsung menundukkan kepalanya. Dia menangis sambil menyembunyikan wajah di balik lengan yang beralaskan setir mobil.
Tidak tahu entah berapa banyak air mata yang dia tumpahkan. Yang jelas, dia sudah menangis sejak tadi sampai pelupuk matanya terlihat sedikit bengkak.
Saat Anggun sampai, hari masih senja. Bar itu masih tutup untuk menghormati waktu sholat maghrib untuk yang beragama muslim.
Anggun memilih tetap berdiam diri di sana. Dia sudah berniat untuk masuk ke bar tersebut saat bar dibuka.
Sementara itu, bi Ina sedang panik karena tidak menemukan Anggun. Dia sudah mencari majikannya ke mana-mana. Di setiap sudut rumah sakit, tidak juga dia temui. Dia juga sudah berulang kali menghubungi nomor ponsel Anggun. Tapi tetap saja tidak bisa di hubungi.
Hati bi Ina semakin cemas saat hari sudah gelap, tapi Anggun masih tidak tahu di mana keberadaannya. Ingin mengatakan pada Dion soal apa yang terjadi, tapi dia tidak punya kesempatan. Karena Dion masih terus bersama Sisil tanpa beranjak sedikitpun.
Sementara itu, kedua mertua angkat Anggun sepertinya juga sudah mulai menyadari kalau menantu angkat mereka tidak kunjung kembali setelah izin pergi. Mereka juga sudah mulai menanyakan di mana keberadaan Anggun saat ini.
Bi Ina terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau Anggun sedang izin pulang sebentar untuk mengurus masalah pekerjaan yang cukup penting. Dia tergesa-gesa sampai tidak sempat pamit.
"Tapi, dia sebentar lagi akan kembali kok nyonya, tuan besar," kata bi Ina dengan wajah juga suara setenang mungkin.
Untungnya kedua mertua itu percaya. Jika tidak, bi Ina yang pusing dan cemas itu tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk melindungi semuanya agar tidak berada dalam masalah.
__ADS_1
Setelah lama mengintai Dion. Akhirnya, bi Ina punya kesempatan untuk bicara juga. Dia langsung menarik Dion ke pojokan saat Dion keluar untuk menebus pembayaran atas pengobatan Sisil yang katanya terluka akibat benturan keras itu.