Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *47


__ADS_3

"Bagus kalau gitu. Besok, kamu sudah bisa berangkat kembali ke tanah air. Kamu tidak perlu takut, ada aku di belakangmu. Dan, ada semua keluarga yang sedang mendukung kamu sekarang."


"Untuk perusahaan, kamu tidak perlu cemas. Selain ada perusahaan ku yang cukup terkenal, aku juga akan menggabungkan dua perusahan lagi untuk membuat kamu kuat sebagai pemimpin di sana."


"Maksud kamu? Dua perusahaan itu .... "


"Yah. Seperti yang kamu pikirkan. Dua perusahaan, yaitu, perusahaan Amelia, dan perusahaan keluarga Prayoga yang cukup terkenal."


"Sebenarnya, dua perusahaan ini sudah sangat kuat tanpa harus melibatkan perusahaan pribadiku untuk membantu kamu memberikan pelajaran pada mertuamu itu. Hanya saja, aku tidak ingin dia terlalu waspada jika tahu kamu datang dari dua perusahaan yang sudah dia tahu siapa pemiliknya ini."


"Aku mengerti apa yang kamu katakan. Terima kasih banyak atas bantuan yang kamu berikan. Aku pastikan, semuanya akan berjalan dengan sangat lancar."


*Saat ini di tanah air.


Anggun tersenyum saat dirinya melihat hamparan gedung yang sempat dia tinggalkan beberapa lama ini. Misinya memberikan pelajaran pada sang mertua sudah tersusun rapi. Tanpa ada sedikitpun rasa was-was sama sekali. Karena tekadnya sudah benar-benar bulat.


'Kalian sudah memisahkan aku dengan suamiku beberapa lama. Tapi, kalian masih juga tidak puas dengan hal itu. Kalian malah membuat suamiku menjadi koma sampai detik ini, dan kalian telah melenyapkan anak yang baru saja aku ketahui keberadaannya. Kalian terlalu jahat untuk disebut sebagai orang tua. Jadi, maafkan aku untuk pembalasan ini,' ucap Anggun dalam hati sambil menggenggam erat tangannya.


Saat mengingat luka itu, tentu saja rasa sakit yang ada dalam hatinya bangkit kembali. Ingin sekali dia cepat bergerak, melakukan pembalasan atas apa yang sudah orang tua kandung suaminya lakukan pada hidupnya dulu.


"Sabar, Anggun. Sabar. Semua butuh proses. Kamu harus sabar agar semua rencana berjalan lancar," ucap Anggun lagi sambil mengelus dadanya yang terasa sedikit sesak.

__ADS_1


Mobil yang sudah Dirly siapkan datang menjemput Anggun di bandara. Dia benar-benar terlihat seperti orang kaya walau dengan penampilan yang terbilang sangat culun karena kaca mata besar dan rambut yang diikat satu itu.


Entah mengapa, tampilan itu yang dia pilih untuk menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Mungkin karena dia sudah terbiasa berdandan ala wanita karier sebelumnya. Atau juga mungkin karena dia ingin orang-orang tidak terlalu menganggap ada dia dengan tampilan yang tidak terlalu perfek itu. Karena sudah menjadi hal umum, seseorang yang terlihat culun, itu biasanya selalu direndahkan dan di pandang remeh oleh orang sekitar.


Anggun sampai di rumah mewah yang khusus Dirly sewa untuk Anggun tinggal selama menjalankan misinya. Itu Dirly lakukan agar jati diri Anggun benar-benar tertutupi dengan baik. Makanya, dia sampai menyewa rumah yang tidak ada hubungan sedikitpun dengan keluarga Prayoga.


Rumah yang sangat mewah, Dirly sewa lengkap dengan beberapa pelayan. Itu untuk memudahkan Anggun dalam menjalankan semua urusan selama dia sendirian di tanah air.


Setelah sampai di rumah tersebut, Anggun sudah sangat tidak sabar lagi untuk memulai rencananya. Tapi sayangnya, dia belum bisa langsung menyerang perusahaan mertuanya. Karena dia butuh istirahat, juga penyesuaian diri dengan baik terlebih dahulu.


Empat hari kemudian. Di ruang kerja papa Dion, seorang perempuan yang tak lain adalah asisten papanya Dion masuk dengan beberapa berkas di tangan. Wajah asisten itu terlihat kusut dan pucat. Sepertinya, dia sedang mengalami masalah besar yang sangat rumit.


"Tuan, ini semua berkas-berkas yang harus tuan lihat. Perusahaan kita benar-benar berada diambang kehancuran, Tuan. Semua investor, juga semua klien yang bekerja sama dengan kita, mendadak menarik saham dan memutuskan kontrak secara sepihak."


Papa Dion berteriak sambil membanting apa yang ada di hadapannya untuk meredakan rasa kesal. Sementara si asisten, langsung menundukkan kepala karena terkejut dan merasa sangat takut.


"Katakan padaku apa penyebabnya! Kenapa orang-orang bodoh itu bisa melakukan ini secara sepihak, hah!"


"I--itu ... itu karena ada perusahaan luar negeri yang datang ... untuk mengajak mereka bekerja sama dengan keuntungan yang lebih besar dari yang kita berikan pada mereka, Tuan. Jadi, mereka langsung menerima tawaran dari perusahaan luar negeri tersebut dengan cepat."


"Tidak hanya itu, ada banyak juga dari mereka yang sudah menjual sebagian saham pada perusahaan tersebut. Jadi, di perusahaan kita, pemegang saham terbesar adalah perusahaan asing itu."

__ADS_1


"Kita juga harus cepat mencari investor baru untuk bisa melanjutkan proyek kita agar tidak terbengkalai dan menimbulkan kerugian yang berlipat ganda, Tuan. Karena jika proyek yang kita tangani ini terhenti, maka bisa dipastikan, perusahaan tuan akan gulung tikar tanpa bisa bangun lagi."


"Sial! Lancang sekali kamu bicara seperti itu padaku! Sudah bosan hidup kamu ya?"


"Bu--bukan Tuan. Saya hanya mengatakan hal yang saya lihat saja. Sa--saya ti--tidak bermaksud mengatai. Tapi hanya memperingati apa yang sedang ada di depan mata kita saja."


"Tidak akan aku biarkan perusahaan ini gulung tikar. Tidak akan aku biarkan perusahaan asing itu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Akan aku buat dia menyesal karena telah membangunkan macan yang sedang tidur."


"A--apa rencana tuan sekarang?"


"Bicara secara langsung dengan mereka semua. Kumpulkan semuanya tanpa terkecuali. Katakan kalau aku akan ingin mengadakan rapat besar hari ini juga."


"Ba--baik, Tuan. Akan saya katakan pada sekretaris tuan tentang ini."


"Tidak. Aku ingin kamu sendiri yang turun tangan. Urus semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Aku percayakan semua ini padamu. Jangan kecewakan aku."


"Baiklah, Tuan. Saya akan urus semuanya. Saya janji tidak akan mengecewakan tuan yang sudah memberikan kepercayaan penuh pada saya."


Setelah berucap kata-kata itu, asisten tersebut langsung meninggalkan ruangan papa Dion. Sementara papa Dion yang di tinggalkan, langung memukul meja untuk kembali melampiaskan amarah yang ada dalam hatinya saat ini.


"Dasar kurang ajar! Siapa mereka yang sudah berani menabuh genderang perang padaku? Lihat saja, akan aku buat mereka menyesal karena sudah berurusan dengan aku."

__ADS_1


Papa Dion berusaha menghubungi seseorang. Tapi sayang, tidak kunjung ada jawaban dari orang tersebut. Dia sudah berulang kali menghubungi orang yang sama, tapi hasilnya tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada jawaban sama sekali.


"Dasar biadab semuanya! Satupun tidak bisa aku handal kan untuk menyelesaikan masalah. Di suruh mengawasi keluarga Prayoga saja tidak bisa. Mana dia yang hilang entah ke mana tanpa ada berita.


__ADS_2